⚠️mengandung unsur dewasa dan bahasa kasar
Sequel of Leon King 18+
Sebuah keadaan yang membuat Zoey Rebecca terjebak di masalalunya dan mengalami mental disorder. Dimana ia merasakan kecemasan ketika berada di dekat orang-orang yang sebelumnya perna...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rebecca terbangun dengan perlahan, menyadari bahwa ia terbangun lebih awal dari Bara. Dengan hati-hati, ia memindahkan tangan Bara yang melingkar di perutnya, memastikan agar tidak membangunkan pria itu. Bara tampak begitu tenang dan tampan di tidurnya, wajahnya dipenuhi ketenangan yang tak pernah ia lihat selama ini.
Rebecca menatapnya sejenak, memikirkan kembali perasaan dan kenangan yang selama ini menyelimutinya. Ada rasa kecewa yang tak bisa Rebecca jelaskan apa dan kenapa. Yang Rebecca rasa sudah tiga tahun berlalu, namun luka-luka emosionalnya masih terasa tajam, dan ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak ingin jatuh lagi ke dalam kegelapan yang pernah melanda hatinya, juga tidak ingin melukai Bara yang kini sedang terlelap dengan damai.
Dengan penuh kehati-hatian, Rebecca menggeser diri perlahan. Rebecca baru saja duduk di tepi tempat tidur dengan mengikat rambutnya, tiba-tiba telepon Bara berdering. Suara dering yang nyaring mengusik ketenangan pagi, dan Bara mulai bergerak dengan mata yang masih berat, perlahan-lahan membuka matanya. Ia meraih ponsel yang terletak di meja nakas, dengan mata yang tampak masih setengah tertidur.
"Hallo?" suara Bara keluar serak, mencerminkan keengganannya untuk sepenuhnya terjaga. Ia mengerutkan dahi, mendengarkan suara di ujung telepon yang tidak dapat Rebecca dengar. Hanya beberapa detik berlalu, dan Bara perlahan-lahan duduk, berusaha untuk fokus pada percakapan tersebut.
"Iya, tungguin ya. Besok pulang" ujar Bara, suaranya mulai lebih jelas saat ia benar-benar terjaga. "Belajar yang rajin" katanya dengan menggosok matanya yang sedikit buram.
Bara mengucapkan beberapa kalimat tambahan, lalu menutup telepon dengan sebuah napas berat. Ia meletakkan ponsel itu.
Saat matanya sepenuhnya sadar Bara menatap sekitar dengan penuh kebingungan. Matanya membelalak saat ia menyadari bahwa ruangan di sekelilingnya bukanlah apartemennya sendiri. Dekorasi yang tidak dikenalnya dan pencahayaan lembut pagi itu membuatnya sedikit bingung.
Sekilas ia menoleh ke arah Rebecca, wajahnya menyiratkan rasa panik yang mencoba ia sembunyikan. "Sayang,?" katanya, suaranya terdengar lebih jelas kali ini, "kamu udah bangun,?" Tanya Bara yang baru saja menyadari bahwa semalam ia tidur bersama Rebecca.
Rebecca memperhatikan ekspresi kaget Bara dengan penuh rasa curiga. "Kalo udah lo boleh pergi, gue mau sibuk" kata Rebecca berjalan keluar dari kamar berusaha cuek dan tak peduli pada laki-laki itu.
Bara berusaha mengumpulkan kembali pikirannya. Ia tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah Rebecca mungkin mendengar percakapannya di telepon barusan.
Bara mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.