Bagaimana rasanya bertahan di tengah hubungan samar antara kekasihmu dan sahabatnya? Di saat kau terluka dengan hubungan ini, kau baru menyadari bahwa kekasihmu juga terluka menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkap pada sahabatnya.
"Seandainya ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
"Bagaimana? Lukas bisa menjemputmu?" tanyaku di saat Raya menghela napas setelah mengakhiri telepon dengan kekasih barunya itu. Aku tidak ingin berspekulasi aneh-aneh tentang Lukas yang bisa jadi tidak jauh berbeda dengan mantan Raya sebelumnya—Kak Vero. Tapi aku tidak melihat Lukas sebrengsek itu jadi kupikir kekasih Raya yang satu ini masih masuk akal.
"Lalu bagaimana? Aku tidak berani naik ojek online malam-malam. Kau tahukan kemarin sempat viral penculikan penumpang karena ternyata bukan driver asli?" benar, aku bisa mengerti kenapa Raya setrauma itu karena ia bilang ia hampir di bawa kabur supir angkot saat masih SMP. Aku tidak bisa menghakimi rasa traumanya.
"Apa mau kuhubungi William?"
"Bukankah kau harusnya menghubunginya untuk mengantarmu pulang?" diam-diam aku tersenyum pahit. Benar juga, tapi kau tau Raya? Kupikir dia akan lebih memprioritaskan dirimu daripada kekasihnya sendiri.
"Oh baiklah," hanya itu respon yang kulakukan karena aku yakin mau bagaimanapun aku meyakinkan Raya sepertinya Raya cukup polos untuk menyadari Williami menaruh hati padanya.
Aku menekan tombol panggilan pada kontak William menaruh ponsel pada telingaku dengan segudang kekhawatiran asumsiku benar. Aku tau itu aneh, tapi aku ingin asumsiku salah bahwa William hanya akan peduli pada Raya, aku ingin saat telepon ini terangkat ia mengkhawatirkanku, ia bertanya aku dimana, apa yang kulakukan hingga pulang larut malam begini dan berkata akan menjemputku. Tapi kupikir ku harus berhenti mengharapkan terlalu tinggi pada William. Benar, kan?
Beberapa detik kemudian telepon terangkat, menampilkan suara William yang parau dan setengah sadar. Aku tidak perlu mengonfirmasi lagi, jelas aku mengganggu tidurnya, tapi rasanya sia-sia jika aku sudah menelepon dan tidak meminta maksudku menghubunginya di jam 10 malam ini. Setidaknya jika ia menolak permintaanku, ia tidak akan menolak untuk menjemput Raya. Jadi mengusik William di tengah tidurnya bukan ide yang buruk juga.
"Kau sedang istirahat?"
"Kau pikir apalagi?"
Aku menarik napas panjang mencoba mengumpulkan keberanian untuk berkata bahwa aku minta dijemput—meski bisa saja aku mengatakan Raya butuh jemputan dan tentu William tidak akan marah. Tapi tidak masalah jika aku mencoba, bukan?
"Bisakah kau menjemputku di perpustakaan pusat?" ucapku nyaris pelan, tapi aku yakin William bisa mendengarnya.
"Haura, ini jam 10."
"Oh, kau tidak bisa ya?"
"Naik taksi atau ojek online saja."
Tentu, jawaban template yang tak pernah berubah sejak beberapa minggu lalu ketika aku minta jemputan. Cukup terbiasa mendengar jawaban itu, tapi entah kenapa rasa sakitnya tetap ada. Rasa kecewa itu selalu menghantuiku setiap ia menolak dengan alasan apapun.
"Kalau begitu, bisakah kau menjemput Raya?"
"Raya?"
"Ia disini bersamaku, Lukas tidak kunjung mengangkat teleponnya dan kau tahu Raya enggan naik ojek online."
Jauh di lubuk hatiku, aku berharap William memberikan respon yang sama. Berkata bahwa ia tidak bisa menjemput Raya karena ini sudah jam tidurnya, persis seperti yang ia katakan saat secara tidak langsung pertanyaannya menyalahkanku bagaimana bisa aku memintanya menjemputku di jam 10 malam?
Tapi kau tahu apa jawabannya?
"Yasudah, bilang pada Raya tunggu aku. "
Diam-diam aku tertawa pahit sambil memutuskan telepon. Kecewa pada ekspektasi yang sebenarnya sudah aku duga sebelumnya, tapi ternyata sesaknya tetap terasa nyata. Untungnya Raya fokus pada ponselnya sehingga aku tidak perlu mengklarifikasi kenapa mataku berkaca-kaca di tengah cuaca dingin malam itu.
"Raya."
"Ya?"
"William akan menjemputmu, tunggu sekitar 15 menit."
Wajahnya tampak sumringah, dan aku mulai merasa aku terlalu naif jika membenci orang setulus Raya hanya karena William yang teramat brengsek mempermainkanku. Akhirnya aku memendam beribu makian yang tadinya berencana aku lemparkan pada Raya.
"Lalu bagaimana dengan kau?"
"Aku dijemput ayahku," jawabku seadanya, tidak mau mempeributkan karena aku yakin Raya akan mengalah dan berakhir William yang jengkel padaku lalu memberikan silent treatmen selama seminggu.
Beberapa menit berlalu William akhirnya datang dengan motor scoopy hitamnya dengan dua helm yang sangat serasi. Helm yang dulunya ia kenakan di kepalaku, kini dikenakan gadis lain—ralat sahabatnya. Sementara aku harus memaksakan diriku baik-baik saja dan berpikir bahwa itu hanya bentuk kasih sayang sahabat. Benar, kan? Itu yang aku lakukan setiap hari.
"Haura aku duluan yaaa. Kabari jika sudah sampai!" Raya tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya padaku. Sementara William hanya berucap singkat 'hati-hati.' Sambil sibuk mengurusi helm Raya. Baiklah, ku apresiasi setidaknya ia mengucapkan hati-hati pada kekasihnya yang entah ia anggap kekasih atau bukan.
"Hati-hati Raya!" ucapku sengaja hanya menyebut nama Raya meski aku tahu jikapun William sadar ia tidak peduli jika namanya tidak dipanggil.
Mereka berdua sudah mulai menjauh dan hilang di balik persimpangan. Aku menghela napas panjang berpikir bagaimana aku pulang karena tidak mungkin mengganggu ayahku di jam 10 malam, yang ada aku dihukum karena pulang larut malam. Tentu saja ini tanpa persetujuannya.
Akhirnya aku memutuskan untuk memesan taksi atau ojek online. Cukup lama berkutat melihat layar ponsel satu pesan masuk dari William mengalihkan perhatianku. Sejenak aku tutup tab pemesanan ojek online dan membuka pesan William.
William : lain kali jangan mengajak Raya pergi hingga larut malam!
Aku tersenyum getir menatap pesan itu. Betul, apa yang aku harapkan? Ia akan lebih memperdulikan Raya bukan?