13

940 54 6
                                        

Bara duduk di sofa menatap laptopnya, ia tengah menyelesaikan pekerjaannya meskipun ia berada di Singapura dan kantornya berada di jakarta, ia tetap dikelilingi oleh dokumen dan banyaknya berkas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bara duduk di sofa menatap laptopnya, ia tengah menyelesaikan pekerjaannya meskipun ia berada di Singapura dan kantornya berada di jakarta, ia tetap dikelilingi oleh dokumen dan banyaknya berkas. Malam itu, suasana tenang tiba-tiba pecah saat ponselnya berbunyi, menampilkan pesan panjang yang mengubah suasana hatinya dalam sekejap. Dengan tangan bergetar, Bara menggulir keatas pesan tersebut, dan apa yang dilihatnya membuatnya terdiam kaku.

Pesan itu, yang dikirim oleh Raka, mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan dan meresahkan. Bara membaca kalimat demi kalimat, setiap kata semakin membuatnya meringis dan semakin terkejut. Jovan, pria yang sering ia lihat bersama Rebecca, ternyata adalah teman lama Rebecca dari kota yang sama. Lebih mengejutkan lagi, Jovan telah pindah ke Singapura untuk menjalani pengobatan dan perawatan penyakit yang di deritanya yaitu HIV.

Ketakutan dan kebingungan melanda Bara, dan emosinya meledak. Tanpa pikir panjang, ia berteriak marah sambil memukul meja kayu di hadapannya. Suara dentuman keras itu disertai rasa sakit di tangannya yang menyebabkan dia terpaksa menghentikan pukulan tersebut. Bara menatap tangannya yang terluka dengan perasaan campur aduk disertai kemarahan, kekhawatiran, dan rasa bingung.

Ia terduduk di kursi, merasakan kepalanya pusing dan emosinya tidak terkendali. Dengan tangan gemetar, ia menarik rambutnya, berusaha menenangkan diri dan mengumpulkan pikirannya. Ketika kemarahan mulai mereda, Bara segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Raka.

"Lo jangan ngawur anj*ng!" suara Bara bergetar karena kemarahan dan kepanikan. "Dia mengidap HIV? Lo ngaco ngga sih, dapet info dari mana lo,?"

Raka, di ujung telepon, berusaha menjelaskan. "Mau lo apa sih? Ini gue di singapura. gue udah di rumah sakit yang biasa buat dia cek-up"

Bara merasa kemarahannya semakin membesar. "Anj*ng gue pernah mukulin dia sampe bocor kepalanya, aman ngga setan,!!?" Ungkap Bara dengan rasa takutnya. Karena setau Bara Hiv bisa menular melalui kontak luka jika darah atau cairan tubuh yang mengandung HIV dari orang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh orang lain melalui luka terbuka, goresan, dan juga selaput lendir.

Raka di ujung telepon dibuat kaget karena baru mengetahui hal itu. "What,? Gue kesitu sekarang"

Setelah mengakhiri panggilan dengan nada marah, Bara berusaha untuk menenangkan pikirannya. Ia benar-benar ketakutan, ia pun dibuat mengingat hari dimana ia memukul habis Jovan hingga babak belur. Apakah itu tandanya Bara juga terjangkit penyakit yang sama dengan Jovan,? Bagaimana dengan Rebecca–yang sudah berciuman dengannya. Apakah Rebecca juga terkena,? Tidak! Bara sungguh ketakutan.

Dengan langkah cepat, Bara meninggalkan rumahnya, mencari-cari Rebecca di apartemennya, Ia harus menemukan jawaban yang jelas, apapun risikonya. Hatinya berdebar-debar, dan rasa takut yang menggelayuti pikirannya semakin membuatnya merasa tidak nyaman.

Tak butuh waktu lama hanya dalam 1 menit Bara tiba di kamar 169– Kamar Rebecca, dan tanpa membuang waktu, ia langsung menekan pin dan masuk kedalam, Bara langsung menatap Rebecca dengan tatapan tajam penuh pertanyaan dan kekhawatiran.

Lemonade ( 21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang