Bagian29

412 52 11
                                    

Callie merasa tidak nyaman, sulit untuk memejamkan matanya. Perutnya terasa mual dan berulang kali dia merasakan keinginan untuk muntah, tapi tidak ada yang keluar. Perasaannya semakin tegang, terutama karena Gaby belum pulang. Saat ini, yang dia inginkan hanyalah kehadiran Gaby.

Dia mengambil ponselnya beberapa kali untuk memeriksa pesan dari Gaby, tapi tidak ada kabar sama sekali. Sementara itu, di ruang tamu, Raisha masih asyik dengan game yang dimainkannya tanpa henti.

"Apa gue kasih tau Raisha aja ya?" gumamnya dalam hati, "Ah, ntar dia ngamuk! Bisa-bisa dia cerita ke Mommy.." pikirnya lagi.

Dalam kegelapan pikirannya, Callie kembali ke kamar, dihantui oleh pikiran negatif tentang marahnya orang tuanya dan segala ketakutannya akan masa depan jika benar-benar hamil. Sudah pukul 11 malam dan kamarnya sudah gelap, Callie masih terjaga, matanya tetap terbuka meskipun tubuhnya terbungkus dalam selimut kesayangannya.

Tiba-tiba, dia mendengar pintu kamarnya terbuka, tanpa ragu Callie segera bangkit dari tempat tidurnya. Tanpa perlu mengatakan sepatah kata pun, dia langsung memeluk Gaby, yakin bahwa sosok itu yang telah datang untuk menghiburnya.

Gaby merasa sesuatu tidak beres saat melihat ekspresi cemas Callie. Dia mengira Callie akan marah karena pulang terlambat tanpa memberi kabar.

"Hei, kenapa, sayang?" tanya Gaby dengan lembut, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Suara Callie terdengar penuh kekhawatiran, membuat Gaby semakin bingung. Dia hanya pergi untuk berlatih, mengapa Callie begitu gelisah?

"Kenapa kamu lama sekali? Aku menunggumu.." ujar Callie, suaranya penuh dengan kekhawatiran. Gaby mencoba menjelaskan bahwa tadi ada latihan ekstra dan HP-nya mati sehingga tidak bisa memberi kabar.

"Aku minta maaf, sayang.." tambahnya lagi, tapi Callie hanya mengangguk tanpa memberi respon.

Gaby melepaskan pelukannya pada Callie, memegang tangannya dengan lembut, mencoba mencari tahu apa yang membuatnya gelisah. "Ada apa, sayang? Kenapa kamu khawatir?" tanyanya dengan nada yang agak tegang.

"Aku takut. Bagaimana jika ini serius? Bagaimana dengan sekolahku? Mommy sama Daddy pasti kecewa.." ucap Callie lirih, dengan air mata hampir jatuh dari matanya.

Gaby menghela nafas dalam-dalam, merasa bertanggung jawab atas kecemasan yang dirasakan Callie. Meskipun dalam hatinya dia juga merasa takut akan kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

"Dalam situasi apapun, aku akan bertanggung jawab, sayang," ucap Gaby dengan penuh pengertian, berusaha menenangkan Callie. Meskipun sebenarnya, dalam hatinya, dia juga merasa takut akan kemungkinan itu.

Namun, jawaban Callie membuat Gaby terkejut. "No, ini kesalahan kita berdua. Aku dan kamu, bukan hanya kamu saja." kata Callie tegas, menolak Gaby menyalahkan dirinya sendiri. "Jangan salahkan dirimu sendiri.." tambahnya lagi, dengan nada yang memohon agar Gaby tidak menyalahkan dirinya sendiri.

Gaby menatap Callie dengan ekspresi campur aduk antara kebingungan dan keterkejutan. "Kamu seriusan hamil? Tapi, bagaimana cara tahu hamil atau nggaknya??" tanyanya, mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi. Memang, topik kehamilan sepertinya tidak pernah masuk dalam daftar pengetahuan Gaby.

Callie juga terlihat bingung, tidak menyangka bahwa kekasihnya yang biasanya cerdas bisa blank seperti ini. "Ya, harusnya pakai tespek. Tapi masalahnya, kita masih di bawah umur, lho. Bagaimana kita bisa membelinya?" Jawab Callie, wajahnya mencerminkan kekhawatiran yang sama dengan Gaby.

Gaby mengangguk, mulai merumuskan rencana di dalam pikirannya. "Hm sebentar, kemarin kan kamu beli kondom di supermarket, bukan? Tidak ditanya untuk siapa?" tanya Callie.

Going You at a Speed of 8706 : Gabriel&CallieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang