⚠️mengandung unsur dewasa dan bahasa kasar
Sequel of Leon King 18+
Sebuah keadaan yang membuat Zoey Rebecca terjebak di masalalunya dan mengalami mental disorder. Dimana ia merasakan kecemasan ketika berada di dekat orang-orang yang sebelumnya perna...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, Rebecca dengan keadaan yang sudah rapih dan bersiap untuk berangkat kerja menyempatkan diri datang ke apartemen Bara dengan langkah cemas. Dia mengetuk pintu dan Bara yang baru saja selesai mandi membukanya. Rebecca menatap Bara dengan penuh kekhawatiran, wajahnya menunjukkan betapa beratnya beban yang dia rasakan.
"Bara, aku takut," kata Rebecca, suara gemetar. "gimana kalo hasilnya positif?"
Bara melihat ke dalam mata Rebecca dan berusaha memberikan ketenangan. "Ca, kita belum tahu apa-apa tentang hasil nya, gue juga takut. Ngga ada gunanya lo takut. Kita berdoa aja semoga hasilnya sesuai apa yang kita mau."
Namun, ketakutan Rebecca tampak tak bisa diatasi. Dia duduk di sofa, menundukkan kepala, dan mulai menceritakan sesuatu yang tampaknya membebani pikirannya.
Bara menatap Rebecca dengan penuh perhatian, mencoba memahami lebih dalam.
"Aku udah Searching tanda-tanda dan gejala penyakit itu, aku ngga ngalamin salah satunya. Moga aja hasilnya negatif, aku juga ngga pernah sariawan ataupun luka di area mulut. Tapi kamu gimana,? Aku ngga mau kamu kenapa-napa"
Rebecca menghela napas panjang, tampak lelah dengan beban emosional yang dia bawa. Bara duduk di sampingnya dan menepuk bahunya dengan lembut. "Muali sekarang gue ngga mau liat lo ketemu sama dia lagi" kata Bara membuat Rebecca menunduk.
"Udah sarapan,?" Tanya Bara, Rebecca menggeleng.
"Aku bikinin sandwich" kata Bara berdiri dan membuatkan roti lapir dan susu untuk Rebecca.
Haris sudah semakin siang, Sarapan sudah selesai di buat dan bahkan sudah selesai di santap 30 menit lalu, Rebecca juga sudah pergi bekerja. Kini hanya tersisa Bara di depan televisi tengah membuka lagi berkas-berkas yang belum selesai ia kerjakan
Klekkk...
Raka membuka pintu apartemen Bara dengan tergesa-gesa segera ia memasuki ruangan yang rapi itu untuk mencari Bara. Bara yang sedang duduk di sofa terkejut melihat Raka datang, apalagi saat melihat Raka menggendong anak kecil laki-laki yang tertidur pulas. Bara berdiri dan bergegas menghampiri mereka, tampak jelas bahwa ia khawatir.
"Lo ngapain bawa dia,?" tanya Bara dengan nada cemas.
Raka, dengan sikap santai yang khas, menjawab, "kasian dia pengen ketemu sama lo" Raka berjalan masuk ke kamar untuk membaringkan anak itu.
Bara memelototi Raka dengan kesal. "Elah, gue juga bakal balik ke indo besok"
Raka mengabaikan kekesalan Bara dan dengan hati-hati membawa anak kecil itu menuju kamar. "Kemaren juga lo bilangnya mau balik" katanya menutup pintu kamar, berharap anak itu tak terganggu oleh keberisikan dirinya dan Bara.
Bara masih terlihat cemas. "Kalo Becca liat dia gimana,? Mikir ngga sih lo,?"
Raka menoleh sebentar dan menjawab dengan tegas, "kalo Rebecca emang tulus nerima lo, dia ngga keberatan sama dia. Apalagi dia anak lo"