Bagian6

743 74 8
                                    


Malam ini, lapangan di pinggiran kota dipenuhi suara gemerisik rumput dan teriakan semangat. Callie sedang menemani Aldo yang  tengah berlatih bermain bulutangkis seperti biasanya. Namun, atmosfer di antara mereka terasa berbeda, terlihat  kekhawatiran dan ketegangan di wajah Callie.

"Sayang, aku perhatiin kok kamu keliatan murung gitu? Kenapa?" tanya Aldo, sambil berkemas karena latihan sudah selesai.

Callie menghela nafas panjang, memandang langit senja seolah mencari jawaban di sana. "Aku gapapa sayang" jawabnya pelan.

Aldo mendekatinya dengan mata penuh kekhawatiran. "Jangan bohong, aku tahu kamu."

"Sebenarnya aku lagi kepikiran sama Gaby" suara lembutnya hampir terdengar terbawa angin.

"Hah, Gaby? Kamu kangen sama dia? Sebenarnya kamu ada hub—"

Callie segera menutup mulut Aldo dengan jari telunjuknya. "Ssttt, dengerin dulu, aku belum selesai" pintanya, Aldo hanya mengangguk dengan penasaran. "Aku belum minta maaf sama dia, meskipun aku nggak akur, tapi aku sama Rai harus minta maaf, sayang. Apalagi sekarang dia nggak ada kabar. Aku takut itu karena pukulan Raisha. Kita udah tetangga lumayan lama, agak canggung aja sih."

"Temanku juga lagi marah sama aku" lanjut Callie.

"Kenapa sama Indira dan Lia? Kalian berantem?" tanya Aldo, mencoba memahami keadaan.

"Aku ketemu mereka di kantin tadi. Mereka baru aja coba nyari pacar Gaby, ka Chika, siapa tau dapat informasi. Tapi pacarnya udah pindah, nggak sekolah di sini lagi. Aku tadi nggak sengaja malah bercanda di waktu yang nggak tepat" cerita Callie, ekspresinya mencerminkan penyesalan.

"Ahh, itu. Kamu tenang ya, sayang. Nanti aku bantu, oke? nanti minta maaf sama mereka, sekarang udah sedihnya" janji Aldo, mencoba memberikan dukungan pada Callie.

Namun, Callie masih merasa kebingungan. "Tapi caranya gimana?"

"Aku tahu Chika, 12 IPA 2 kan? Aku pernah ikut cerdas cermat sama dia. Waktu itu sempat nganter dia pulang juga. Nanti coba kita ke rumahnya ya." saran Aldo, memberikan ide untuk menyelesaikan masalah.

Wajah Callie langsung berubah ceria, penuh harapan. "Aaaaa sayanggg, makasi banyak yaaa"  serunya, merangkul Aldo dalam kegembiraan.

Suasana kegembiraan itu terhenti sejenak ketika Raisha dengan tiba-tiba muncul di hadapan Aldo dan Callie.

"Buset ettdahhhh, pacaran mulu.. gue aduin mommy lu ci" celetuk Raisha dengan ekspresi wajah menggoda.

Raisha tertawa santai, "Seru banget kayaknya, habis ngobrolin apa? Kalian mau nikah?" godanya sambil melempar senyum kepada Callie.

Callie, yang selalu cerewet, menjawab dengan spontan, "Nikah, nikah... Uang aja masih minta mommy sama daddy" katanya sambil tertawa.

"Yakan, siapa tau. Lu lupa pacar lu, Aldo? Dia nafas doang udah kaya apalagi kerja" goda Raisha dengan senyum nakal di wajahnya.

Aldo hanya tertawa mendengar celetukan Raisha dan Callie yang mengocok perutnya.

-----

Di dalam kelas yang sepi tanpa kehadiran guru, suasana bincang-bincang ringan antar-teman menjadi pemandangan yang biasa. Namun, kali ini  atmosfernya terasa berbeda. Hanya Indira dan Lia yang duduk bersama, menunggu penjelasan dari Callie.

"Gais, gue minta maaf. Gue nyesel udah bilang itu ke kalian" ucap Callie dengan suara penuh penyesalan.

Indira dan Lia saling pandang, memberi isyarat bahwa mereka siap mendengarkan penjelasan Callie. "Gue bener-bener nyesel, plis maafin gue" lanjutnya.

Going You at a Speed of 8706 : Gabriel&CallieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang