⚠️mengandung unsur dewasa dan bahasa kasar
Sequel of Leon King 18+
Sebuah keadaan yang membuat Zoey Rebecca terjebak di masalalunya dan mengalami mental disorder. Dimana ia merasakan kecemasan ketika berada di dekat orang-orang yang sebelumnya perna...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rebecca sudah dua bulan berada di Shanghai. Setiap hari, waktunya tersita hanya untuk bekerja keras, menyesuaikan diri dengan tuntutan industri yang tanpa henti. Ia menghabiskan sebulan penuh untuk merevisi naskah Leon King yang berulang kali di tolak oleh tim produksi, sebenarnya malas bagi Rebecca menyentuh naskah itu lagi, namun tuntutan perusahaan membuatnya bertahan dengan naskah itu, "gapapa Rebecca semangat, bentar lagi selesai" katanya menyemangati dirinya sendiri.
"Jiejie,,, kau mau minum,? Aku membawa kopi untukmu" kata Sisi emmbawa secangkir kopi.
"Terima kasih, Sisi." Kata Rebecca tanpa menatap Sisi.
"Jie, kau terlihat begitu lelah, Apa karena Naskah itu.?" Tanya Sisi.
"Apa lagi kalau bukan,? Entahlah sampai kapan aku harus berkutat dengan naskah yang sama."
"Jie, kau harusnya bersyukur. Mereka meminta mu merevisi meskipun berkali-kali, lihat aku. Mereka sama sekali tidak menerima naskahku. Aku sudah di Moon-Yu hampir 2 tahun, tapi mereka tidak mengapresiasikan karyaku satu pun. Sungguh malang nasip ku"
"Diam lah Sisi, aku hampir selesai." Kata Rebecca, yang fokus pada layar laptopnya sampai akhirnya 5 menit pun pekerjaannya selesai. "Done!" Kata Rebecca bersamaan mengeklik save agar naskah itu tersimpan.
"Sudah selesai,?" Tanya Sisi, Rebecca mengangguk dan meminum kopi yang Sisi berikan.
"Jie, aku dengar ada bar baru di Seberang jalan, kau mau mencoba,?" Tanya Sisi sembari memberi tawaran.
"Boleh" terima Rebecca spontan. Membuat Sisi terkejut tak percaya.
"Benarkah,? Wahhh,,, ini pertama kalinya kau langsung menerima ajakanku tanpa mempertimbangkan." Kata Sisi gembira dan hampir melompat di atas sofa.
"Ehhhh-!!! Kalau kau melompat akan ku pukul kakimu." Ancam Rebecca.
"Ishhh,,, kalau kau bukan pemilik sebagian saham di perusahaan ini, aku tidak peduli." Kata Sisi.
"Kau terlalu sering menyebut saham-saham apalah itu, aku tidak se spesial seperti yang kamu pikirkan."
"Sudah pukul 15.00 aku harus membawa naskah ini." Kata Rebecca bangkit berdiri dengan membawa laptopnya beserta flashdish nya. Naskahnya tersebut siap dilemparkan ke tangan tim produksi. Sambil menunggu proses adaptasi berjalan, Rebecca juga telah mempersiapkan novel baru yang akan ia ajukan untuk diterbitkan.
Namun, dalam hati kecilnya, Rebecca tak benar-benar peduli dengan nasib Leon King ke depan. Karya itu telah menjadi beban yang semakin berat untuknya. Bahkan mendengar dua kata itu saja membuat hatinya perih. Terlalu banyak kenangan, terlalu banyak luka yang terbuka karenanya. Yang ia nantikan sekarang hanyalah waktu ketika proses syuting selesai, drama itu ditayangkan, dan semua pembahasan tentang Leon King lenyap ditelan waktu.
Jika drama itu dibatalkan sekalipun, Rebecca merasa tak akan terguncang. Lagi pula, Leon King hanyalah salah satu dari sekian banyak karya yang pernah ia ciptakan. Masih ada cerita-cerita lain yang siap ia bagi ke dunia, cerita-cerita yang lebih jauh dari luka lama dan lebih dekat dengan kebahagiaannya sendiri. Bagi Rebecca, Leon King hanyalah lembar yang ingin ia tutup rapat.