Hai, Guys...
Ini revisi yang keempat. Ya memang aku nggak mau buru-buru buat ngoreksi ulang cerita yang belum sepenuhnya selesai ini.
Pokok selama proses revisi, aku belum bisa menentukan hari pasti untuk update cerita ini. Tapi aku akan usahakan untuk secepatnya selesai.
Nggak etis banget rasanya kalo cerita belum tamat, tapi aku udah mau pamit duluan.😂
Ya,, minimal biar nggak ngegantung kalian juga sih. Udah, ya... Segitu aja..
Selamat membaca...
🕰️🕰️🕰️
Langit yang semakin menghitam, melukis bayang-bayang hutan yang menjulang seolah menelan mereka. Pohon-pohon jati berdiri tinggi, terlihat angkuh seperti penjaga abadi. Hawa lembap menyesap hingga ke tulang, melingkupi tubuh Harley yang semakin lelah.
Langkah beratnya menyusuri jalanan setapak di tengah hutan, menginjak ranting-ranting yang rapuh di tanah, bercampur padu dengan dedaunan yang mengering, diikuti suara langkah ringan yang nyaris tak terdengar.
Di belakangnya, perempuan yang kini ia sebut sebagai “sumber masalah” melangkah riang sambil terus menyerocos—layaknya radio rusak yang kehilangan tombol mati. Entah apa yang dibicarakan, Harley tidak peduli. Yang dia tahu, suaranya nyaring dan kepalanya berdenyut sakit mendengarnya.
“Sungguh aku tidak menyangka akan menjadi perempuan! Apakah ini memang sudah waktunya aku mempercantik diri dengan tubuh baru ini?” gadis itu, yang belum memiliki nama resmi, terus saja berceloteh.
“Apakah kau tidak bisa diam?” potong Harley tajam, suaranya penuh kelelahan. Ia berhenti berjalan dan menoleh ke belakang, menatap perempuan itu dengan mata menyipit geram. "Jika mulutmu tetap tidak bisa diam, akan ku robek kuat-kuat hingga batas telingamu!"
Perempuan itu berhenti, mengangkat alisnya sambil menyilangkan tangan. “Apa? Kenapa mulutmu itu sangat pedas? Aku hanya mencoba menyuarakan rasa senang ku, saja.”
“Persetan dengan rasa senang mu. Aku tidak peduli,” gerutu Harley, melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban.
Setelah beberapa saat, akhirnya Harley menyerah pada rasa lelah. Sepasang kakinya berhenti di depan sebongkah batu besar, duduk tanpa basa-basi. Punggungnya menyandar pada batang pohon jati yang kokoh, kedua katanya memandang ke atas, mencari sedikit ketenangan di antara celah dedaunan. Napas beratnya berhembus, menggema di tengah sunyi.
Sementara perempuan cantik di seberang berdiri, menatap Harley dengan ekspresi malas. "Rupanya, mendapat tubuh baru juga bisa mempengaruhi kebugaran mu. Bukankah kau dulu seorang Mafia? Lalu kenapa baru berjalan sebentar, sekarang kau sudah mengaku lelah secara tidak langsung?"
Harley tidak menjawab, selain pandangannya yang semakin tajam menusuk iris perempuan di hadapannya.
"Okay, Darling. Aku akan diam."
Perempuan itu lalu duduk di atas akar pohon dekat Harley, kakinya ongkang-ongkang diatas pohon besar yang tumbang. Harley memandangi wajahnya sebentar, mencoba mencari sesuatu yang bisa memberinya sedikit kendali dalam situasi gila ini.
“Aku akan memberimu nama,” kata Harley tiba-tiba.
Perempuan itu terdiam, keningnya berkerut. “Nama? Untuk apa?”
“Apakah otakmu tidak bisa pintar sedikit? Lalu dengan sebutan apa aku memanggilmu jika kau sendiri tidak punya nama? Minimal kau pintar, jangan hanya bisa menyusahkan,” sarkas Harley, capek sendiri menghadapi perempuan yang saat ini cengengesan tak jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEBATAS FIGURAN
FantasyKatakan, manusia mana yang tidak mengenal Harley Titanic, seorang kriminal sejati yang dipaksa mati di usia 45 tahun. Seonggok pemasok narkoba, pengedar ganja. Mafia terbengis penguasa LA. Padahal api neraka sudah siap menyambut kedatangannya, namun...
