Gaby menarik tangan orang itu dan membawanya menjauh dari lapangan. "Ada apa?""Kamu belum bayar uang kas. Aku udah WA kamu, loh. Cepet bayar!!"
Gaby mengambil dompet dari tas dan membayar semua tagihannya, "Gue nomor baru, nih, udah lunas ya. Lain kali jangan nyamperin gue ke lapangan." pinta Gaby.
Orang itu mengangguk mengerti sambil mencatat semua tunggakan Gaby. Gaby menunggu sambil merapikan raketnya. Lumayan lama menunggu orang itu karena dia kehilangan pulpen, sehingga dia merogoh tas untuk mencarinya. "Oiya, nih catetan Matematika tadi, inget kembaliin besok ya." ucap orang itu memberikan buku catatannya.
"iyaa, bawel lo. Thanks ya."
Mereka berbincang seputar pelajaran cukup lama di bawah pohon dekat pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba, seseorang memperhatikan mereka dari luar gerbang.
"HAh?? Dia beneran punya pacar?! Bisa-bisanya dia nggak bilang dari awal! Atau dia sengaja pindah ke sekolah ini biar bisa deket sama pacarnya?" Callie setelah melihat Gaby bersama seorang perempuan di bawah pohon menjelang senja ini, suasana yang terlihat begitu romantis bukan? Bahkan, Gaby terlihat tertawa dengan orang itu. Siapa dia sebenarnya??
Callie menahan air matanya, merasa malu jika harus menangis dilihat oleh Pak Agus. "Jalan pak, kita pulang aja.." pinta Callie. Pak Agus melaju perlahan. Sebenarnya, tujuan Callie ke sekolah Gaby adalah untuk melihatnya berlatih, Callie juga sekalian memantau apakah benar yang diucapkan Gaby tadi pagi dan semua cerita teman-temannya saat di kantin tentang Gaby yang banyak didekati perempuan. Sialnya, Callie harus melihat sesuatu yang diluar dugaannya, Gaby bersama seorang perempuan. Gaby beneran sudah punya pacar???
Gaby pulang kerumah dengan rasa puas setelah latihan bulutangkis yang intensif. Tiba di rumah, disambut oleh Bi Sumi yang dengan sigap meraih tas Gaby yang penuh dengan raket dan bola. Freya duduk di ruang tamu sambil sibuk menyelesaikan tugas sekolah. Dengan tatapan tajam, Freya langsung menyerang pertanyaan tanpa basa-basi.
"Kak, beneran punya pacar, ya?" Freya menanyakan dengan mata penuh kepo.
Gaby hanya tersenyum lebar, "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"
Freya mengelap wajah kakanya yang berminyak, "Maaf.. lagian, kamu nggak cerita ke aku." Entah mengapa Freya sama sekali tidak jijik atau geli saat Gaby mendekat habis latihan penuh keringat, tapi memang tidak bau juga sih.
"Kalau ada, pasti aku udah cerita duluan ke kamu." kata Gaby sambil membuka game, menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap apapun setelah ini.
"Tadi Kak Callie nangis.. aku udah coba tanya, tapi dia tetap sedih.." ucap Freya, membuat Gaby menghentikan game-nya dan mendongak kearah Freya. "Hah, nangis?"
"Iya, nangis. Lihat saja di kamarnya kalau nggak percaya..."
Gaby bangkit dari tidurnya, lalu berjalan menuju kamar Callie. Mengetahui Callie menangis menjadi hal penting baginya, terutama karena Callie bisa pingsan jika tidak dapat mengendalikan emosinya.
"Call.." Panggil Gaby lembut, tapi hanya terdengar isak tangis Callie dari dalam kamar.
Gaby langsung masuk, terlihat Callie yang meringkuk diatas kasur, tubuhnya tertutup selimut. "Call, lo kenapa?" Tanya Gaby. Tidak ada jawaban. Gaby menyentuh pelan pundak Callie. Callie terbangun, wajahnya sudah banjir air mata, "Kamu kenapa nggak bilang kalau udah punya pacar?? kamu jahat.. hiks hiks" ucap Callie sambil menangis, matanya sembab, sepertinya Callie sudah terlalu lama mengangis.
Gaby membuka mulutnya berbentuk huruf O. Masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Call gue ngg-" belum selesai mengucapkan kalimatnya, Callie sudah mendorong paksa tubuh Gaby keluar dari kamarnya, "Aku benci sama kamu, pergiii!!". Gaby sampai terjatuh karena dorongan Callie, Callie masih dengan air matanya menutup keras pintu kamarnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Going You at a Speed of 8706 : Gabriel&Callie
Fiksi RemajaDi sekolah menengah SMA48, dua dunia bertabrakan ketika Gabriel, pemain bulutangkis terkenal dengan sikap dingin dan keangkuhannya, dipertemukan dengan Callista, seorang kutu buku ceria dan aktif sebagai anggota PMR. Keduanya sama-sama memiliki kepr...