⚠️mengandung unsur dewasa dan bahasa kasar
Sequel of Leon King 18+
Sebuah keadaan yang membuat Zoey Rebecca terjebak di masalalunya dan mengalami mental disorder. Dimana ia merasakan kecemasan ketika berada di dekat orang-orang yang sebelumnya perna...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rebecca perlahan membuka matanya setelah dua jam ia pingsan. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, dia merasakan tubuhnya terasa kaku dan lelah. Dengan susah payah, ia mencoba duduk, mengatur napasnya yang masih terasa sesak. Ia mendapati dirinya terbaring di kamar.
Rebecca melihat seseorang berdiri di sampingnya. Xiao Zhu, dokter psikolog yang selama ini menjadi sahabat dekatnya, Zhu sedang meletakkan gelas berisi air hangat di nakas yang terletak di samping tempat tidur Rebecca. Zhu tampak khawatir namun tenang, dengan ekspresi yang menunjukkan kepedulian mendalam.
"Untung kau cepat menelpon ku, jika tidak aku tak akan tau kau pingsan" kata Zhu menoyor kepala Rebecca.
Zhu, telah menjadi teman Rebecca selama tiga tahun terakhir. Mereka pertama kali berkomunikasi melalui aplikasi konsultasi online, sebagai Dokter dan pasien. Dimana Rebecca awalnya berpura-pura mencari solusi untuk temannya yang mengalami berbagai masalah pada mental dan psikologis. Namun, Zhu yang notabenenya sebagai dokter psikolog memiliki Insting yang tajam. Ia merasa dan menyadari bahwa Rebecca sebenarnya berbicara tentang dirinya sendiri. Namun kini hubungan pasien dan dokter sudah berakhir setelah konsultasi berakhir. Dan Rebecca tidak pernah tahu kalau dokter yang menanganinya di konsultasi online itu adalah Zhu.
Dengan susah payah, Rebecca mengangkat kepala dan menatap Zhu dengan mata yang penuh rasa terima kasih dan rasa malu. "Bagaimana kau tau,? Bahkan aku tak mengucapkan sepatah katapun" kata Rebeca mengingat.
Zhu memasang wajahnya kesal. meskipun wajahnya terlihat penuh kekhawatiran. "Kau menelponku tapi tak ada suara apapun, dan semua pesanku tak kau balas. Jadi aku langsung saja kesini"
Rebecca menghela napas, perasaannya campur aduk antara rasa bersalah dan kelegaan. "Maaf, aku... aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa sangat tertekan. Kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya."
"Tidak apa-apa, sebenarnya juga aku sudah berencana ingin menemuimu" ucap Zhu dengan memberikan obat kepada Rebecca.
"Zhu, sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan. Aku bertanya sebagai teman. Bukan sebagai pasien." Kata Rebecca dengan perlahan.
Zhu kini duduk di samping Rebecca dengan sikap tenang. "Kamu memang bukan pasienku."
"Aku memang sudah tak pernah mengharapkan dia kembali kepadaku, meskipun sampai sekarang aku masih tidak bisa melupakannya"
Zhu meraih tangannya dengan lembut. "Kita semua memiliki masa lalu, dan kadang-kadang, ia bisa muncul kembali dengan cara yang sangat menyakitkan. Namun, penting untuk menghadapi dan memproses perasaan ini, bukan menghindarinya. Apakah kamu ingin berbicara tentang apa yang terjadi hari ini?"
Rebecca mengangguk perlahan, suaranya bergetar. "Aku bertemu dengan Bara, dia tiba-tiba muncul kembali setelah tiga tahun. Semua ini membuatku merasa cemas dan bersalah. Aku takut kalau aku akan kembali menyakiti dia, aku takut" Rebecca mulai menangis. "Tapi rasanya aneh, seperti hatiku merasa kecewa yang mendalam pada Bara, namun aku sendiri tak tahu atas dasar apa aku kecewa padanya, seolah otak ku menolak dengan keras ketika aku memikirkan hal apa yang membuatku kecewa."