Final;8

105 13 4
                                        

Taehyung terbangun saat Jungkook sengaja mengecup banyak-banyak seluruh permukaan wajahnya. Dia bahkan baru tertidur tiga jam yang lalu dan kekasihnya sudah mengganggu pagi indahnya.

“Bangun sayang, apa kau ingin melewatkan sunrise pagi ini?”

Taehyung terbangun cepat walau sedikit limbung, dia ingat tadi malam sebelum tidur minta dibangunkan pagi untuk melihat sunrise. Mereka sedang menginap di salah satu resort yang berjajar di sepanjang area Reed Flute Cave. Memilih resort besar bertingkat dan paling dekat dengan pagoda yang memancarkan warna indah tadi malam.

Jungkook menggendong kekasihnya ala koala ke arah balkon dan membukanya. Indah dan memanjakan mata. Sunrise sudah muncul, memberikan warna yang semakin mempercantik sungai yang berwarna asli biru kehijauan. Gunung-gunung kokoh ikut memperindah keadaan pagi ini.

Taehyung mengeratkan pelukannya, dengan mata yang masih setia memandang pemandangan yang sangat memanjakan netra hazelnya.

“Ini sangat indah, Jungkook”

“Seperti dirimu” bisik Jungkook, dia mencium surai kekasihnya yang masih sewangi tadi malam.

“Rasanya aku ingin tinggal di sini saja”

“Kalau kau ingin, aku akan membeli villa disini sebagai hadiah pernikahan kita nanti” Kata Jungkook enteng.

Mata Taehyung berbinar.

“Benarkah? Kau akan membeli villa di sini untukku?” Tanyanya antusias. Jungkook mengangguk.

“Jika kau ingin, Taehyung. Selama itu masih bisa di jangkau olehku, apapun permintaanmu akan aku kabulkan” Janji sang dominan, Taehyung tersenyum sumringah dan langsung menghujani wajah kekasihnya dengan kecupan-kecupan bahagia.

Jungkook tak bohong, sebenarnya dia memang berniat membeli satu atau dua property di China. Dan ketika kekasihnya menginginkannya juga, dia akan mengabulkannya. Toh dia sudah mulai menelusuri agen-agen property daerah sini melalui bantuan appa nya.

Dia sudah berniat, semua property miliknya nanti akan berpindah nama menjadi milik Taehyung ketika kekasihnya itu resmi menjadi miliknya di mata tuhan dan negara. Anggaplah Jungkook sudah menjadi budak cintanya Taehyung. Tak masalah. Dia hanya ingin Taehyung-nya nanti hidup berkecukupan.

Puas memandang sunrise pagi, Taehyung dan Jungkook bergelung lagi di ranjang. Melanjutkan tidur mereka yang masih jauh dari kata cukup dengan udara segar yang masuk melalui jendela.
.

.

.

.

“Jadi kau yang bernama Taehyung, calon menantuku?”

Suara lelaki paruh baya, menyambut kedatangan ke empatnya di mansion miliknya. Jungkook, Taehyung, Sohyun dan Yoojung datang berkunjung. Kedua anak kecil itu sudah hilang lebih dulu, dibawa eomma Jeon ke taman belakang.

Taehyung mengangguk menyertai dengan senyuman yang dia pasang semanis mungkin di depan calon mertuanya. Appa dari Jungkook, kekasihnya.

“Apa kau yakin menerima Jungkook dengan sepenuh hati? Dia itu banyak makannya, manja, suka bangun siang, suka taruh handuk sembarangan dan jangan lupakan kalau makan suka blepotan”

Jungkook terperangah, terkejut lebih tepatnya. Bagaimana bisa appa memberi tau semua aibnya di rumah selama ini, pada calon menantunya pula. Taehyung tertawa getir, bingung mau menanggapi apa. Sepertinya appa Jeon belum tau saja kelakuan calon menantunya yang kadang berada di luar galaxi.

“Kau terlalu sempurna untuk lelaki bobrok sepertinya, Taehyungie” kata Appa Jeon lagi.

Kalau tak ingat dia adalah orangtua kandungnya, mungkin sudah Jungkook piting leher lelaki tua itu. Tapi dia menahan hasrat menyakiti appa-nya sendiri, takut durhaka.

D.O.P [[ KookV ]]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang