Bagaimana rasanya bertahan di tengah hubungan samar antara kekasihmu dan sahabatnya? Di saat kau terluka dengan hubungan ini, kau baru menyadari bahwa kekasihmu juga terluka menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkap pada sahabatnya.
"Seandainya ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Hari ini aku banyak terdiam. Terutama dari rutinitasku sebelumnya yang selalu menghampiri meja William dan membicarakan apa saja yang ada di kepalaku hanya demi mendapatkan perhatiannya. Aku sekilas menatap meja William yang terpaut ujung dan ujung dengan mejaku, ia tampak baik-baik saja dengan suasan sunyi itu, tampak baik-baik saja dengan kenyataan selama seminggu ini aku tidak banyak bicara dengannya bahkan menghindari interaksi apapun. Kupikir William akan sadar dengan perubahan itu, nyatanya ia menikmati hari-hari ketenangan itu.
Ya, benar semenjak kejadian ulang tahun Raya aku menghindari interaksi dengan William. Awalnya aku memang ingin menenangkan diri selama 2 atau 3 hari dan kembali membicarakan hubungan ini setelahnya, tapi aku terpikirkan apa aku mencoba bisu selama seminggu untuk memeriksa apakah William menyadarinya atau tidak. Namun seperti yang kalian lihat ia hidup dengan sangat baik, terlampau baik dengan aku yang mati-matian menahan perasaanku untuk tidak meledak di saat aku begitu terluka melihat kenyataan ia mencintai gadis lain.
Aku sangat mencintainya, tapi apakah harus sesakit ini? Harus berjuang dan menahan perasaan sejauh ini untuk mencintai seseorang? Aku hanya lelah, aku juga ingin bahagia. Haruskah aku menyerah atau memberi kesempatan kedua untuk William?
Saat aku menatap mejanya tiba-tiba sosok William sudah menghilang entah kemana. Aku memutar pandanganku ke seluruh penjuru kelas menilik-nilik apa ia sedang mengobrol dengn orang lain atau duduk sembarang di meja orang lain? Tapi nihil sosoknya tidak kutemukan di seluruh penjuru kelas ini.
"Dimana William?" tanyaku pada Ucup.
"William terus! Bukannya kau biasanya mengintili lelaki itu kemana-mana?"
"Beberapa menit lalu dia disini!" ketusku.
"Mana aku tahu!" jawabnya ikut ketus.
Sial. Aku bertanya pada orang yang salah. Meskipun ucup memang teman sebangkunya dia bukan orang yang tepat sebagai informan, tidak berguna.
"Kau mencari William?" tanya Keisha. Aku mengangguk.
"Ia ke atap."
"Sendiri?" tanyaku. Tapi Keisha hanya mengangkat bahu tidak tahu. Baiklah, ku harap ia memang sendirian di sana karena hal yang akan aku bicarakan dengan William cukup serius. Ya, aku berencana memberinya kesempatan kedua. Aku akan berbicara serius mengenai hubungan ini. Seperti memberi sedikit pengertian bahwa aku cemburu dengan Raya dan berharap ia sudi untuk sedikit menjaga jarak. Aku harus memastikan bahwa aku dan William dalam jalan yang sama.
Aku bergegas menuju atap, membuka pintu perlahan untuk melihat situasi berjaga-jaga jika ada orang lain disana. Saat aku hendak membuka pintu lebih lebar refleks aku menarik pintu menyisakan ruang sedikit untuk mengintip. Gawat, bukan hanya William yang ada disana. Tapi siapa orang itu? Lelaki? Perempuan? Teman? Raya? Jovan? Atau jangan-jangan Kak Vero? Sialnya aku tidak berani membuka pintu lebih lebar karena tentu saja akan menarik perhatian mereka.
"Kenapa kau mengajakku kesini William?!"
Suara itu. R-raya?
Astaga, aku tidak bisa berpikir jernih. Bentar, kenapa William mengajak Raya ke atap hanya berdua? Maksudku William dan Raya bukan tipe orang yang sembunyi-sembunyi karena semua orang sudah tahu mereka bersahabat. Bahkan jika memang seserius itu bukankah mereka bertetangga? Bisa membicarakan hal tersebut di rumah?
Sungguh aku tidak ingin berprasangka buruk tentang mereka tapi kepalaku tengah membisikkan spekulasi-spekulasi aneh yang entah kenapa sangat melukai hatiku. Maksudku, aku baru saja berencana untuk memberi William kesempatan kedua, melupakan semuanya seolah kejadian kemarin dan hari-hari sebelumnya bukan apa-apa. Aku ingin memulai hubungan baru, yang lebih sehat dengan komunikasi yang baik di antara kami berdua. Aku tidak ingin menyerah secepat ini.
"Kau tidak mendengar ucapanku, Raya."
"Perihal Lukas? William kita sudah membahas ini beribu-ribu kali. Kau selalu saja menyamakan Lukas dengan Kak Vero. Mereka berbeda!"
"Ini berbeda," ucap William lirih.
Mendengar suara itu, hatiku mencelos. Aku memang tidak bisa melihat ekspresi mereka saat ini, tapi dari suara lirih William ia seperti memohon dan aku tahu persis permohonan apa. William pasti memohon pada Raya untuk berpisah dengan Lukas karena William pikir lelaki itu sama saja dengan mantan kekasih Raya. Atau semua alasan klasik itu menarik satu kesimpulan bahwa William mencintainya dan terluka melihat Raya mencintai lelaki lain.
Lalu bagaimana denganku, William? Apa kau peduli juga bahwa aku terluka melihatmu mencintai gadis lain? Bahwa aku juga hancur melihatmu sangat menyayanginya?
"Raya kau pikir aku bahagia selama ini?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa membohongi diriku lagi, aku tidak bahagia dengan hubungan ini."
Sesaat tubuhku mematung, terdiam mencerna pengakuan William yang rasanya sulit sekali diterima hatiku. Kepalaku sudah memprediksi kejadian ini secara sempurna tapi kenapa hatiku merasakan sebuah hujaman tajam. Tak sadar cairan bening merembes dari pelupuk mataku. Air mata yang aku tahan mati-matian, akhirnya tidak bisa aku bendung kembali. Terutama di dalam sini, ada yang hancur, ada yang lebur ke tanah.
Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, mengatur napas dan meredam tangis yang jujur sangat sesak. Jadi selama ini William tidak bahagia bersamaku? Hanya aku yang menganggap hubungan ini nyata? Hanya aku yang menganggapnya rumah untuk pulang?
"A-aku tidak mengerti William."
"Setelah semua yang aku lakukan kau masih tidak mengerti maksudku? Apa kau tahu kau juga menyakitiku dengan tanggapan seperti itu?" suara pilu itu terdengar jelas di telingaku, sangat jelas hingga rasanya Raya terlalu polos untuk tidak menyadari perasaan tulus William.
"Aku tidak bahagia seperti yang kau pikirkan, aku terluka karena lelaki tolol ini mengharapkan hubungan yang lebih dari sahabat. Aku tahu itu hal terlarang bagimu. Tapi kau tahu betapa tersiksanya aku harus menjalani ini semua?!"
Benar, seharusnya aku sudah menyadari ini jauh-jauh hari. Di hari pertama kali William menolak mengantarku pulang, di hari dimana ia lebih senang menghabiskan waktu dengan Raya, di hari dimana ia lebih terluka saat Raya terluka, di hari dimana ia khawatir saat Raya tidak ada dalam pandangannya. Seharusnya aku tahu saat itu juga bahwa hatinya sudah tidak berlabuh padaku. Dunianya tidak lagi berpusat padaku, dan bahagianya tidak ada padaku.
Kini aku tau, bahwa lekaki yang selama ini kuanggap tidak memiliki emosi dan tidak pernah merasa tertekan. Punya luka yang menumpuk di dalam hatinya, luka yang bertahun-tahun ia tahan hanya untuk melihat senyum bangga seorang sahabatnya—Soraya. Ia rela melakukan semua sandiwara ini hanya untuk Raya. Membanggakan Raya.
Aku memutuskan untuk pergi dari sini. Hatiku lebih penting dari rasa penasaran yang mendominan di kepalaku. Meski banyak pertanyaan yang sangat ingin aku tahu, tetap bukan menjadi suatu alasan untuk tetap melukai diri sendiri. Apalagi dengan kalimat selanjutnya yang menegaskan bahwa William sangat mencintainya lebih dari dia mencintai dirinya sendiri.
Andai saja ia tahu, aku juga mencintainya lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Andai saja ia tahu, aku juga menganggapnya seperti semesta, aku menganggapnya rumah untuk pulang.