reason 19

40 2 0
                                        

—————

Ulang Tahun

—————

—————

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

Kuakui aku memang sebodoh itu untuk memaafkan kesalahan orang lain hanya dengan waktu semalam. Aku tahu persis jawabannya saat itu, tidak jauh berbeda dengan apa yang William lakukan beberapa minggu ke belakang. Ia akan memprioritaskan Raya, ia lebih memilih mengantar Raya daripada aku, meski kupikir aku menghubunginya lebih dulu dan ia menjawab dengan lantang bahwa ia malas mengantarku pulang. Tapi saat aku menyebut Raya bersamaku ia langsung meluncur, seolah-olah khawatir di jam 9 malam Raya masih berkeliaran di luar. Ya, Raya yang dia khawatirkan, bukan aku.

Tapi pagi tadi saat William mengirim pesan padaku untuk datang ke Kafe Muji di jam 2 siang dengan sekali tarikan napas aku langsung memaafkannya saat itu juga. Langsung melupakan apa yang ia lakukan semalam padaku, meninggalkanku, mencampakkanku di tengah hujan dengan alasan yang tak pernah berubah sejak dulu. Rumahku berlawanan arah dengan rumahnya. Kupikir sebuah alasan yang lebih dapat diterima adalah aku lebih peduli Raya daripada kau. Karena itu lebih masuk akal.

Bodoh? Ya, benar aku sebodoh itu. Memilih merepotkan diri di saat William menjanjikan kencan di jam 2 siang. Maksudku, guys ini musim panas. Kesetanan apa dia pagi itu mengajakku ke kafe di jam 2 siang? Tapi kau tahu apa? Sekali lagi—dengan bodohnya—aku menyetujui itu. Aku ingin berhenti tapi aku terlalu mencintainya, terlampau menyayanginya, dan terlanjur menganggapnya semesta.

"Haura?!"

Aku tersentak saat menemukan Jovan tahu-tahu sudah berada di hadapanku yang tengah melamun berdiri di depan Kafe Muji menunggu William. Tampaknya Jovan tidak heran dengan kedatanganku. Ia justru ikut menyender pada tembok kafe dengan gelagat seperti menunggu orang—juga.

"Jovan? Kenapa kau disini?"

"Kenapa? Kau tidak suka?" tanyanya yang selalu saja memicuku untuk menjambak rambutnya. Lihatlah wajah menyebalkan itu rasanya ingin kucakar juga hingga tergores dan berdarah-darah. Sialnya aku terlalu baik jadi tidak kulakukan.

"Maksudku ini jam 2 siang, kenapa kau ke pusat kota siang-siang?" responku mencoba sabar.

"Suka-suka!" ada benarnya aku tutup mulut saja. Tidak berguna berbicara dengan spesies bekantan macam Jovan. Aku juga tidak peduli kenapa lelaki itu justru berdiri di sampingku dan memaikan ponsel alih-alih pergi menemui urusannya. Apa ia ada janji di Kafe Muji juga?

"Haura, Jovan!"

Lagi-lagi aku bingung melihat kedatangan seseorang yang familiar selain Jovan. Dhania, Meline, Keisha? Astaga kenapa orang-orang sibuk sekali di hari sabtu? Harusnya mereka bermalas-malasan seharian saja di rumah.

"Oh, hai kalian!" sapaku seadanya. Masih mencoba berpikir apa mereka dikirim Tuhan untuk menghancurkan agenda kencanku dengan William?

"Kalian datang awal sekali?" tanya Keisha. Sungguh tidak ada hal lain yanga kupikirkan selain sikap mereka yang membingungkan. Apa katanya? Kenapa kami datang awal sekali? Memangnya aku, Jovan dan mereka punya rencana yang sama?

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang