07. GIS

2.2K 159 2
                                        

Ceritanya mau maraton nulis tiga bab sekaligus. Tapi ternyata, otakku udah panas minta di charge.

Baru pagi ini bisa update lagi. Kalian jangan bosen-bosen ya, baca cerita ini. Xixixi...

°
°

🕰️🕰️🕰️

Cahaya pagi merayap lancang dari celah gorden, menyusup ke dalam kamar mewah yang megah dan luas, namun terasa suram, seperti ruangan yang enggan menyambut hari baru.

Di luar, burung-burung berkicau memecah sunyi, beterbangan di antara dahan-dahan yang terbungkus embun, sibuk mencari-cari kesalahan orang--maksydnya, sibuk dengan urusannya masing-masing.

Sebagian berlalu mencarialan, sebagian sibuk menyuapi anak-anak mereka yang menganga memohon secercah kehidupan, dan lainnya dengan sabar mengerami telur-telur mungil mereka di tengah rimbunnya dedaunan yang melindungi.

Namun, itu semua hanya latar, bagaikan intro musik yang tak lagi penting, karena fokus sesungguhnya bukan di situ. Bukan pada burung-burung itu, melainkan pada sosok remaja laki-laki yang berdiri menjulang di depan cermin, di balik jendela besar kamar yang terbuka.

Tubuh tingginya tegak berdiri, bergeming cukup lama dengan pandangan datar tanpa semangat. Tidak ada keceriaan yang terpantul dari matanya yang setajam elang.

Sosok Harley Titanic, dalam tubuh baru yang lebih muda itu, dalam tubuh remaja Gala, pewaris konglomerat Maladewata, masih sibuk berpikir. Duda tampan 45 tahun itu benar-benar masih belum bisa percaya akan apa yang menimpanya sekarang ini.

Harley menelisik dingin pantulan wajahnya, refleksi tubuh yang ia tempati--seolah semua masihlah bunga tidur yang enggan lenyap. Seolah ini semua hanya halusinasinya, akibat terlalu sering mengkonsumsi ganja dan sabu.

Ia terkekeh sinis, menelisik lekat seragam GIS yang terbalut di tubuhnya, seragam yang begitu cermat dirancang, terlihat mewah, elegan, berkelas, dan sudah pasti berkualitas--seperti sebuah karya seni yang tak sekadar menutupi tubuh, tetapi juga menyuarakan identitas yang tak terucapkan.

Tangannya bergerak lembut membelai pelan blazer seragam yang dikenakannya, dibuat dari bahan wool silk yang lembut, namun begitu padat dan kokoh, seperti hijau nya alam di tengah hutan tak terjamah, deep forest green yang begitu gelap dan menenangkan, seolah menyerap semua perhatian yang datang.

Blazer itu menyelubungi tubuhnya, memiliki potongan structured yang presisi membingkai bahu dan tubuhnya dengan sempurna, menampilkan aura ketenangan dan kekuatan, seakan ia adalah batu karang yang tak tergoyahkan di tengah ombak dunia.

Bergeser sedikit ke atas, tangan Sky dengan hati-hati menyentuh vest yang berwarna senada, juga dibuat dari wool silk, dengan model slim-fit yang membentuk tubuhnya dengan cermat.

Kancing-kancing berwarna emas berkilau di tengah kegelapan bahan, membawa kesan kemewahan yang tak terbantahkan, seperti detail kecil yang sengaja disembunyikan, namun begitu memikat saat ditemukan.

Di antara kancing emas yang memantulkan cahaya, ada sebuah rantai kecil yang menjuntai lembut. Rantai itu, yang melintang dengan anggun dari satu sisi ke sisi lain, menambah kesan elegan, seakan bercerita tentang sesuatu yang tersembunyi--sebuah simbol keanggunan yang tak bisa diabaikan.

Tak ingin kalah perhatian, celana yang dipilih dengan seksama, selaras dengan blazer dan vest, memiliki potongan slim yang membalut tubuh dengan sempurna. Warna yang begitu serasi, dengan gradasi hijau gelap yang menenangkan, tak hanya menguatkan penampilan Gala, tetapi juga mengukuhkan statusnya.

SEBATAS FIGURANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang