"Gokil! Harusnya gue tampar balik nggak sih?!!" serunya saat melihat video dari layar ponsel yang digumuli sekumpulan siswi. Dari base sekolah, tersebar heboh video Remy sedang menampar Areta dari rekaman CCTV. Entah siapa lagi kali ini yang membuatnya jadi trending topik dua hari berurut-turut.
Tentu saja semua mata langsung mengarah padanya. Ia yang di tatap seperti itu justru mengangkat bahu dan pergi dari sana. Ternyata, putus dari Remy tak berpengaruh apa-apa padanya. Ia bahkan tidak menangisi Remy. Sama sekali. Justru ia sibuk memikirkan Darhan. Laki-laki yang tidak pernah ia duga kehadirannya. Seakan sudah mengenal lama, ia dan Darhan bicara banyak, panjang pun menyenangkan. Obrolan penting dan tak penting jadi membuat Areta lupa akan patah hati yang baru ia terima. Ini keajaiban, sejauh ia berkencan, baru kali ini proses move on-nya secepat kilat.
"Remy brengsek!!!" seruan itu mengambil atensi Areta. Di lapangan ia melihat Ajay yang jalan terburu-buru mendekati Remy lalu melayangkan satu pukulan pada wajahnya. Tak sampai di situ, pemuda yang selalunya banyak bercanda dan bertingkah konyol itu jadi seperti api yang melahap seluruh kayu bakar. Terlihat oleh Areta kedua sorot mata yang murka dan siap membabi buta siapa saja yang jadi musuhnya.
Lapangan mulai ramai dikerumuni siswa dan siswi. Banyak yang menonton pergulatan-lebih tepatnya kebrutalan Ajay yang menghajar Remy tanpa sedikitpun perlawanan. Tak ada yang berani mendekat, bahkan para siswa yang harusnya melerai justru asyik menonton tanpa sedikit pun rasa inisiatif untuk menengahi.
"Ajay sinting!" umpat Areta kemudian berlari menuju lapangan tempat kejadian.
Dengan tubuhnya yang kecil, ia berhasil menyelinap hingga berada tepat di depan tragedi perkelahian. Areta kaget dan menutup mulutnya. Mata kiri Remy membiru, sedang sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ajay masih terus dikuasi oleh amarahnya yang meledak-ledak. Gadis itu tau, pasti Ajay mengamuk karena menonton video yang tersebar pagi ini.
"Jay, udah!!!" Teriak Areta namun sama sekali tak diindahkan oleh pemuda itu.
"Bar! Tarik Ajay!!" Titah Areta pada Barra yang ternyata salah satu orang yang menikmati pertunjukan pagi ini.
"Bjir, babu lo serem, Ta!" seru Barra takut-takut mendekati Ajay yang kesetanan.
"Tar, tolongin Barra!" Kini ia menitah Atar karena tampaknya tak berhasil jika Barra hanya sendirian.
"Allahummalakasumtu..." ucap Atar menadahkan tangan dan membaca doa buka puasa. Padahal dia sedang tidak menjalankan ibadah itu.
Berhasil. Dengan tenaga dari duo gapura kabupaten, Ajay kini sedikit menjauh dari jangkauan Remy. Namun ia tetap saja tidak bisa diam. Teriakannya menggema ke seluruh sekolah. Dan karena tenaganya kalah besar dari Atar dan Barra, Ajay hanya mampu meludahi Remy karena kedua tangannya ditahan duo gapura kabupaten.
"Beraninya cuma sama cewek! Maju sini lo anjing!!!" seru Ajay masih terus berusaha meludahi wajah Remy dengan liurnya.
"Jay, udah!!" Teriak Areta sekali lagi. Pemuda itu meliriknya, namun ia tidak peduli dan lagi-lagi melemparkan liurnya pada Remy yang tak berdaya.
"Panggilan kepada Frederick Art Jay, Remy Ganendra, dan Areta Wajdi untuk datang ke konseling sekarang juga," Suara Mr. Jo terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Semua kepala kompak menoleh pada toa di sudut bangunan. Ajay berhenti dari kegiatannya, Areta menghela napas sedang Remy bersusah payah untuk bangkit.
"Sama Darhanaru sekalian," sambung Mr. Jo membuat empunya melongo keheranan. Perasaan ia tidak terlibat dalam perkelahian ini. Ia dan Raksi bahkan hanya menonton dari pinggir lapangan karena malas kalau kalau mereka di suruh melerai.
"Kenapa lo?" tanya Raksi yang juga sama herannya.
"Tau!" Namun meski begitu, ia pergi juga untuk memenuhi panggilan guru konseling kesayangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daretaloka
Fanfiction𝙙𝙖.𝙧𝙚.𝙩𝙖.𝙡𝙤.𝙠𝙖 (n) dunia, jagat, semesta milik sepasang manusia bernama Darhan dan Areta yang berisi renjana lengkap dengan lara. ©sshyena, 2023
