“Hai, Ma, aku balik. Ini aku udah beli in—”
“Kalya,” beo ketiga ibu dan anak tersebut, setelah mengetahui siapa yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
Benar, itu adalah Kalya. Gadis itu menetralkan wajah terkejutnya dan berjalan mendekat ke ranjang sang mama dari arah yang berbeda dari keluarga Pranadipa.
“Pak Agam, Tante, Jarvis. Em, kenapa kalian ada di sini?” tanya Kalya setelah menyapa mereka satu persatu sambil tersenyum canggung.
Kalya tidak lagi menyapa Zady, karena dua ini dirinya selalu bertemu pria berstatus dokter tersebut. Dokter tersebutlah yang mengambil alih penuh dalam penanganan mamanya.
“Kami hanya ingin bertemu pasiennya Papa,” jawab Tiara sambil tersenyum.
“Oh, ternyata kamu anak Bu Sari yang gak tau diri itu?” lontar Agam bertanya demikian.
Semua orang tak terkecuali Kalya terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
“Maksud Bapak apa, ya? Kok, ngatain saya begitu?” tanya Kalya merasa tak senang dengan pertanyaan Agam yang di atas.
“Kan, benar, kalau kamu gak ngejaga pas ibu kamu pertama kali ke rumah sakit,” balas Agam. Ia benar-benar tak suka dengan anak yang tidak berbakti pada orang tua.
Kini, ia lebih tidak menyangka jika anak pasien dari papanya yang satu itu adalah Kalya—mahasiswanya, yang mana gadis itu pula yang dulunya tidak prihatin pada kondisi ibunya sendiri.
Zady, Tiara, dan kedua manusia yang lainnya masih melihat bagaimana Agam dan Kalya bercakap. Tiara merasa pertanyaan anaknya sulungnya ini terlalu mengejutkan Kalya.
“Aduh, Manis, ternyata kamu, toh, anaknya Bu Sari?” Tiara langsung menyela percakapan anaknya dan Kalya.
“Iya, Tante, saya anaknya mama,” jawab Kalya pada Tiara. Namun, ia merasa bersalah pada pernyataan Agam yang menyatakan jika ia anak yang tidak tahu diri karena tidak menemani mamanya sendiri yang sakit tempo bulan. Itu benar adanya, karena memang benar jika ia tidak sama sekali ada untuk mamanya ketika pertama kali masuk rumah sakit.
“Kalian saling kenal?” Zady bingung dengan anaknya yang mengenal Kalya.
“Kanal, dong, Pa. Orang Bang Agam dosennya Kalya pas semester satu kemarin,” sahut Jarvis dan langsung diangguki oleh Tiara.
Zady mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti mengapa anaknya dan anak pasiennya bisa terlihat akrab. Seketika ia kembali teringat pada perbincangan beberapa bulan ke belakang, di mana Jarvis dan istrinya juga mengatakan jika anak sulungnya sedang dekat dengan seorang mahasiswi. Ia bisa menebak jika gadis yang mereka maksud itu adalah Kalya.
“Oh, ini dosen yang kamu ceritakan ke Mama, ya?” tanya Sari menatap putrinya, sedangkan Kalya sudah terdiam di tempat karena pertanyaan mamanya.
Kalya hanya bisa menyengir sebagai respon. Ia benar-benar malu, bagaimana jika nanti dosennya itu berpikir yang bukan-bukan, karena ia lumayan sering mengatakan pada mamanya, jika laki-laki itulah yang membantu dirinya.
****
Pukul 04.30, hari Sabtu
Subuh itu Kalya terbangun lebih cepat dari biasanya, jika hari biasa ia akan bangun jam lima, tetapi hari itu ia terbangun lebih awal karena tiba-tiba mamanya kesulitan bernafas.
Pagi itu Kalya begitu panik dengan keadaan sang mama. Ia berpikir harus sesegera mungkin membawa mamanya ke rumah sakit. Namun, dilihat lagi, jika mobil mereka sudah tidak ada lagi, karena sudah lama terjual pasca meninggalnya sang papa. Dengan menguatkan hati, Kalya berusaha mendatangi salah satu tetangga dan meminta bantuan mereka, agar bisa membantu dirinya membawa sang mama ke rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatty Love (END)
RomanceKatanya, beauty privilege itu nyata. Itulah yang menimpa Kalya, cewek obesitas yang nekat menyatakan perasaannya berkali-kali kepada cowok ter-famous bernama Ansel, tetapi selalu ditolak mentah-mentah. Puncaknya pada malam prom night. Jawaban Ansel...
