#DaretaForeverAndEver

97 13 12
                                        

Satu hal yang pagi ini mengganggu kepala Darhan. Ia ingin meminta motor. Tapi, bagaimana kalau papa tidak setuju dan malah memarahinya. Sebenarnya, papa sudah pernah menawarkannya untuk membeli motor saat pertama kali merantau ke Jakarta. Namun bodohnya, saat itu ia tolak mentah-mentah dengan alasan bahwa ia juga tidak akan ke mana-mana. Sekolahnya dekat dan dia pun memiliki skateboard yang siap membawanya ke mana saja. Baru kali ini ia rasa menyesal telah menolak tawaran papa tiga tahun lalu. Sekarang ia sudah mau lulus dan kemungkinan akan kembali ke Bandung. Kecuali, Ara mengizinkannya untuk lanjut kuliah di sini.

"Pa," panggil Darhan saat ia sudah siap dengan pakaian sekolah juga tasnya.

Papa yang sedang memakai dasi hanya melirik dari kaca yang memantulkan tubuh Darhan.

"Aru...boleh minta motor, nggak?" Pertanyaan itu keluar juga. Dengan matanya yang terpejam, ia menunggu jawaban papanya. Agak menyeramkan jika sudah terbayang amarah papa.

"Tiba-tiba?" balas pria itu sedikit kebingungan.

"Iyaa, boleh nggak?" Darhan membuka matanya lagi demi melihat raut wajah papa.

"Waktu pertama kali ke sini udah papa tawarin tapi kamu nggak mau. Sekarang kenapa tiba-tiba mau?" tanya papa selesai dengan dasinya. Pria itu menatap si sulung yang gugup dan gelisah.

"Soalnya waktu itu belum perlu," gumamnya namun masih dapat terdengar.

"Emang sekarang perlu?"

Darhan mengangguk kecil. Masih sedikit takut meski tahu papa sedang tidak memarahinya.

Ara keluar dari kamar mandi setelah selesai absen pagi. Ia merasa atmosfer yang berbeda saat keluar dari sana. Ruang tidur ini terasa canggung dan ada sedikit ketakutan yang tergambar dari wajah kakaknya. Sejak di kamar mandi tadi pun ia sudah mendengar percakapan papa dan Darhan dari awal.

"Buat apa?"

"Buat—" Baru saja Ara hendak bicara, Darhan langsung buru-buru menutup mulut adiknya. Takut kalau kalimat yang keluar dari bibir Ara adalah sesuatu yang memicu amarah papa. Sudah bagus pria itu mood-nya tidak jelek.

"Buat pergi-pergi. Atar sama Barra sering ngajak Aru sunmori. Jadi-ya-gitu-pokoknya." jawabnya sedikit tergagap di akhir kalimat. Sungguh, itu adalah alasan paling tidak masuk akal yang pernah ada.

"A-aru berangkat dulu," katanya langsung terburu-buru pergi dengan tak lupa mencium punggung tangan papanya. Saat ia berkata begitu tadi, raut wajah papa langsung berubah. Bingung, mengintimidasi, juga skeptis. Mungkin setelah ini pria itu akan curiga tentang masud dan tujuan Darhan meminta alat transportasi. Dan Ara pasti akan jadi musuh dalam selimut baginya.

"Aru kenapa?" Benar, kan. Belum lima menit Darhan pergi meninggalkan kamar hotel, papa langsung bertanya pada Dirhanara.

Namun bukannya menjawab, gadis itu justru bernyanyi, "If we never try, how will we know~~
Baby how far this thing could go~~~~" sembari pergi untuk sarapan.

"Give me a sign
If I'm on your mind~~
I don't wanna fall in love alone~~~" senandung merdu milik Raksi Tejawulan meriuhkan suasana pagi kelas IPS 5 yang senyap dan sunyi.

"Wilujeng Enjing, barudaks!!" serunya menyapa Darhan dan Atar. Disusul Barra yang baru datang sudah memasang raut kusut.

"Masih pagi udah ngomong kasar," celetuk Atar yang tadinya sibuk dengan ponsel.

"Enjing, bodoh! Bukan anjing!" gas Raksi sesaat setelah ia duduk di kursinya.

"Lo kenapa, Bar?" tanya Darhan yang menyadari raut Barra tidak seperti biasanya.

DaretalokaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang