Baru selesai direvisi, kalian bisa baca ulang cerita ini.
Selalu dukung karya aku ya, biar aku lebih semangat lagi.
Jangan lupa juga tekan bintang.
Selamat membaca..
🕰️🕰️🕰️
Setelah cukup lama berputar-putar melewati lorong panjang yang dihiasi karpet merah empuk, menaiki tangga spiral besar dengan pegangan kayu mahoni yang mengkilap, lalu melewati lorong lain yang seolah tak berujung, Harley akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar.
Napasnya berat, bukan karena capek, tapi karena otaknya mulai mempertanyakan, seberapa luas sebenarnya rumah ini?
Pintu di hadapannya tampak megah. Hitam legam dengan ukiran rumit di tepinya, memancarkan aura elegan yang nyaris sombong. Pegangannya berbentuk melingkar, dengan aksen emas yang terlihat mahal. Harley meraih pegangan pintu itu perlahan, lalu menoleh ke Teresa yang berdiri santai di sebelahnya.
"Apakah aku harus mempersiapkan mental dengan baik sebelum masuk?" tanya Harley dengan nada sinis.
Teresa hanya mengangkat bahu, senyum tipisnya menggantung misterius. "Silakan cari tahu sendiri, Tuan Muda Gala."
Dengan tarikan napas panjang, Harley memutar pegangan pintu. Pintu itu berderit sedikit, dan setelah pintu terbuka sepenuhnya, aroma yang tidak biasa langsung menyergap indra penciuman keduanya.
Detik itu juga Harley terpaku.
Kamar di hadapannya adalah mimpi buruk visual dalam wujud nyata. Sebuah kamar dengan cat kuning lemon bercampur ungu janda sontak menyentil pupil mata Gala.
Dindingnya penuh wallpaper bergambar Spongebob dan Patrick sedang tertawa lebar. Langit-langit kamar tampak bersinar dengan gambar gelembung dan krabi patty. Di sudut ruangan, ada lampu tidur berbentuk Tayo si bus kecil. Sprei kasur bergambar Minion, lengkap dengan bantal berbentuk kepala Hello Kitty dan selimut bergambar Barney si dinosaurus ungu.
Matanya bergerak ke meja nakas. Ada lampu lava warna-warni, sekumpulan stiker bergambar karakter kartun, dan cermin kecil dengan bingkai pink berkilauan. Di atas nakas itu, ada figura foto Gala yang sedang tersenyum, memegang boneka Pikachu.
"Astaga... APA INI?!" seru Harley, suaranya hampir memecah kaca jendela. Rahangnya jatuh total melihat pemandangan yang tidak pernah terekam di otaknya.
Teresa, yang sudah menebak reaksi ini, hanya menyandarkan tubuhnya ke daun pintu, menyilangkan tangan di dadanya. "Bukankah ini kamarmu, Gala?" katanya santai sekaligus mengejek.
Namun Harley dalam tubuh Gala sudah dipenuhi emosi. Wajahnya semakin memerah padam. Kini langkahnya dipacu mendekati pintu biru pastel di sudut ruangan, membukanya, dan kembali dikejutkan oleh kondisi ruang ganti itu.
Lemari kaca tinggi besar penuh oleh piyama bermotif beruang, kelinci, kucing dan kartun lain yang tertata rapi. Di sebelahnya, lemari khusus kaos berdiri tegak, namun cerahnya kaos-kaos di dalam lemari itu kembali mencekik indra penglihatannya.
Harley menarik salah satu piyama dengan kasar, lalu memandanginya dengan tatapan tak percaya. "Aku tidak menyangka ada manusia yang tetap bisa bernapas dengan pakaian norak seperti ini."
Pada jajaran laci berlapis kaca, banyak sandal bulu dengan karakter Kepiting berjejer apik dengan warna beragam. Tidak ada jam tangan, celana panjang, atau kemeja yang sekiranya bisa dijadikan baju ganti.
Teresa menahan tawa, tapi tak bisa menyembunyikan seringai di wajahnya. "Dia mungkin bisa bernapas dengan pakaian-pakaian yang kau maksud. Bukankah itu termasuk sebuah keajaiban?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SEBATAS FIGURAN
FantasíaKatakan, manusia mana yang tidak mengenal Harley Titanic, seorang kriminal sejati yang dipaksa mati di usia 45 tahun. Seonggok pemasok narkoba, pengedar ganja. Mafia terbengis penguasa LA. Padahal api neraka sudah siap menyambut kedatangannya, namun...
