chp 28

6.3K 545 18
                                        

Li jun menatap telapak tangan renjun yang halus,  dia ragu tapi tangan halus itu seolah memanggilnya, apakah renjun akan terus menggenggam tangannya jika dia setuju? Atau dia akan kehilangan kehangatan lagi untuk kesekian kalinya.

Li jun memilih untuk menggapai uluran tangan itu, seperti yang dia duga rasanya hangat dia tidak bisa menahannya dan mengenggam kembali dengan lebih erat, dia takut kalau kalau renjun berubah pikiran dan menghempas kehangatan yang ia tawarkan.

"ayo" renjun berjalan di depan li jun, sayangnya semuanya tidak berakhir semudah itu.

Renjun mencoba membuka pintu tapi terkunci, mereka berlari ke pintu belakang tapi pintunya juga terkunci, semua pintu dan jendela tidak bisa terbuka, bahkan kaca jendela juga tidak bisa dipecahkan.

Renjun dan li jun terkurung, mereka tahu ini pasti perbuatan guanlin tapi mereka tidak menyangka kalau guanlin tidak hanya ingin mengurung mereka tapi membunuh mereka berdua sekaligus.

Api tiba-tiba menyala ditempat yang tidak bisa mereka lihat, semakin besar hingga asap menyebar keseluruh rumah.

"renjun api!"

"guanlin sialan! Cepat ambil air li jun"

"tidak ada air! Airnya tidak keluar, bagaimana ini ren... " li jun ketakutan, dia akan mati, dia akan mati secepat ini.

"li jun tenang, kita pasti bisa keluar dari sini" benar, li jun tidak sendiri, tapi bisakah mereka benar-benar selamat?

Mereka berusaha sekali lagi untuk mencari jalan keluar tapi hasilnya nihil, mereka terkurung di dalam rumah yang entah berada dimana, tidak ada jaringan ataupun telpon rumah, saudara kembar itu menemui keputusasaan.

"hey renjun, jika ada yang namanya reinkarnasi aku harap kita tidak akan bertemu lagi"

"kenapa? Kau masih membenciku?"

Li jun menatap saudaranya, dia tidak pernah membenci renjun, dia hanya cemburu, tapi sebuah nasib buruk bagi renjun untuk bertemu kembaran sepertinya.

"tidak, tapi aku tidak ingin bertemu orang jelek sepertimu" li jun tersenyum, untuk pertama kalinya renjun bisa melihat seberapa tulus senyum pemuda itu, senyum li jun tentu sangat menawan bahkan saat ini api yang sedang menyala tidak bisa membakar senyum pemuda itu.

"aku juga tidak mau bertemu dengan orang bodoh sepertimu"

"uhuk uhuk...  Renjun, nafasku sesak"

"seseorang pasti datang, mereka akan datang uhuk..."

"maaf, semua karena aku" li jun merasa sangat tidak rela, harusnya dia saja yang dihukum saudaranya tidak tahu apa-apa.

Renjun menggenggam erat tangan mereka, dadanya sesak, dia tidak bisa bernafas, dia ingin terus sadar tapi penglihatannya makin kabur, renjun tidak tahan dan jatuh pingsan tapi tangannya masih dengan keras kepala menggenggam tangan pemuda yang lain.

Li jun sangat takut, dia takut melihat renjun yang pingsan.

Pemuda lembut itu tidak pernah melakukan hal berat selama hidupnya tapi pemuda itu masih dengan keras kepala mengangkat tubuh kembarannya ke belakang punggungnya.

Pemuda Itu berulang kali terjatuh tapi terus saja berjalan kembali. Pandangannya mulai kabur, dadanya terasa sesak, dia kembali terjatuh namun kali ini pemuda itu tidak lagi sanggup berdiri.

Tolong... Siapapun tolong selamatkan saudaraku, aku mohon, entah dewa atau iblis sekalipun, selamatkan kami....

.....

Li jun membuka matanya keheranan, dia berada di padang rumput yang indah. Apa ini surga? Orang sepertinya juga layak untuk surga?

Ditengah kebingungannya seorang pemuda muncul, pakaiannya lusuh, kulitnya penuh dengan bekas luka bahkan ada yang masih mengeluarkan darah, pemuda di depannya sangat kurus, keadaannya sangat mengenaskan.

Li jun menangis, pemuda itu adalah renjun lebih tepatnya huang renjun, li jun ingin menggapai saudaranya tapi takut akan menyentuk luka anak itu dan membuatnya kesakitan.

"renjun, kenapa bisa seperti ini" suaranya bergetar.

"aku sudah mati li jun, aku sudah lama mati"

Li jun yang mendengarnya merasa sangat bingung.

"lalu apa aku juga sudah mati?"tanyanya

"tidak kau belum, renjun juga tidak" li jun merasa semakin bingung.

"aku tidak mengerti, jangan bercanda ren"

"aku sudah mati li jun, tubuhku masih sehat tapi aku sudah mati. Renjun dan aku adalah dua orang yang berbeda"

"sebenarnya aku tidak ingin terlihat seperti ini didepanmu tapi auraku habis kugunakan untuk melindungi kalian"

"jadi... Kalian orang yang berbeda? Lalu kau... Apa kau mati Karena aku?"

Jantung li jun berdetak kencang, dia takut renjun akan mengangguk. saudaranya sebenarnya sudah meninggal, kembarannya sebenarnya sudah tidak ada...

Dadanya terasa sakit, dia punya tebakan bahwa dialah salah satu alasan kematian kembarannya.

"bukan kau... Aku hanya terlalu bodoh, senang melihatmu li jun, aku senang melihat li jun yang sama yang diam-diam memasukkan permen susu kedalam tasku"

"aku tidak pernah lupa rasanya, rasanya sangat manis" senyuman hangat muncul dari wajahnya yang tirus.

"aku harus pergi, tolong jangan ganggu renjun, aku dan dia adalah orang yang berbeda dan juga... Bisakah kau berkunjung sesekali ke jurang gelap?"

Li jun menatap huang renjun seolah enggan membiarkan pemuda itu pergi. Air matanya jatuh setetes demi setetes.

"disitu? Apakah disitu... Tempat peristirahatan terakhirmu?" renjun mendekati li jun yang menangis dengan histeris, diusapnya pelan bulir air Mata sang adik.

"sebenarnya jurang gelap tidak sepenuhnya gelap, ada banyak kunang-kunang di dasarnya"

"jangan menangis li jun"

"sejujurnya, aku masih ingin menjadi saudaramu,  aku masih sangat ingin menjadi saudaramu. Jangan lupakan aku..." Pemuda itu memudar dan terbang menjadi cahaya-cahaya kecil yang paling indah yang li jun pernah liat.













Pernah ga sih kalian nangis karena cerita sendiri?! Berasa bego bangett mana sampe sesenggukan lagi buatnya.

La mia casaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang