Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

26. Cantik Banget

280 23 11
                                        

“Loh, Vis, ngapain di sini? Kamu bolos, ya?” tuding Agam ketika melihat adiknya sedang berjalan di koridor fakultas ilmu komunikasi.

Keenam pemuda yang hendak berjalan memasuki kantin, serempak mengalihkan pandangan kepada asal suara.

“Nggak, bolos, kok. Ini mau nemenin mereka liat cewek cantik,” balas Jarvis pada abangnya dan sambil melirik Dimas, serta temannya yang lain.

“Cewek cantik?” beo Agam merasa aneh dengan tujuan teman adiknya.

Ansel menepuk pelan pundak Jarvis guna menegur dia karena memberi jawaban yang tidak elok pada abangnya. “Lo ngomong apaan, sih?”

Jarvis terkekeh pelan melihat wajah temannya yang seperti sedang ketangkap basah.

“Jadi, kalian ke sini hanya untuk ngeliat cewek cantik?” Agam menaikkan alisnya bertanya.

Kemudian Dimas dan kawan-kawan menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Mereka mengiyakan saja, karena itu memang tujuannya sedari awal mengapa mereka ke fakultas ilmu komunikasi. Mau mengelak pun, si Jarvis sudah duluan terlanjur berkata jujur.

Agam menggeleng pelan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan enam remaja di hadapannya, yang sangat effort untuk melihat seorang perempuan cantik. Sebegitukah pengaruh seseorang jika sudah cantik? Pemikiran mereka masih-masih sangat labil menurut Agam.

“Kita udah jumpa tadi sama Kalya, Bang,” sahut Jarvis lagi untuk memperjelas jawabannya kepada sang saudara.

“Kenapa kalian kemari mau ngeliat Kalya?” tanya Agam merasa semakin aneh dengan pernyataan adiknya.

“Karen–”

“Bukan apa-apa, kok, Bang,” elak Ansel langsung memotong ucapan Jarvis.

Panji menarik tas yang sedang digunakan Jarvis hingga membuat laki-laki itu memundur.

“Kalau gitu, kita balik dulu, ya, Pak. Kami ada kelas sebentar lagi.” Dimas mulai angkat bicara memberi alibi agar ia dan temannya bisa segera pergi dari fakultas tersebut.

Semakin lama mereka berada di sana, maka akan semakin banyak pertanyaan yang akan dilemparkan oleh abang temannya itu.

“Kita balik, Bang,” pamit Jarvis mewakili teman-temannya.

Begitu setelah mendapat anggukan dari Agam, keenam pemuda tersebut langsung memutar balikkan badan masing-masing menuju jalur ke luar dari fakultas tersebut.

Keenam laki-laki muda tersebut menempuh perjalanan dalam beberapa menit untuk menuju fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. Di mana kantin fakultas tersebutlah yang kerap mereka jadikan tempat untuk berkumpul, karena jumlah terbanyak dari mereka berasal dari fakultas tersebut, yaitu ada Ansel, Panji, Riski dan Fahmi.

Begitu tiba di kantin fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, mereka kembali membahas perihal Kalya—cewek gendut sekolah yang mereka kenal dulu dan kini tersulap menjadi sosok gadis yang berubah seratus delapan puluh derajat.

“Gila … gila, tuh, cewek! Cantik bener bangsat!” pekik Dimas heboh. Laki-laki itu tidak bisa membayangkan perubahan seorang Kalya—gadis yang dulunya sering ia hina.

“Mampus, dah, tu. Gila bener si Kalya, bisa-bisanya secantik itu, mana jenjang banget lagi tu badannya,” lanjut Panji mendeskripsikan penampilan Kalya yang ia lihat tadi.

Benar, yang mereka lihat jika Kalya sangat berubah. Badan yang dulunya mereka lihat berlipat-lipat dan bulat karena lemak, kini menjadi sangat ketat dan sehat. Apa lagi dengan tinggi badan Kalya yang mencapai 168 sentimeter semakin mendukung perubahan pada tubuh gadis itu, sehingga badan Kalya terlihat sangat jenjang dan ideal.

“Cantik banget teman SMA lo pada,” puji Fahmi dan disusul anggukan dari Riski menyetujui apa yang dikatakan oleh laki-laki tersebut mengenai Kalya.

“Cantik banget, kan …!” seru Dimas kembali heboh. Ia tidak habis pikir dengan perubahan Kalya. Laki-laki itu masih terpana dan ini semua terasa pura-pura.

Jarvis hanya tertawa pelan mendengar semua ucapan dan pujian teman-temannya kepada Kalya. Namun, ada satu orang yang belum Jarvis liat sekali pun memuji perubahan Kalya, yaitu Ansel Pratama.

“Menurut lo gimana? Cantik gak cewek yang dulu lo hina-hina?” tanya Jarvis dengan suara sedikit menjengkelkan.

Ansel menatap sinis temannya yang satu itu. Sedari tadi dalam perjalanan menuju kantin, Jarvis tak pernah luput dengan menanyakan hal yang sama kepada Ansel. Hal itu membuat diri Ansel semakin berpikiran terhadap Kalya, gadis itu benar-benar membuat dirinya terdiam.

“Jawablah, gimana, sih, lo,” kesal Jarvis karena Ansel tak juga membuka suara untuk mengakui keberhasilan gadis yang dulu selalu ditolak olehnya.

“Iya, cantik.” Ansel menjawab dengan singkat.

Akhirnya Ansel membuka suara. Ia masih tak bisa menjelaskan begitu indahnya seorang Kalya Anastasia sekarang. Terkadang ia termenung memikirkan, apakah benar gadis itu adalah orang yang dulu pernah ia permalukan dan ia hina di khalayak ramai?

“Sel, bukan cuma cantik, tapi tu cewek cantik banget, bjir!” seru Dimas meralat perkataan singkat Ansel. “Buka tu mata lo lebar-lebar.”

“Nah, bener tu apa kata si Dimas. Cantik banget si Kalya.” Panji ikut menimpali, karena tak terima dengan pujian Ansel yang menyatakan sebatas kata ‘cantik’ untuk Kalya.

Pembahasan mereka belum bisa lepas pada pesona dadakan yang mereka lihat dari seorang Kalya.

“Sekarang tu cewek udah kurus, cantik, beh … seksi juga. Siapa ni yang udah kepincut?” tanya Dimas dengan mengerlingkan matanya melirik ke arah Ansel.

“Kenapa lo ngeliat gue?” Ansel membalas  Dimas dengan nada yang tak bersahabat, karena tatapan jenaka temannya tersebut.

Baik Dimas, Jarvis dan ketiga lainnya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Ansel seperti orang yang mendadak canggung. Mereka yakin jika itu adalah efek dari Ansel masih syok dengan perubahan Kalya.

Jarvis kembali menelisik Ansel. “Nah, gimana? Apa lo gak suka sama Kalya?”

***

Kini banyak pasang mata yang menatap Kalya dengan tatapan kagum sekaligus tak percaya dengan perubahan yang terjadi pada gadis itu. Pasalnya ketika pertengahan semester satu kemarin, mereka hanya melihat badan Kalya yang baru sedikit mengalami perubahan. Namun, begitu hari libur berakhir dan pergantian semester tiba. Mereka dikejutkan dengan perubahan badan gadis itu yang benar-benar menjadi idaman para perempuan-perempuan lain di luar sana. Apalagi dengan tinggi badan yang semampai, semakin membuat Kalya terlihat anggun dan mencolok di antara gadis yang ada.

Kalya berjalan beriringan bersama Eliva menuju kelas selanjutnya yang terletak di lantai tiga. Kedua gadis yang tingginya hampir sama dan semakin membuat mereka menjadi sorotan warga fakultas. Sesekali keduanya mendengar para kakak tingkat yang bersiul berniat menggoda keduanya. Namun, tidak satu pun di antara keduanya yang menggubris panggilan tersebut.

Sekarang Kalya paham, jika orang tidak benar-benar bisa menghargai perasaan orang lain. Dirinya dianggap ada setelah dirinya memenuhi ekspektasi mereka.

Semua orang akan menganggap kita tidak pernah ada, jika saja kita tidak menguntungkan bagi mereka. Terlihat biasa saja, tapi inilah kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, Kalya memutuskan untuk memusatkan niatnya atas apapun usaha yang sudah ia lakukan untuk mendapatkan badan idealnya, yaitu hanya untuk kebahagiaan dirinya, untuk menghargai tubuh yang sudah dianugerahi untuknya, untuk kesehatan dirinya, dan untuk membuat senyuman di bibir mamanya.

“Gimana perasaan lo setelah benar-benar turun drastis dan sampe bisa kurus gini?” tanya Eliva melirik sang sahabat sekilas.

“Tidak buruk, banyak hal yang berubah. Mereka yang dulu ngehina gue dan sekarang mereka pada muji gue.” Kalya menyahuti dengan tersenyum miris. “Mereka hanya mau tau hasilnya dan mereka bodo amat sama proses yang udah gue lalui.”

Fatty Love (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang