⚠️mengandung unsur dewasa dan bahasa kasar
Sequel of Leon King 18+
Sebuah keadaan yang membuat Zoey Rebecca terjebak di masalalunya dan mengalami mental disorder. Dimana ia merasakan kecemasan ketika berada di dekat orang-orang yang sebelumnya perna...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rebecca dan Leon memasuki ruang isolasi dengan langkah pelan, seragam APD putih melekat erat di tubuh mereka. Meskipun mereka tahu HIV tidak menyebar lewat udara, aturan rumah sakit tetap mengharuskan mereka berpakaian seperti ini demi keamanan. Bau antiseptik menusuk hidung mereka, menambah aura dingin di sekitar Jovan yang kini terbaring lemah di atas ranjang, tubuhnya tampak rapuh di balik selimut tipis.
Wajah Jovan pucat, matanya terbuka setengah, sedikit Jovan menyadari kehadiran mereka.
Leon berdiri di dekatnya, menatap Jovan dengan raut wajah serius namun lembut. Tak lama, sosok pria paruh baya, ayah Jovan, memasuki ruangan. Mengisyaratkan mereka untuk keluar karena jam besuk sudah habis.
"Saya masih ngga abis pikir, Hiv itu bukan penyakit biasa." suara ayah Jovan terdengar pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri, namun cukup untuk didengar Leon.
"Kita ngga bisa milih takdir om" kata Leon.
"Ini bukan masalah takdir, tapi masalah ceroboh dan bodoh" kata ayahnya Jovan yaitu Toni, membuat Leon tak bisa berkata-kata.
Keheningan kembali menyelimuti, sampai akhirnya Toni menatap Leon dengan sorot mata yang sedikit canggung, tetapi tulus. "Bagaimana bisnismu di Bali, Leon?"
Pertanyaan itu memecah kecanggungan di antara mereka. Leon tersenyum kecil, meski tahu bahwa Toni mencoba mengalihkan percakapan dari topik yang lebih menyakitkan. "Perkembangan bisnis cukup baik om, kita baru aja memperluas cabang pariwisata dan properti. Tapi... ya, ada banyak tantangan."
Keduanya mulai berbincang tentang dunia bisnis masing-masing. Leon berbagi beberapa cerita tentang klien dan pengalaman di Bali, sementara Toni menceritakan usaha kecilnya yang kini mulai berkembang. Pembicaraan mereka bergulir ringan namun cukup menghibur, membuat mereka sejenak lupa akan situasi menyedihkan di hadapan mereka.
Rebecca yang tidak terlalu mengerti tentang bisnis hanya duduk diam di samping mereka, menyimak sambil sesekali tersenyum kecil pada cerita-cerita yang ia dengar.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang dan memberi tahu bahwa dokter ingin berbicara dengan ayah Jovan dan meninggalkan Rebecca dan Leon berdua di sana.
"Sebenernya dari tadi aku pengen ke toilet, cuma kamu sama Om Toni masih ngobrol, aku ngga enak bilangnya"
Leon tersenyum tipis "mau aku anter,?" Tawar Leon pada Rebecca.
"Ihhh,,, nggak lah." Rebecca menggeleng.
"Yaudah aku tungguin" kata Leon mempersilakan, Rebecca pun mengangguk dan berjalan menuju toilet.
Leon terdiam, menatap pintu ruangan yang masih tertutup. Tiba-tiba ponselnya berdering Leon pun bergegas mengangkat panggilan itu.
"Oke" kata Leon kemudian pergi dari tempat itu dengan tergesa-gesa.
Sementara Rebecca di toilet baru saja merapihkan rambutnya setelah buang air kecil. Mengingat waktunya bersama Leon hanya akan tersisa 3 jam lagi, Rebecca berencana untuk mengajak Leon berkeliling sebelum akhirnya Leon benar-benar pulang.