| SELAMAT MEMBACA |
🕰️🕰️🕰️
Sementara kamarnya masih direnovasi, untuk beberapa hari ke depan, Gala tidur di kamar tamu. Remaja dengan jiwa duda tua itu baru saja keluar dari kamar mandi, kulitnya masih basah berkilauan, hanya handuk putih yang melilit pinggangnya.
Rambutnya yang hitam legam menjuntai, meneteskan air ke lantai marmer. Mata tajamnya langsung tertuju pada sosok Teresa yang tampak santai rebahan di ranjang. Tangannya terlipat di bawah kepala, sementara mata beningnya menatap langit-langit dengan raut malas.
Tanpa berpikir panjang, Gala mengambil handuk di kepalanya. Dengan gerakan cepat, dia melemparkan handuk itu tepat ke wajah cantik Teresa.
“Ih! Ngapain handuk basah kamu lempar ke aku?!” Teresa bangkit seketika, handuk itu jatuh ke pangkuannya. Wajahnya cemberut, bibirnya sedikit mengerucut.
“Keringin rambut gue,” perintah Gala, sambil menjatuhkan dirinya ke lantai, duduk bersandar ke ranjang dengan santai.
Teresa mendengus. “Emangnya ga bisa, ya, ngeringin rambut sendiri? Kamu juga ada hair dryer tuh.”
Gala mendongak, menatap Teresa dengan mata tajam yang menyiratkan ketidaksabaran. “Terus gunanya lo di sini apa, hm?” Nadanya rendah, hampir seperti bisikan, tapi penuh tekanan.
Teresa menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal yang hampir meluap. Namun alih-alih berdebat, meski dongkol setengah mati, ia tetap meraih handuk di pangkuannya dengan sedikit kasar. Tangannya mulai menyisir rambut Gala dengan handuk, gerakannya lambat tapi telaten.
Gala, yang masih duduk santai di lantai dengan rambut basah dan tubuh hanya dililit handuk, tampak menatap kosong ke arah dinding. Sesekali, napasnya keluar dengan malas, seolah momen ini lebih membuang waktunya daripada menguntungkan.
“Kamu mau denger penjelasan ku lagi nggak?” Teresa membuka suara, memecah keheningan. “Mumpung kita ada waktu, aku mau kasih kamu sedikit masukan soal dunia ini," lanjutnya, dengan gaya bicara yang terkesan lebih santai.
“Hah?” Gala melirik ke atas, malas. “Lo nggak bisa diem, ya. Gue baru selesai mandi, mau tenang dikit, malah ceramah.”
“Terserah apa kata kamu deh. Pokoknya aku bakal tetep jelasin alur cerita kehidupan di sini, di dunia novel yang kamu tempati saat ini," balas Teresa tersenyum miring, sedikit menekan kepala Gala hingga nyaris tersungkur ke depan.
"Lo yang bener aja, tai," kesal Gara, menyikut paha putih Teresa sedikit keras, membuat gadis dalam balutan piyama di belakangnya terkikik.
"Lagian apa pentingnya sih, dunia novel yang lo maksud ini?" tanya Gala malas. Kenapa sekarang hidupnya jauh lebih rumit sih.
Ke akhirat udah, mati suri baru kemarin, dan sekarang apalagi..?
"Tentu penting, dong, Gala. Jangan sampai kamu berpikir, bahwa besok kamu udah kembali lagi ke kehidupan kamu sebelumnya. Itu salah besar!"
Gala terdiam.
"Kamu dikirim ke sini itu justru menjadi babak baru, lembaran baru, kejutan baru buat penulis yang sedang mencoba menyempurnakan ceritanya," jelas Teresa. Masih mengeringkan rambut Gala yang lumayan lebat.
“Kamu bakal ketemu sama tokoh-tokoh ciptaan penulis, kamu bakal berinteraksi sama mereka ke depannya nanti. Aku sih, nggak bisa kasih detail soal siapa mereka satu per satu sekarang, tapi intinya, mereka punya peran penting. Sangat penting.”
Begitu rambut Gala sepenuhnya kering, Teresa beranjak dan berjalan mendekati meja rias, menyambar sebotol minyak urang-aring dan menuangkannya pada rambut Gala.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEBATAS FIGURAN
ФэнтезиKatakan, manusia mana yang tidak mengenal Harley Titanic, seorang kriminal sejati yang dipaksa mati di usia 45 tahun. Seonggok pemasok narkoba, pengedar ganja. Mafia terbengis penguasa LA. Padahal api neraka sudah siap menyambut kedatangannya, namun...
