"its like broken rib, nobody can see it. but it hurts everytime you breathe"
———
Pak Asep baru saja keluar kelas, meninggalkan beban tugas remedial yang baru setelah tugas kelompok sebelumnya (bagian dari ujian praktek) baru saja selesai dan dipresentasikan. Jovan yang sekelompok dengan Haura tidak langsung beranjak menuju kursinya. Ia masih berkutat dengan catatannya, semangat sekali membahas tugas remedial yang baru itu meski tenggat waktunya masih 5 hari lagi.
"Kita baru saja selesai presentasi, tidak bisakah kau membiarkanku istirahat sejenak?" gertak Haura.
"Aku hanya membahas konsepnya! Kau dulu mengancamku untuk menjadi teman kelompokmu, sekarang aku sudah menjadi teman kelompokmu bisa-bisanya kau protes? Ini juga gara-gara kau, kita remedial!" Haura cemberut, harusnya ia sudah tahu risiko satu kelompok dengan orang ambisius. Kenapa juga ia memaksa Jovan kala itu. Bahkan sampai mengancamnya, sekarang ia yang menyesal.
Saat Jovan hendak melanjutkan pembahasannya mengenai konsep tugas baru itu tiba-tiba agam menghampiri keduanya. Duduk di salah satu bangku yang dekat dan berbisik.
"Kau putus dengan William?" bisik Agam nyaris pelan. Kompak Haura dan Jovan menghentikkan aktivitasnya, mata mereka bergerak lambat saling menatap satu sama lain, terkejut. Haura menelan ludah kasar.
"I-itu rumor! Siapa yang menyebarkannya?"
"William sendiri."
Untuk kedua kalinya Jovan dan Haura saling berpandangan lagi, namun sinyal matanya berbeda kali ini. Sebelumnya mereka kebingungan setengah mati namun sekarang memasang wajah kerung satu sama lain. Mata keduanya seperti berbicara satu sama lain.
'Bukankah dia yang bilang tidak boleh putus sampe kau menemukan alasannya?'
'Makannya! Aneh kan?'
"William bilang apa padamu?" tanya Haura lagi.
"Tadi aku iseng mengajak William ke warnet pulang sekolah. Kupikir ia akan menolak ternyata ia menyetujuinya. Aku bertanya dong memangnya Haura tidak marah? Ia bilang sudah putus."
"O-oh itu—"
"APA?! KALIAN PUTUS?!"
Belum sempat Haura merespon ucapan Agam, Meline yang tahu-tahu sudah menyelip di belakang Agam memotong ucapannya. Menarik perhatian seisi kelas termasuk William yang duduk di ujung sana. Sebagian tidak peduli dan kembali melanjutkan aktivitas. Tapi Ucup, Keisha, Dhania, Raya menggeromboli kami menagih klarifikasi.
"Kalian putus?"
"Serius kau dan William putus?"
"Haura kau bercanda kan?"
"Tidak mungkin, kau pasti bohong."
Pertanyaan bertubi-tubi dari teman mereka membebani Haura. Haura menatap gugup bergantian mata temannya yang menuntut jawaban itu. Ia belum memikirkan alasan yang matang dan tak mungkin ia mengatakan asal apa alasannya putus dengan William, kan?
"Ya aku dan Haura putus," saut seseorang di ujung sana. Siapa lagi, tentu saja William.
"Kupikir kalian baik-baik saja," respon Raya.
"Mana mungkin, kau ini terobsesi dengan William sampai bertanya 9 kali dimana keberadaan William." celetuk Ucup lagi yang jika dipikir-pikir itu benar sekaligus janggal karena Haura yang memborbardir siapapun dengan pertanyaan 'dimana William' kini adalah pihak yang menghendaki putus. Benar seharusnya kalian curiga ini permainan William! Ingin sekali Haura menyanggah seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Novela JuvenilBagaimana rasanya bertahan di tengah hubungan samar antara kekasihmu dan sahabatnya? Di saat kau terluka dengan hubungan ini, kau baru menyadari bahwa kekasihmu juga terluka menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkap pada sahabatnya. "Seandainya ka...
