Final;2

283 17 0
                                        

Bandara Incheon, Korea selatan.

Jungkook melihat Jungwon yang sedang menunggu-nya, dan hampir saja Jungkook melambaikan tangan lalu berteriak memanggil Jungwon. Tapi aksinya terhenti ketika merasakan ada benda runcing mengarah pada pinggang-nya, bahkan jika benda itu sedikit ditekan ujungnya maka Jungkook akan merasakan rasa perih pada pinggang kirinya. Dan sudah dipastikan darah segar akan mengucur dari tubuhnya.

Jungkook menyumpah serapahi dalam batin dua orang bertubuh tinggi dan tegap, yang menggunakan topi hitam juga pakaian yang memiliki warna yang senada. Lalu menutup wajah mereka dengan masker. Dua orang sialan yang kini perlahan menuntun langkahnya menuju pintu ke luar dan sudah ada mobil yang disiapkan untuk membawanya pergi.

Keberadaan Jungwon pun sudah diketahui oleh dua orang itu tentunya, dan oleh sebab itu mereka mengambil sisi jalan yang berbeda dari di mana Jungwon sedang menunggu Jungkook.

Dan Jungwon pun masih tetap menunggu kedatangan boss nya dari China sampai 30 menit terlewat dari jadwal kedatangan yang seharusnya. Menyadari jika bossnys tak kunjung terlihat juga, Jungwon segera menekan tombol yang terselip di lubang telinganya.

"Sesuai rencana." Jungwon mengabarkan situasinya.

"Siap melanjutkan rencana berikutnya." Sambung dari orang di sebrang.

.

.

Jungkook dibawa ke sebuah bangunan kosong yang mirip seperti gudang terbengkalai. Bau amis menyeruak di indera penciumannya ketika tubuhnya diseret paksa masuk, Jungkook rasa ini adalah ruangan eksekusi dengan banyaknya benda-benda yang sering digunakan para psikopat menggantung mengerikan di sisi dindingnya.

Jungkook ingin muntah sebenarnya, apalagi saat retina matanya melihat satu jari putus entah milik siapa berada di sudut ruangan. Dan Jungkook tak ingin merasakan hal yang sama, setidaknya dia masih butuh jarinya untuk ah~ kalian tak perlu tau.

Jungkook ditarik ke arah tiang yang bersisian dengan tombak melintang. Badannya diangkat dengan mudahnya, lalu tangannya digantung dan di ikat ke atas, membuat kakinya sedikit menggantung dan tak begitu menyentuh tanah. Memaksa pergelangan tangannya menahan tubuh bongsornya itu jelas sangat sakit jika kau mengalaminya langsung.

Jungkook menggeram dan terus menyeringai ke arah dua orang yang membawanya tadi, menatap nyalang seolah tak takut jika ia bisa saja mati di sini sekarang juga. Jungkook tak boleh menyenangkan hati musuhnya dengan kesakitan yang ia rasakan.

Salah satu dari orang yang membawanya tadi membuka maskernya dan memperlihatkan wajah yang tak asing untuk Jungkook kenali.

"Ternyata keponakanku yang satu ini tidak bisadi remehkan." Dengan senyum meledek dibumbui seringai bangsatnya. Lelaki satunya mendekatinya dengan tangan yangmengepal.

Paman brengsek!!!

Zhang Dohyun saudara dari Zhang Kijoon yang sudah menghilang selama lima tahun setelah menggelapkan uang dari Zhang group. Kini tiba-tiba muncul di tengah masalah yang sedang mencuat sekarang.

Entah ada dipihak mana sekarang Zhang Dohyun berada, Jungkook tidak perduli dan malah Jungkook merasa lucu sekali. Membuatnya terus tertawa nyaring dan membuat orang yang masih menggunakan masker itu merasa geram dan memukul Jungkook telak di bagian pinggangnya yang tadi sedikit tertusuk pisau saat di bandara.

Membuat Jungkook kembali meringis namun dengan tatapan mata yang tetap menyalang ia membalas hanya dengan smirk yang membuat Zhang Dohyun sedikit merinding. Dia tau, Jungkook bukan orang yang mudah ia kalahkan walaupun posisi yang sangat tidak menguntungkan seperti ini tapi Dohyun tahu jika kali ini lawannya adalah orang tangguh.

“Ah~ Jungkook-ssi, sepertinya aku tau kelemahanmu.”

Jungkook mendelik mendengar orang yang masih kerabat dekat dengannya itu mengatakan tentang kelemahannya.

“Cinta membuat kita kuat, tapi terkadang akan membuat kita lemah”

Jungkook tidak bodoh untuk segera paham dengan apa yang dimaksud oleh lelaki yang kali ini membalasnya dengan seringai bak hewan yang berada di rantai teratas. Dia hanya memejamkan matanya, berharap Taehyungnya akan baik-baik saja di sana.

PART 2

Taehyung masih terjebak di coffee shop sendirian, dengan setumpuk pekerjaan. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, dan Taehyung masih berkutat dengan pembukuan akhir tahun terkait ke luar masuknya dana di coffee shop-nya selama setahun ini. Dia tidak menjalankan usaha coffee shop nya itu sendiri, ada Sarah dan juga Rachel. Jadi pembagian harus jelas.

Sarah sendiri sudah pulang lebih dulu setelah menawarkan dirinya untuk menjaga Sohyun dan Yoojung di apartment nya. Yang kalau sudah begitu berarti Yeonjun dan Soobin pun sudah pasti ikut karena Sohyun dan Yoojung hanya mau mendengarkan kata-kata dua namja manis itu. Untuk keberadaan dua bocah manis itu yang kini berpindah dari rumah Jungkook ke apartement Taehyung, itupun sudah sesuai perintah dari Jungkook. Taehyung tak punya alasan untuk menolaknya, apalagi meminta penjelasan yang lebih rinci. Bukan baru kemarin sore Taehyung mengenal Jungkook, dan harusnya sampai di sini Taehyung sudah paham, jika Jungkook adalah pria yang rumit.

Sebelum Jungkook pergi, Sarah sudah diberitahu garis besar tentang apa yang sedang Jungkook hadapi sekarang dan memohon untuk merahasiakannya dulu dari Taehyung.

Gadis itu, Sarah ke luar dari coffee shop menuju tempat parkir, meninggalkan Taehyung sendirian di dalam sana,  dan sebisa mungkin Sarah mencoba untuk tidak terkejut dengan sosok yang nampaknya menunggu kedatangannya.
Namun Sarah tetap gagal. Kini matanya membola dengan mulut yang terbuka lebar. Tidak elit sama sekali.

"Kami dari team Omega, ditugaskan oleh tuan Jeon jungkook untuk mengawal kalian"

Akexa yang dikenal Sarah beberapa waktu lalu sebagai pelanggan baru di coffee shop nya. Sekarang berdiri tegap di depannya bersama Renatta juga pastinya. Dengan balutan setelan warna hitam ketat, berbahan kulit dan jangan lupakan sepatu boot nya yang sukses mengantarkan imajinasi Sarah pada drama-drama tentang mafia. Keren dan menakutkan disaat bersamaan.

Yang memang pada kenyataanya mereka adalah bodyguard yang diperkerjakan Jungkook untuk melindungi Sohyun dan Yoojung keponakannya. Pantas saja akhir-akhir ini mereka sering mampir ke coffee shop, karena Sohyun dan Yoojung lebih banyak menghabiskan waktunya berada di sana.

Suasana pun seketika hening di dalam mobil van yang Sarah tumpangi. Hanya sesekali terdengar celotehan Sohyun dan Yoojung yang duduk di jok belakang bersama Yeonjun dan Soobin. Tak perduli fakta bahwa Sarah dalam keadaan yang jauh dari kata bahagia. Gugup lebih mendominasi.

Sarah terus memandang acak ke luar jendela mobil masih tak percaya kalau alur cerita tiba-tiba bisa berubah drastis seperti ini. Mendadak, Sarah rindu bangku sekolahnya. Rindu pada masa-masa pubertasnya menyerang. Rindu akan kegilaannya yang sempat tergila-gila dengan sosok seorang Jeon Jungkook. Sosok pemuda tenang yang nyatanya menyimpan sejuta rahasia dalam hidupnya.

.

.

.

Taehyung merenggangkan badannya, dan ini sudah pukul sebelas malam. Pembukuannya sudah selesai. Dia menarik lacinya dan mengeluarkan sesuatu di sana. Foto Jungkook. Menatap miris sosok yang tengah tersenyum dengan gigi kelinci, dia merindukan lelaki tampan itu.

Lelaki yang sudah mengambil seluruh ruang di hatinya, bahkan tak menyisakan celah sedikitpun untuk cinta yang lain. Hari-harinya tanpa Jungkook dilalui dengan biasa bahkan terkesan hambar dan monoton, berbeda jika bersama jungkook dulu. Lelaki itu mampu membuat hati Taehyung seperti Roller Coaster. Tapi disitulah letak seninya kan?

“Apa kau baik-baik saja, Jungkook?” Lirihnya, dia mengecup permukaan datar lembar itu. “Aku rindu” Batinnya sambil mengusap cincin yang berada di jari manisnya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

D.O.P [[ KookV ]]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang