Katakan, manusia mana yang tidak mengenal Harley Titanic, seorang kriminal sejati yang dipaksa mati di usia 45 tahun. Seonggok pemasok narkoba, pengedar ganja. Mafia terbengis penguasa LA.
Padahal api neraka sudah siap menyambut kedatangannya, namun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dari sayap kanan gerbang, suara deru mesin yang berat dan kasar mendobrak keheningan seperti tamparan di tengah mimpi indah. Semua orang membelalak, serentak terpaku saat sebuah motor sport berwarna hitam pekat masuk, meluncur dengan keangkuhan yang sulit disangkal. Cahaya matahari mengantuk di bodinya, menciptakan kilau bak pedang yang dihunus ke arah langit.
Motor itu melaju dengan elegan, menggilas kerikil tanpa suara bising, membawa dua sosok di atasnya yang tampak seperti dewa-dewa yang turun ke bumi. Ketika motor itu berhenti, waktu seperti ikut membeku
Percakapan yang tadinya memenuhi udara tiba-tiba berhenti, sorak-sorai yang mendongkrak ketenangan langit ikut lenyap, dan GIS jatuh dalam keheningan yang aneh.
Sosok di belakang helm, yang sebelumnya tak terganggu oleh sorotan mata akhirnya bergerak. Teresa, gadis dengan rambut gelap mengalir seperti aliran tinta, membuka helmnya dengan gerakan pelan namun penuh keyakinan. Rambutnya tersibak oleh angin yang tiba-tiba datang, menari-nari di bawah sinar matahari.
Sky, yang duduk di depan tak kalah mencolok. Setelah melepas helmnya, rambut badai berwarna gelap menghiasi kepalanya, memantulkan kilau samar di bawah sinar mentari pagi. Dia tak banyak bicara, atau memang tidak ingin bicara, hanya menyapu pandangan ke sekeliling dengan kata tajam yang mengintimidasi.
Tak menunggu waktu lama, suasana semakin kacau gak terkendali. Teriakan mulai menggema, riuh pecah seperti gelombang pasang. Bisik-bisik Jahanam membumbung tinggi menggertak langit, menjalar halus menusuk gendang telinga satu sama lain.
"Gila! Siapa itu bjir!"
"Murid baru bukan sih?"
"Itu yang kemarin digosipin bakal sekolah di sini, ya?"
"Jadi serius sekolah kita kedatangan murid baru? Anjirlah!"
•••
"Assalamu'alaikum, semuanya!"
Sosok cantik kisaran usia 30 memasuki kelas dengan sebuah salam. Saat ini jarum jam mengarah tepat di angka sembilan, yang artinya rapat sudah selesai. Sementara waktu pembelajaran sudah dimulai sejak pagi tadi pukul tujuh seperempat.
"Oh, ada murid baru, ya? Ayo maju kedepan."
Seisi kelas memusatkan pandangan pada satu titik, dimana Gala dan Teresa mulai beranjak dari kursi dan melangkah maju secara bersamaan.
"Sekarang, saya dan semua yang ada disini ingin tau nama kalian berdua."
Teresa diam sejenak, irisnya menyapu teratur dua puluh lima murid yang menatapnya dengan pandangan beragam.
"Oke, Guys... Nama gue Teresa Abigail, pindahan dari New Zealand yang bulan ini genap 18 tahun." Entahlah, Teresa hanya mengarang darimana ia berasal. Yang penting anak sekelas mengangguk paham, Teresa tak ambil pusing.