Dunk membuang napas. Rasanya berat, sedikit sesak.
Dia memisahkan diri dari Nicha, Fourth dan Satang sebelum hari gelap. Papa memintanya untuk datang berbela sungkawa ke rumah Michael dan Dunk menurut. Nicha meminjamkan kemeja hitam agar dia bisa datang dalam tema duka.
Nicha juga tidak membiarkannya pergi sendiri. Menurutnya, hujan deras yang datang tiba-tiba setelah Kay meninggalkan restoran mungkin pertanda tidak baik. Jadi, Nicha menyetir dengan Dunk duduk di sampingnya, sementara Satang dan Fourth duduk di belakang. Suasanya menjadi melewati ambang batas ketenangan yang umum ketika dua anggota band populer itu sedang bersama. Semua bersebab dari kediaman Fourth yang terlihat memikirkan apa yang tadi Kay akui kepada mereka.
Kay bisa dikatakan satu-satunya yang sudah mendapatkan kebebasan, meski dia sendiri tidak sadar telah melakukannya. Setidaknya, ketidaksengajaan yang dia lakukan membebaskannya dari kaisar Naga.
Joong memberi kabar ketika Dunk dalam perjalanan. Cowok itu mengatakan bahwa dia kira, hari ini akan aman karena kaisar Naga tidak akan muncul, tetapi sepertinya dugaannya salah sehingga Joong meminta Dunk untuk tetap bersama Satang atau Nicha sebelum dia menyusul.
Dunk menanyakan mengapa kaisar Naga tidak muncul dan mengapa tiba-tiba kembali muncul, sayangnya, Joong tidak menjawab.
Angin kencang datang. Langit gelap dan jalanan mulai dipadati rintik air. Sekalipun mereka tidak sedang melaju di jalan utama, tetapi tetap saja, cuaca buruk bisa sangat mengganggu jarak pandang.
Nicha mengedipkan mata tiga kali, memberi gambaran bahwa dia sedang berusaha keras untuk fokus pada jalanan.
"Kak Nicha ... dia di sini...!" Fourth mencicit, meringkuk di jok belakang dengan tubuh gemetaran.
Satang terlihat kebingungan karena setelah itu, Fourth mulai merau. Dunk menoleh ke belakang, memeriksa kondisi dua orang yang lebih muda.
Kepanikan mendatanginya karena di balik tetesan besar air hujan yang deras, Dunk bisa melihat sosok-sosok aneh yang berjajar. Mereka besar, kulit mereka bersisik, dan mereka memakai baju zirah.
Debaran terasa menyakitkan ketika kabut menyelimuti sekitar. Seolah mobil Dunk yang Nicha kendarai terjebak dalam lautan kabut pekat yang tebal hingga tidak ada apapun yang bisa mereka saksikan dari dalam.
"Ini berlebihan." Nicha berkata pelan.
Dia tidak menghentikan mobil meski menyetir lebih pelan dan sedikit menepi.
Dunk mencoba untuk tenang. Dia ingat penjelasan Joong bahwa dia akan aman ketika bersama Pond atau Satang, meski saat itu dia belum paham apa yang Joong maksud. Pengakuan tidak langsung dari Pond semalam membuat Dunk kembali menoleh ke belakang untuk melihat Satang.
Satang yang terlihat mencoba menenangkan Fourth akhirnya berhasil membuat wajah yang serupa milik selir agung keempat itu tidak lagi meracau. Meski Fourth tetap meringkuk ketakutan, setidaknya dia terlihat membaik.
"Kak Nicha ... aku pikir kita ...," Dunk gagal menyelesaikan kalimatnya yang berniat utnuk meminta Nicha mencari tempat menepi terdekat saja, karena model penuh pesona itu meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Dia ada di sini!" Fourth memekik, mengagetkan mereka semua.
Nicha mulai terlihat mengatur napasnya. Sepertinya, dia juga mulai ketakutan.
Dunk yang ada di sana tanpa sengaja melihat sosok besar yang mendekati jendela mobil, menuju ke arah Fourth. Mata makhluk itu lebih besar dari telapak tangan Dunk sendiri, berwarna kuning terang.
Entah sihir apa yang melingkupi mata itu, Dunk tidak bisa menjelaskannya. Dia hanya menjadi begitu lelah, sangat mengantuk, dan terlelap tanpa sempat mengucap apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 Concubine (END)
Fantasía(Warning: Boyslove, fantasi) Mimpi itu berulang, dan anehnya saat Dunk memposting apa yang dia lihat dalam mimpinya, dia menemukan bahwa ada orang lain yang juga mengalami mimpi yang sama persis. Setelah mimpi itu mulai muncul, perlahan dia merasaka...
