⚠️mengandung unsur dewasa dan bahasa kasar
Sequel of Leon King 18+
Sebuah keadaan yang membuat Zoey Rebecca terjebak di masalalunya dan mengalami mental disorder. Dimana ia merasakan kecemasan ketika berada di dekat orang-orang yang sebelumnya perna...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bara baru saja menghentikan mobilnya, ia menurunkan kaca mobil, ketika matanya menangkap pemandangan yang mengganggu dari kejauhan. Rebecca, yang seharusnya segera dia jemput dari kantornya, tengah berdiri di trotoar depan gedung, bersama sosok laki-laki yang tidak dikenalinya. Dari posisi tempatnya berdiri, Bara bisa melihat Rebecca berusaha keras untuk menghindari laki-laki itu. Ada yang aneh dengan situasi ini, dan Bara merasa ada yang tidak beres.
Laki-laki itu, yang tampak seperti seorang pria muda, sedang berbicara dengan Rebecca dengan gestur tangan yang penuh tekanan. Rebecca tampak sangat frustrasi, wajahnya menunjukkan campuran antara kekecewaan dan kemarahan. Bara bisa mendengar dari kejauhan betapa kerasnya Rebecca berbicara. Suaranya memprotes, mengekspresikan kemarahan dan rasa sakit hati.
"Jovan, gue sudah bilang, gue ngga mau kenal sama lo." teriak Rebecca, suaranya penuh amarah.
"Rebecca, gue minta maaf," jawab Jovan dengan nada memohon, "gue benar-benar minta maaf"
Rebecca menggelengkan kepala dengan tegas, menolak tawaran Jovan dengan jelas. Beberapa kali, Rebecca menyatakan ketidaknyamanannya dan keinginannya untuk pergi dari situasi tersebut, namun Jovan terus mendesak dengan permohonan maafnya. Raut wajah Rebecca semakin menunjukkan betapa dia sudah lelah dengan situasi ini.
Bara di dalam sana, diam-diam menyaksikan seluruh kejadian dengan perasaan campur aduk.
Bimmm....bimmm
Bara sengaja membunyikan klaksonnya saat merasa Rebecca sudah mulai tidak aman, Rebecca yang melihat mobil Bara pun akhirnya bisa melepaskan diri dari Jovan, melihat Rebecca yang berjalan mendekat Bara segera turun dan membukakan pintu untuk Rebecca.
Bara segera menuju kursi kemudi, sebelumya ia sempat berdiri di samping pintu mobil, menatap ke arah Jovan yang masih berdiri di sana, tampak bingung dan putus asa. Dengan napas yang berat, Bara mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang sudah sangat dia kenal. Begitu panggilan tersambung, suaranya penuh dengan kemarahan yang tak tertahan.
"Lo gimana sih, gue minta lo cari tau siapa tuh cowok, sampe sekarang ga dapet-dapet udah 2 minggu." Tekan Bara melalui telepon, suaranya penuh tekanan. "Terus mentang-mentang lo di jakarta lo ga bisa nyari tau tuh orang,? Waktu itu udah gue bantuin sampe apartemennya, sampe mana lo tau,?" Tanya Bara.
"Terserah, yaudah lo kesini lagi deh" kata Bara.
Di sisi lain telepon, suara yang mencoba menjelaskan terdengar gemetar, namun Bara tidak memberi kesempatan untuk berlama-lama. Dia menutup telepon dengan penuh frustrasi, memikirkan bagaimana dia harus menangani situasi ini dengan lebih baik di masa depan.
Dengan rasa marah yang masih membara, Bara memandang Rebecca yang kini duduk di dalam mobil, wajahnya tampak lelah dan cemas. Dia tahu bahwa hari ini belum selesai, dan ada banyak hal yang perlu dihadapi sebelum dia bisa merasa tenang kembali.