⚠️mengandung unsur dewasa dan bahasa kasar
Sequel of Leon King 18+
Sebuah keadaan yang membuat Zoey Rebecca terjebak di masalalunya dan mengalami mental disorder. Dimana ia merasakan kecemasan ketika berada di dekat orang-orang yang sebelumnya perna...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍋Flashback
Enam bulan telah berlalu sejak Rebecca pindah ke Singapura, namun bayang-bayang Bara masih tak pernah hilang dari pikirannya. Meski sudah mencoba berbagai cara, ia belum bisa benar-benar melupakan laki-laki itu. Setiap kali ia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada Bara, hatinya masih bergetar. Selama di Singapura, Rebecca selalu mencari cara untuk mengetahui kabar Bara, meskipun hanya sekadar melihat jejak digitalnya. Salah satunya adalah stalking akun media sosial Bara yang sudah lama tidak aktif.
Pukul 11.00 siang Rebecca sudah berada di indonesia, ia duduk di kafe dengan segelas minuman lemon di mejanya, ia menggenggam ponsel dengan layar menyala, menampilkan foto Bara bersama seorang pria. Foto itu ia dapatkan setelah lama menyelidiki sebuah akun Instagram dengan username runan_wjy, yang pastinya dia kenal Bara, meskipun foto itu masih menggunakan seragam sekolah. Tak sia-sia usaha Rebecca mengikuti setiap petunjuk kecil yang ia temukan dari akun tersebut. Akun Runan_wjy sendiri Rebecca temukan di daftar followers dan following Bara.
Sebenarnya Rebecca tak punya rencana untuk ke Jakarta. Namun ia terbang ke Jakarta karena Runan_wjy membalas pesan Rebecca dan memintanya bertemu pukul 11 siang, jadi secara mendadak Rebecca langsung membuat jadwalnya untuk terbang ke Jakarta pukul 8.00, yang kebetulan sekali ia cuti.
Hari ini Akhirnya Rebecca dapat bertemu dengan orang yang mungkin bisa memberinya jawaban tentang keberadaan Bara. Atau setidaknya orang itu tahu dimana alamat rumah Bara. Meskipun kemungkinan Rebecca akan kerumah Bara itu 0%.
Rebecca duduk di sudut sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Pikirannya sibuk dengan berbagai kemungkinan tentang pertemuan yang akan terjadi.
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka. Seorang pria berjalan masuk dan langsung menuju ke arahnya. Jantung Rebecca berdegup lebih cepat. Dia mengenali sosok itu, pria yang ada di foto bersama Bara.
Pria itu berdiri sejenak, memeriksa ekspresi wajah Rebecca dengan seksama, seolah ingin memastikan bahwa wanita di depannya memang orang yang akan ia temui. Perlahan, sebuah senyum tipis terbit di bibirnya.
"Rebecca, kan?" tanyanya, suaranya tenang namun penuh keyakinan.
Rebecca mengangguk pelan, meskipun hatinya masih diliputi kegugupan. "Iya Kak. Aku Rebecca." Kata Rebecca berdiri mengulurkan tangan.
Pria itu mengangguk. "Aku Runan Wijaya," ia memperkenalkan diri sambil menjabat tangan.
Ada semacam rasa lega yang merayap di hatinya. Akhirnya, setelah berbulan-bulan mencari, ia berhasil bertemu dengan orang yang mungkin bisa memberikan jawaban tentang Bara.
"Sorry ya lama, agak macet tadi" katanya meminta maaf.
"Sans aja"
Mereka mulai berbicara tentang hal-hal ringan. Tentang masalah perjalanan menuju pertemuan ini karena ini adalah pertemuan pertama keduanya. Meskipun pada dasarnya Rebecca lebih ingin tahu tentang Bara, dan apa yang sebenarnya terjadi selama enam bulan terakhir, kemana Bara pergi. Namun, ia menahan diri, menunggu saat yang tepat untuk membahas topik inti yang mengganjal hatinya.