Bagian16

867 73 11
                                    

Raisha hendak turun ke bawah, tidak sengaja melihat melihat Gaby yang tengah termenung di ujung kasurnya. Wajah Gaby terlihat pucat.

"WOI, lu nggak sekolah?"

"Hmm."

"Lah, malah bengong. Siap-siap bro udah siang."

"Ckk, ish iya udah duluan sha, ganggu gue aja lo."

"Galak amat bang!"

Callie, Freya, dan Raisha sudah menunggu Gaby di meja makan, sementara Gaby agak terlambat bangun pagi ini. "Nah, tuh dia, udah siap!" sapa Raisha melihat Gaby menuruni tangga. Gaby bergabung dengan mereka dan duduk di sebelah Callie.

"Kamu mau pakai selai rasa apa?" tanya Callie.

Gaby memandangi wajah Callie dengan serius, "Rasa susu" jawabnya.

"Ish, mana ada, Gabriell. Adanya coklat sama kacang aja."

"Iya, udah coklat."

Callie memberikan roti itu, namun pandangan Gaby terlihat agak aneh. "Kamu kenapa sih? Sakit ya? Kok pucat gitu mukanya?" tanya Callie sambil memeriksa dahi Gaby.

"Ekhemmm... masih pagi Ci.. Bucin mulu lu" sindir Raisha.

"Kamu kenapa, kak? Enggak enak badan kah?" tanya Freya, bingung melihat tingkah kakaknya yang berbeda pagi ini.

"Rai, gue nggak mau tau ya. Lo jangan minum-minum lagi! Ntar gue aduin mommy daddy lo!" ancam Callie pada adiknya.

"Yaelah, cepu lu, nggak asik" ucapnya. "Btw, Gab, kemarin lo ke kamar sendiri? Sakti juga lo. Kata Indira, lo banyak banget minum." lanjutnya.

"Gue yang nganter dia ke kamar" ucap Callie santai sambil memakan rotinya.

Gaby mendengar pernyataan itu dan spontan tersedak, "Astafirullah... lo nggak apa-apain Gaby kan, Ci?" sambung Raisha.

"Mulut lo, Rai. Nggak lah, orang dia langsung tidur, gue langsung balik ke kamar." ucapnya Callie.

"Anjir, ternyata kemarin itu cuma mimpi, tapi rasanya nyata anjing!" gumam Gaby dalam hati.

Kejadian kemarin ternyata hanya mimpi, memang Callie yang menghantarkannya ke kamar. Tapi tidak terjadi apapun di antara mereka. Itulah yang membuat Gaby bengong pagi tadi. Ia merenungi mimpinya yang terasa begitu nyata. Callie benar-benar membuatnya ingin memilikinya sepenuhnya, namun Gaby belum bisa melakukannya. Manusia misterius masih menjadi misteri yang bisa menyakiti Callie kapan saja.

"Oiya, Gab, ntar lo jangan jemput cici sama Freya ya. Gue mau ngdate sama Ka Chika."

"Hmm," jawab Gaby singkat.

-----

Freya dan Callie menunggu dengan antusias di depan gerbang sekolah, ketegangan terasa semakin intens saat mereka melihat mobil hitam yang dikenal mereka berhenti di depan. Pintu mobil terbuka, dan Gaby muncul dengan senyum.

"Ayo naik." serunya dengan nada misterius.

"Kak, ramennya sekarang, ya!" pinta Freya dengan penuh semangat.

"Aku juga mau, Gabrielll" seru Callie, memberikan sentuhan manja pada kata-katanya.

Gaby memandang mereka dengan ekspresi yang sulit ditebak, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Dih dih, lucu lo begitu Call?" sindirnya, namun mata Gaby mengisyaratkan kegembiraan.

"Emang aku lucu, wleeeee!" balas Callie, dengan ekspresi menggemaskan.

Mereka pergi ke tempat ramen di mal terkenal yang agak jauh dari tempat tinggal mereka, tempat itu adalah Ramen kesukaan Callie. Meskipun Callie tidak meminta harus beli di sana, tapi diam-diam Gaby tahu itu.

Going You at a Speed of 8706 : Gabriel&CallieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang