28

185 12 0
                                        

Utamakan vote sebelum membaca🤗

"Reano sakit, hati aku sakit. Aku harus bagaimana rasanya bernafas saja sulit, seperti ada ribuan jarum yang menusuk" Dara memukul dada nya kencang berharap rasa sakit nya itu akan hilang. Namun semakin dia berusaha rasa sakit itu semakin membuat nya tidak bisa menahan air mata.

••••••••••

Mata lelah Reano menatap Renaldi yang berdiri di samping nya, seulas senyum Reano perlihatkan pada kakak nya itu, Renaldi yang datang menghampiri langsung duduk di kursi yang tersedia di sisi brankar. Dia hanya diam menatap tenang wajah pucat adik nya.

"Kamu benar-benar marah sama papa?" Tanya Renaldi, dia memegang tangan Reano "Kaka tahu, gapapa kamu marah itu hal wajar. Tapi jangan lama-lama ya marah nya, katanya mau di peluk papa"

Reano hanya mengangguk paham saja, di antara kedua nya hanya ada keheningan, canggung sekali, Renaldi berdiri lalu mengusap lembut rambut hitam yang sudah mulai rontok itu. Renaldi hanya bisa tersenyum sedih tahu kondisi adik nya.

"Ya udah, Kaka keluar dulu kaya nya gadis cantik kamu itu udah nunggu dari tadi" Renaldi berjalan meninggalkan Reano sendiri.

•••••••••

"kamu tahu?, maaf" Reano hanya bisa berkata seperti itu dia menatap lamat wajah Dara yang sangat sayu, mata bengkak dan wajah lelah nya itu sudah tergambar bagaimana kecewa dan sakit nya hati Dara.

"Dara?" Ingin meraih tangan Dara, Reano namun gadis itu sedikit menepis nya membuat Reano menghentikan tangan nya.

"Reano?" Dara menatap datar bukan tanpa alasan "kamu tahu, seberapa sakit nya hati aku, kenapa kamu ga kasi tau aku dari awal, harus nya kamu kasi tau aku kan, seenggaknya saat kamu kesakitan, saat kamu butuh seseorang aku bisa langsung datang buat bantu kamu" Dara masih menahan air mata nya.

"Kamu bisa panggil aku kapan aja, kamu bisa telfon aku kapan aja, ga gini Reano kenapa aku harus tahu ini semua dari orang lain bukan kamu, aku seburuk itu ya sampai kamu ga percaya sama aku?" Hancur sudah pertahanan Dara gadis itu menangis sesenggukan dengan kepala yang tertunduk.

"Aku takut kamu hancur Dara" Reano turun dari bangsal nya, dia berlutut menatap Dara dari bawah, menggenggam erat tangan Dara Reano mengusap air mata yang terus turun begitu bebas nya.

"Tapi meski aku ga kasi tau kamu, ternyata kamu tahu semua nya, maaf udah buat kamu sakit hati, maaf udah buat kamu kecewa, aku lakuin ini semua karena aku takut kamu pergi karena tahu kalau aku penyakitan apalagi sudah sangat mustahil untuk di sembuh kan, aku benar-benar minta maaf Dara" Reano menatap lamat wajah Dara. Gadis itu menangkup pipi tirus Reano, dia ikut terduduk di bawah.

"Aku minta maaf ya?" Lagi wajah memohon terlihat dari raut wajah Reano, banyak sekali luka yang terlihat dari balik mata teduh itu.

Dara memeluk Reano, dia menepuk-nepuk lembut punggung Reano, hatinya lagi kembali sakit, sesekali mengusap air mata yang tak henti nya itu.

"Dara aku takut, dulu aku sudah siap dengan segala hal yang akan terjadi di hidup ku, karena memang tidak ada harapan sedikit pun, tapi sekarang aku takut, aku takut dengan kematian ku, di saat keinginan ku sudah mulai terkabul aku takut malah meninggalkan nya Dara, kematian yang terus menghantuiku benar-benar membuat ku takut akan kehilangan segala nya" Dara merasa bahu nya basah dia juga mendengar isakan menyakitkan itu.

"Stop Reano, sekarang kamu fokus sama kesembuhan kamu, aku yakin kamu pasti sembuh semua nya bakal baik-baik aja, kita nikmati semua nya lagi ya, kita pergi lagi ke danau, bertemu Bima, mendapatkan banyak perhatian dari teman-teman dan terpenting perhatian yang selama ini kamu inginkan dari mama dan papa kamu kan, ayo sembuh aku yakin Tuhan itu baik, kamu pasti sembuh" Dara memberikan usapan lembut itu agar Reano lebih tenang

REANO ERLANGGA: and the wound Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang