Bagian 33

506 42 11
                                    

Dari tadi, Gaby dengan segenap hatinya mencoba membujuk Callie yang sedang marah besar setelah mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan. Gaby berusaha keras menjaga rahasia itu, tetapi Amanda dan Giselle tanpa sengaja membocorkannya saat percakapan tentang kuliah tadi.

"Sayang... tolong dengerin aku dulu. Semua ini nggak seperti yang kamu kira. Ini bukan salah kamu..." Suara Gaby terdengar tulus, meski ada nada kelelahan yang jelas setelah hampir 30 menit dia berdiri di depan pintu kamar Callie.

"Buka pintunya, sayang..." pintanya lagi, namun hanya isak tangis Callie yang menjadi jawaban. Tidak ada respon selain tangisan yang semakin lirih tetapi tetap menghujam hati.

Akhirnya, Gaby menyerah. Tubuhnya yang letih, berpadu dengan perasaan yang berkecamuk di benaknya, membuat pandangannya kabur. Dengan langkah gontai, Gaby menuju kamarnya sendiri, merasa sakit yang dalam dan tak terhindarkan mulai merayap ke seluruh tubuhnya. Setiap detak jantungnya terasa seperti palu yang menghantam, meninggalkan luka yang tidak terlihat, tapi terasa sangat nyata.

Dibalik pintu kamar, Callie tenggelam dalam rasa bersalah yang menusuk-nusuk hatinya. Setiap detik yang berlalu, perasaan itu semakin dalam, seperti duri yang terus menerus menusuk jantungnya. Ia tahu, Gaby tidak lolos seleksi karena dirinya. "Kenapa dia nggak bilang??" monolog Callie penuh penyesalan. Rasanya seolah seluruh dunia menghimpitnya, membuatnya sulit bernapas.

Tiba-tiba, kesunyian yang mencekam itu menyadarkannya. "Kok Gaby udah nggak manggil-manggil lagi?" bisiknya penuh kecemasan. 

Dengan hati yang berdebar, Callie berlari membuka pintu. Pandangannya mencari, namun Gaby tak ada di sana. "Gabriel!!" serunya, suaranya bergetar penuh kecemasan. Tidak ada jawaban. "Sayang.." bisiknya lebih pelan, seakan angin malam turut merasakan kegelisahannya.

Langkah kakinya membawanya ke kamar Gaby yang pintunya terbuka. "Sayang kam-" Callie menghentikan ucapannya, tubuhnya gemetar melihat pemandangan di depannya. Gaby meringkuk di balik selimut, terlihat begitu rapuh dan terluka. "Sayang?!" panggilnya lagi, kali ini dengan suara yang hampir pecah.

Ia mendekat, hatinya terasa hancur melihat kondisi Gaby. "Sayang.." desisnya dengan penuh kasih, tangannya mengelus pelan kepala Gaby. Sentuhan itu lembut, namun penuh dengan rasa penyesalan dan cinta yang dalam. 

Itu membuat Gaby terbangun dengan jantung berdebar-debar. Tanpa sadar, matanya segera mencari sosok yang selalu memberikan ketenangan di tengah kegelapan—Callie. Begitu melihat Callie di sampingnya, Gaby langsung meraih dan menggenggam erat kedua tangan kekasihnya itu, seakan tak ingin melepaskannya.

"Sayang," suara Gaby bergetar, penuh penyesalan dan kejujuran yang tak bisa lagi disembunyikan, "aku minta maaf, sayang. Itu bukan salah kamu... Maaf ya aku bohong. Aku nggak mau kamu khawatir." Matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang hampir tumpah. "Aku udah ikhlas nggak ikut turnamen musim ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa-"

Callie menaruh jari telunjuknya di bibir Gaby, memotong kalimat yang hampir tak terucap. "Sttt, hey... It's okay." Suaranya lembut, namun penuh ketegasan. "Aku nggak marah, malah aku yang nyesel banget. Aku malu ketemu kamu, semua ini gara-gara aku." Mata Callie pun berkabut, menandakan betapa dalam rasa bersalah yang ia rasakan.

Gaby tersenyum, merasakan kelegaan yang mengalir lembut dalam hatinya. "Lagipula, kita bisa memilih opsi lain, kan? Kamu mau kuliah di mana? Em? Kita bisa susun rencana baru..."

"Di luar negeri aja kali ya?" Callie menimpali dengan nada riang, matanya bersinar penuh harapan.

"Boleh!" Gaby menjawab tanpa ragu, senyumannya semakin lebar.

Namun, kekhawatiran tampak di wajah Callie. "Kamu yakin? Terus karir kamu di sini gimana?" tanyanya dengan nada penuh perhatian. Ia tahu betapa jauhnya Gaby telah melangkah dalam karirnya. Setelah lulus, Gaby memiliki potensi besar untuk menekuni bulutangkis dan mencapai kesuksesan yang lebih tinggi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 10, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Going You at a Speed of 8706 : Gabriel&CallieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang