Bagian9

786 73 5
                                    

Notifikasi tidak berhenti berbunyi dari hp Callie, sementara Callie masih merasakan terkejut dan kebingungan setelah peristiwa semalam. Dalam keheningan malam yang gelap, bunyi-bunyian notifikasi terasa seperti deru yang menghantui, mengingatkannya pada realitas yang sulit dipahami.

 Dalam keheningan malam yang gelap, bunyi-bunyian notifikasi terasa seperti deru yang menghantui, mengingatkannya pada realitas yang sulit dipahami

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Callie merasa dunianya hancur seiring dengan munculnya twit mengejutkan. Foto dalam twit itu menampilkan Aldo, kekasihnya, yang sudah tidak memberikan kabar selama lebih dari dua minggu. Callie tidak pernah meminta penjelasan apa pun, karena semuanya sudah menjadi jelas—Aldo telah berubah.

Di akun Aldo yang dulu penuh dengan foto-foto mereka bersama, semuanya sudah dihapus. Bio-nya berubah, dan di Instagram, Callie melihat bahwa Aldo repost sebuah story dengan caption "mine" yang berisi emot love. Semua tanda-tanda mengarah pada satu arah yang menyakitkan, dan hati Callie hancur seiring dengan realisasi itu.

Pertanyaan tanpa jawaban terus berputar di pikiran Callie. Mengapa Aldo tiba-tiba berubah? Apa yang terjadi selama ini? Tanpa penjelasan apapun, Callie terdampar dalam gelombang rasa sakit yang mendalam.

"Call, udah nangisnya yuk. Makan dulu, ini udah siang dari semalem lu belum tidur dan belum makan" kata Indira dengan nada prihatin.

Callie hanya diam, matanya merah dan kosong, seakan-akan terlempar ke dalam jurang kehancuran. Teman-temannya dengan cemas mencoba menghibur Callie, namun tak satu pun kata-kata mereka bisa merobohkan tembok kesedihan yang begitu kuat.

Raisha memasuki kamar dengan membawa sebuah goodie bag penuh makanan MCD. "Nih, makan ci, orang kayak Aldo nggak pantes lu tangisin" ucap Raisha dengan keras, berusaha menyadarkan Callie dari lamunan yang mencekam.

"Ngga mau" jawab Callie dengan suara serak, suaranya penuh dengan keputusasaan.

"Call, gue sama Lia harus pulang dulu, nanti kita kesini lagi ya nemenin lu" ucap Indira dengan penuh empati.

"Thanks guys udah mau nemenin gue dari semalem" jawab Callie dengan suara yang rapuh, sambil melepas pelukan dari teman-temannya yang hendak pergi.

"Dari siapa?" tanya Callie kepada Raisha yang sibuk dengan HP-nya.

"Yaa siapa lagi? Lu buka deh tuh, gue keluar bentar yaaa, bilangin ke mommy" kata Raisha sembari melangkah keluar dari kamar Callie.

Saat itu, goodie bag yang seharusnya membawa keceriaan di situasi seperti ini malah terasa seperti beban yang tak tertahankan. Callie sama sekali tidak tertarik dengan isinya. Ia merasa terdampar di dalam dunianya sendiri, di antara reruntuhan hubungan yang sudah hancur. Dengan hati yang hancur, ia memutuskan untuk tidur, berharap agar mimpi bisa membawanya menjauh dari penderitaan ini. 

Tengah malam, suara deras hujan membangunkan Callie. Ia terbangun dengan mata sembab dan perut lapar. Teringat dengan goodie bag yang Raisha bawa tadi, Callie memutuskan untuk membukanya. Saat goodie bag itu terbuka, ada sebuah surat yang tertata rapi di atas makanannya.

Going You at a Speed of 8706 : Gabriel&CallieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang