Katakan, manusia mana yang tidak mengenal Harley Titanic, seorang kriminal sejati yang dipaksa mati di usia 45 tahun. Seonggok pemasok narkoba, pengedar ganja. Mafia terbengis penguasa LA.
Padahal api neraka sudah siap menyambut kedatangannya, namun...
Cerita ini ditulis dengan tidak terburu-buru. Jadi jangan terlalu berekspektasi tinggi untuk konflik yang jauh lebih serius.
Nikmati saja alur ceritanya. Jika kurang suka, dipersilahkan meninggalkan lapak.
Jika menikmati cerita, diwajibkan memberi Vote.
°°°
| SELAMAT MEMBACA |
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Aaawwhh … lutut aku sakit … hiks…”
***
Teresa mengernyit jijik melihat kelakuan Amora. Bagaimana mungkin ada manusia se menjijikkan ini.
“Hiks … hiks … kamu kenapa jegal kaki aku. Segitu nggak suka ya, kamu sama aku. Hiks ...”
HEI—WHAT THE FUCK IT THIS?!
Teresa berdiri dari duduknya. Tanpa kasihan menendang telinga Amora hingga terjerembab mencium tanah.
“Cewek tolol!” Teresa melotot. Menjewer kencang daun telinga Amora. “Gak usah nyampah di hidup gue, bisa gak, sih?!”
Bukannya paham, Amora semakin histeris menangis menarik perhatian publik.
Hari yang seharusnya menjadi ajang bersih-bersih sekolah kini digeser untuk sebuah drama sampah.
“Sakit, Teresa. Lepasin! Kepala aku sakit. Kamu kenapa jahat banget, hiks..” Tangis Amora pecah. Sekuat tenaga mencoba melepaskan jeweran Teresa yang terlampau sakit.
“Nyenyenye … ngomong sana sama Babi,” balas Teresa mengejek.
Angkasa tak tinggal diam. Langkahnya berpacu cepat menghampiri Amora.
“Bajingan! Singkirin kaki lo dari kepala pacar gue!” nyaring teriakan Angkasa menggelegar.
Sky lantas siap pasang badan menghalangi tubuh tegap Angkasa. Menyulut sumbu pendek mahluk dihadapannya.
“Minggir!” bentak Angkasa.
“Lo gak ada hak sentuh cewek gue,” balas Sky pelan.
“Terus cewek lo bisa seenaknya bully cewek gue, gitu?!”