cherish you

63 2 0
                                        

"if it hurts you so much, can i take that pain instead?"

——————

"Aku tidak makan."

Kruyuukk...

Haura dan William bertatapan canggung—yang tidak berlangsnug lama karena setelah bunyi nyaring itu terlantun William mengalihkan pandangan lebih dulu. Haura hanya berdecak tidak percaya William masih mempertahankan gengsinya dibandingkan perutnya yang sudah meronta perih dan kesakitan itu.

"Aku tahu kau lapar."

"Tidak."

Sampai kapan Haura dan William berputar-putar dalam percakapan yang sama. Tidak ada habis-habisnya. Haura yang selalu memaksa William makan dan Laki-laki itu dengan gengsinya yang selalu menolak. Sampai kapan Haura disini? Ia sudah melewatkan acaranya dengan Jovan, apa ia harus melewatkan satu malam juga?

"Sudah kubilang aku meminjamnya. Besok kau ganti uangnya. Kecuali kue ulang tahun itu."

William hanya menatap datar tidak peduli, ia bangkit, meregangkan badannya yang sudah duduk kurang lebih satu jam hanya untuk berdebat tentang Haura. Langkahnya berjalan hendak melangkah pergi.

"Duduk atau kulaporkan pada Raya bahwa kau tidak pernah mengantarku pulang. Foto buktinya juga palsu, aku punya behind the scene nya bersama kakakku."

Haura tersenyum licik. Berhasil, William berhenti di ujung tangga belum menyentuh aspal jalan.

"Kau mengancamku?"

Pertama kali Haura merasa begitu bangga bisa mengendalikan William dengan ancaman seperti ini. Eksistensi Raya memang kadang berguna untuk mengontrol William. Ia berdehem, membenarkan posisi duduknya dan melempar tatapan intimidasi.

"Wah, lancang sekali. Itu namanya negosiasi, William."

"Omong kosong."

"Jika kau tidak mau penawaran itu yasudah, aku bisa membatalkannya. Lagian perjanjian awalnya aku akan memberi foto itu jika kau meminta maaf kepada Lukas. Tapi apa? Kau bahkan tidak meminta maaf, kan? Seharusnya penawaran itu hangus, tapi aku masih berbaik hati mengirimnya kemarin-kemarin. Bagaimana? Mau tetap duduk dan makan? Atau aku hubungi Raya sekarang?"

William mengeraskan rahangnya, kesal dengan Haura yang jujur berhasil menundukkannya saat ini. William bisa saja menyangkal denga kenyataan bahwa ia sudah minta maaf pada Lukas dengan tulus—catat, sangat tulus, tanpa paksaan. Tapi mengakuinya di depan Haura sedikit memalukan. Jadi ia memutuskan untuk diam.

Akhirnya William duduk di tempatnya semula, melipat tangan, bersikap tidak kooperatif dengan wajah angkuh itu. "Harus berapa lama aku duduk disini?"

"Aku tidak bilang kau hanya duduk. Kau juga harus memakan makananmu," William, menyipit kesal dengan respon Haura.

"Kubilang aku tidak lapar."

"Sampai kapan William? Sampai kapan kau mempertahankan gengsi ini? Sudah sejak 40 menit yang lalu pembahasan kita hanya berputar soal aku menyuruhmu makan dan kau yang terus-terusan menolak. Tidakkah kau lelah? Tidakkah kau ingin pulang, beristirahat? Aku bukan pengangguran William, urusanku masih banyak dari hanya sekedar duduk disini menunggumu makan."

"Kenapa kau melempar kesalahan padaku. Jika kau sesibuk itu pulanglah. Apa aku memaksamu tinggal disini? Kenapa capek-capek menungguku makan? Kau ibuku?!"

Haura mengacak-acak rambutnya frustasi, "Kau masih tidak mengerti?"

"Aku mengerti. Aku tidak akan sakit dan bolos latihan karena aku pemeran utama. Aku bisa pulang sehabis ini dan makan di rumah. Pakai acara mengancamku kepada Raya segala. Kau justru mempersulit dengan menahanku disini."

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang