15

850 49 3
                                        

Langit sore mulai menguning, sinar matahari yang hangat perlahan memudar di balik gedung-gedung tinggi kawasan Interlace

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langit sore mulai menguning, sinar matahari yang hangat perlahan memudar di balik gedung-gedung tinggi kawasan Interlace. Angin sepoi menyapu pelataran, membuat rambut Rebecca sedikit berantakan saat ia dan Bara baru saja turun dari mobil. Ia masih menahan sakit di kepalanya sejak tadi.

“awhhh...” ringis Rebecca pelan, matanya menatap bangunan tinggi di hadapan mereka.

Namun belum sempat melangkah lebih jauh, tubuh Rebecca mendadak goyah. Pandangannya berputar hebat, napasnya tercekat. Dalam hitungan detik, kakinya lemas.

“Becca!” Bara langsung menangkap tubuh Rebecca yang ambruk ke arahnya.

Panik, ia mendudukkan Rebecca perlahan ke lantai pelataran, menepuk-nepuk pipi gadis itu yang sudah tak merespons. “Lo bilang tadi gapapa... Tapi kok bisa pingsan gini sih?” bisiknya cemas, napasnya memburu.

Bara buru-buru merogoh ponselnya, tangan gemetar saat membuka layar.

🍋

Rebecca terbangun dengan suara gemuruh yang samar, matanya berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang redup di kamarnya. Saat ia mencoba mengingat apa yang terjadi, pandangannya tertuju pada Bara yang duduk di sampingnya, wajahnya terlihat cemas.

"Bawa istirahat aja, gue ngga mau lo kenapa-kenapa" kata Bara dengan nada panik, tangannya bergetar sedikit saat ia meraih tangan Rebecca.

Rebecca mengangkat kepalanya pelan dan mencoba tersenyum. "Aku baik-baik aja kok" jawabnya, meskipun suara itu terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan.

Bara menghela napas lega, tetapi ekspresi wajahnya masih mencerminkan kekhawatiran. "Kalo lo ngga papa dokter ngga mungkin bilang macem-macem tadi" kata Bara, Rebecca mengernyit "Dokter bilang Jangan banyak mikirin sesuatu yang bisa mempengaruhi saraf di otak lo."

Rebecca mendengarkan, namun kebingungan meliputi pikirannya. "Aku mikirin apa coba,?" Herannya dengan memikirkan sesuatu.

"Gausah di pikirin ahh"

Bara mengernyit, sepertinya berusaha memahami. "Mungkin aku mikirin deadline deh" kata Rebecca sedikit menebak.

Rebecca merasakan kepalanya berdenyut ringan, bukan karena sakit, tetapi karena perasaan tidak nyaman.

Bara menggelengkan kepala. "Jangan anggap sepele, Ca. Gue ngga mau lo kenapa-kenapa."

Rebecca menatap Bara, melihat betapa dia benar-benar peduli. "Iya,,, aku udah baik-baik aja kok" ujarnya, merasa terharu dengan perhatian Bara.

Dengan pelan, Bara menyentuh tangan Rebecca. "Istirahat dulu ya, besok cuti dulu aja" kata Bara "gue masak sup, lo harus makan" kata Bara beranjak ke dapur.

Bara mengangkat panci sup yang sudah dimasak dengan penuh kasih sayang, aroma hangatnya memenuhi dapur. Ia sudah menyiapkan hidangan itu untuk Rebecca. Setelah memastikan sup itu tidak terlalu panas, ia menyiapkan segelas susu untuk melengkapi makanan Rebecca.

Lemonade ( 21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang