Ketjup

19 3 0
                                        

"WHAT?!" Teriakan Ajay membuat semua yang ada di warung Bi Iteung menoleh.

"Lo sama dar-mmhpwh!" Belum habis dia bicara, mulutnya langsung dibekap Darhan. Dia tidak boleh membiarkan orang-orang mendengar apa yang sudah dia dan Areta lakukan. Meski itu bukan kesalahan. Tapi, malu bung!

Darhan melepaskan bekapan tangannya dari mulut Ajay kemudian menarik kekasihnya keluar dari warung dan mencari tempat untuk bicara berdua. Setidaknya, yang tidak akan didengar oleh siapa pun.

Dan di sinilah mereka, di depan rumah orang lain yang Darhan tidak kenal itu siapa. Tapi anak gadisnya juga bersekolah di Citaprasada. Kalau tidak salah, dia sahabat dekat Flora.

"Lo serius menghindar dari gue cuma gara-gara salting gue cium?" tanya Areta melipat tangan di dada. Menuntut Darhan untuk lekas menjawab.

Darhan menghela napas. Kalau begini mana bisa dia mengelak lagi. "Iyaa."

"Kenapa?" tanya Areta mengerut dahi. Dia tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang setelah berciuman malah kabur menghindari pasangannya.

"Ya, nggak bisa aja. Lo bilang kalau mau merokok cium lo aja. Terus nggak pakai izin lo tiba tiba cium gue. Ya, gue tau sih lo emang banyak actionnya, tapi kalau kayak gini gue-" Omongan Darhan berhenti lagi. Bibir mereka bertemu lagi. Jantung Darhan berdetak kencang lagi. Tapi kali ini tidak lama, karena beberapa detik setelahnya, Areta menarik dirinya.

Darhan mengulum bibirnya demi menahan senyum. Tapi percuma saja, karena telinganya merah seperti habis dijewer ribuan kali. Dan irama jantungnya terdengar sampai ke telinganya sendiri. Ah, kalau begini terus, lama-lama Darhan bisa kena Aritmia.

"Dasar bocah tantrum," ledek Areta setelah memperlakukan Darhan dengan semena-mena.

Pemuda itu tertawa renyah. Padahal dia yang membuat Darhan tantrum setiap hari. Tapi seolah-olah tidak sadar diri. Lihatlah bibirnya yang mengkilap itu, bagaikan menggoda Darhan untuk kembali di kecup.

Cup!
Kalau pertahanan diri Darhan lemah, itu artinya salah Areta. Dia yang selalu menguji kesabaran Darhan.

"Cherry," ungkap Darhan setelah mengecup dan merasakan ada sedikit rasa manis dari bibir Areta.

"Itu namanya lipbalm," jawab Areta.

"Manis," sambung Darhan sambil menjilat bibirnya.

Di antara tatap mata dan degup jantung yang kian berpacu itu. Waktu rasanya berhenti di antara mereka. Warna mata yang sejak pertama kali jumpa sudah membuat Darhan terpana. Dalam sukma yang diam dia bersuara, "mungkin inilah yang disebut permata."

Cekrik!

Suara itu membuyarkan kasmaran di antara mereka. Entah musuh mana lagi yang kini akan mengejar mereka. Dan satu yang pasti, dia mengejar Areta. Seakan si musuh tak senang jika lawannya merasa lengah sedikit saja.

Darhan menilik ke sekitar. Dia tidak menemukan apapun. Tidak melihat gerak-gerik mencurigakan. Aneh, biasanya dia selalu awas dan siaga. Namun manis bibir Areta mengalihkan fokusnya.

"Udah, biarin aja. Paling besok trending di X." Seakan sudah terbiasa, gadis itu mundur selangkah demi memberi jarak.

"Nggak bisa gitu, Ta. Ini kan privasi. Kalau sampai lo masuk base sekolah lagi gara-gara ini, berarti memang ada yang sengaja mau lo jatuh," balas Darhan tak terima. Dorongan protektif muncul entah dari mana.

"Yaelah, kayak baru pertama masuk sekolah aja lo. Udah biasa kali. Base sekolah itu kan dibuat memang untuk gue. Lo liat aja isi tweetnya, kalau nggak ngebahas kebaikan Remy, ya ngejelekin gue."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 07 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DaretalokaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang