Katakan, manusia mana yang tidak mengenal Harley Titanic, seorang kriminal sejati yang dipaksa mati di usia 45 tahun. Seonggok pemasok narkoba, pengedar ganja. Mafia terbengis penguasa LA.
Padahal api neraka sudah siap menyambut kedatangannya, namun...
Hei, Guys... Aku kembali lagi.. Jangan bosan-bosan baca ceritaku, ya...
°°°
| SELAMAT MEMBACA |
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Eh, coba deh, kalian lihat anak baru itu." jari Amora menunjuk dua sejoli dimeja seberang yang tak lain tak bukan adalah Sky dan Teresa.
Sebenarnya, dari tadi Angkasa sudah sadar jika ada manusia asing didalam kantin. Tapi daripada memikirkan hal itu, Angkasa lebih tertarik memandangi wajah Amora.
"Serasi, ya, mereka. Ceweknya juga cantik." Amora kembali bicara, mengambil alih perhatian ke-enam laki-laki yang mengepungnya saat ini.
Mendengar hal itu Rey menggeleng. "Enggaklah, Queen. Seantero sekolah juga tau kalau lo sama Angkasa itu couple goals terbaik dan yang paling serasi disini." Rey mencoba menenangkan Amora yang di serang rasa kurang percaya diri.
"Secantik apapun anak baru itu, lo jelas yang paling cantik disini. Jadi, jangan sedih gitu dong." Disamping Danse, Rasya menyahut.
"Iya, Mor. Lo itu cewek paling beruntung di bumi ini. Lo kaya, pinter, cantik, punya pacar ganteng gak ketulungan dan rasanya, lo gak pantes insecure sama pasangan sebelah. Justru malah kalian yang paling sweet disini." Danse pun turut meyakinkan. Karena memang menurutnya, kecantikan Amora tidak bisa disamakan dengan gadis lain.
"Did you hear what they said, Baby? Cuma kamu yang paling cantik disini dan ya... kamu gak pantes disandingkan sama anak baru itu. Kamu jauh lebih baik, jauh lebih berharga. AndI love you more than anything." Angkasa mengecup sudut bibir Amora yang wajahnya lantas memerah menahan salting.
Danse menjadi cowok pertama yang bersorak heboh mengundang beberapa pasang mata disusul Rey yang koar-koar tak jelas.
"Lagian, tuh cewek punya wajah cantik juga belum tentu pintar. Modal cantik doang kalo gak bisa apa-apa, ya percuma." Rasya mulai julid. Mimik nya kentara sinis tingkat akut.
"Lebih baik kita gak terlalu ngurusin hidup orang deh, Sya." Rey mencoba menasehati Rasya yang memang dari awal menunjukkan rasa tak suka pada Teresa.
"Bukannya gue mau ngurusin hidup itu cewek, Rey. Tapi manusia mana yang gak sependapat sama gue. Penampilan dia aja udah kayak lonte. Umumnya sekolah ya pake sepatu keats bukan malah combat boots yang kesannya tuh berlebihan banget. "
Rey menghela napas lelah.
"Udahlah, Sya. Congor lo sewot banget sama tuh cewek. Mereka ya mereka, kita ya kita. Lo jangan terlalu mengkritik orang lain lah. Kritik aja diri lo sendiri." Danse mulai muak.
"Apa sih, Dan. Kenyataannya gitu kok. Coba kita bandingin sama Amora. Dia keliatan jauh lebih stuning, pake sepatu juga gak menyalahi aturan sekolah. Seragamnya juga sopan, keliatan lebih feminim, pun anaknya gak neko-neko."