22 fact

710 29 2
                                        

🍋Flashback

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🍋Flashback

Bara menghentikan motornya di tepi jalan, setelah melihat mobil hitam terparkir di tepi jalan, ia rasa ia kenal dengan mobil itu. Bara melepas helmnya memandang sejenak ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat ia berhenti. Di bawah sinar lampu kota yang temaram, sepasang siluet tampak di dalam mobil itu, bergerak intim dan tak menyadari kehadirannya. Bara menajamkan pandangannya. Hatinya seketika mencelos saat ia mengenali sosok perempuan di dalam sana. "Dinda,?" Kaget Bara setelah merasa mengenali siapa sosok perempuan di dalam mobil itu.

Dada Bara berdegup kencang, napasnya tercekat. Sesuatu di dalam dirinya seolah patah, seperti cermin yang retak berkeping-keping. Perempuan yang selama ini ia cintai dan jaga dengan segenap hati, tengah bercumbu dengan pria lain. Bagaimana bisa pacarnya di sentuh laki-laki lain? Bahkan Bara tak pernah menyentuhnya sedikitpun, ia selalu menjaga jarak dan menghormati batasan yang mereka sepakati selama menjalin kasih. Namun kini, batasan itu diruntuhkan begitu saja oleh orang lain yang entah siapa.

Bara menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hampir tumpah. Seolah ada ribuan cambukan yang menghantam jiwanya, rasa sakit itu begitu nyata Bara rasakan. Ia tak mampu berbuat apa-apa selain memandang perih ke arah mereka, tak ada kata yang bisa keluar dari bibirnya yang gemetar. Ia hanya bisa berdiri, seakan tubuhnya telah beku, menyaksikan pemandangan itu menghancurkan segalanya.

Ia pun memutuskan mendekati mobil itu dengan menaiki motornya, tepat di hadapan mobil itu dengan pergerakan sengaja Bara menekan tombol Klakson dengan satu sentuhan tegas, suara klakson membelah malam yang sunyi. Bunyi itu menggema bersama sorot lampu motor yang masuk menembus kaca hingga menyentak mereka berdua dari dunia yang seolah hanya milik mereka. Bara melihat mereka terkejut, terutama perempuan itu, matanya membulat, penuh keterkejutan saat melihat Bara. "Bara,??!" Kaget perempuan di dalam mobil itu.

Setelah memastikan keduanya menyadari kehadirannya Bara berburu pergi melajukan motornya dengan kecepatan penuh.

Angin malam menusuk wajahnya, tapi dinginnya tak sebanding dengan rasa dingin di hatinya. Tangisnya tak bisa ia tahan lagi, akhirnya pecah di balik helm full face yang ia kenakan. Namun, meski helm itu menutupi wajahnya, air mata yang deras mengalir dari kedua matanya tak bisa disembunyikan. Matanya memerah, pandangannya kabur oleh air mata yang jatuh tak terbendung.

 Matanya memerah, pandangannya kabur oleh air mata yang jatuh tak terbendung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lemonade ( 21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang