Pond mengambil napas dalam-dalam, kemudian melepas napasnya sampai habis, seolah cowok tinggi dengan bahu lebar dan punggung kokoh itu berniat mengosongkan paru-parunya dari udara.
Di sebelahnya, Phuwin terlihat tenang-tenang saja, tidak seperti Dunk yng sudah memucat dan gemetaran ketika tangannya mulai bersentuhan dengan kelopak-kelopak berwarna merah itu.
"Dunk, kamu baik-baik saja?" Pond menayakan keadaan Dunk.
Phuwin menoleh ke belakang, memberikan senyum tenang ke arah Dunk, seolah mengatakan secara tidak langsung kepada yang lebih tua bahwa mereka akan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan sema sekali.
"Aku ... entahlah!" Dunk membalas pelan, menolehkan wajahnya ke samping, ke sisi kosong yang kemudian dia jadikan sebagai tempat untuk buket mawar merah itu.
Dunk menyukai bunga. Dia selalu berpikir bahwa bunga mewakili perasaan manusia, menyiratkan pesan yang mungkin tidak bisa diutarakan lewat kata-kata. Akan tetapi, setelah mendengar --atau mungkin menyaksikan sendiri-- penjelasan dari Joong semalam, Dunk justru melihat mawar merah itu seperti perwakilan dari teror dan ancaman.
Pond tidak lantas melakukan sesuatu yang mencolok, dia memutar mobil, membawa Dunk mengantar Phuwin terlebih dahulu ke sebuah tempat. Awalnya, Dunk kira Pond bakal mengantar Phuwin ke kantor agensi atau rumah salah seorang temannya, tetapi ternyata, Phuwin turun di pintu masuk sebuah taman.
Tidak ada percakapan serius setelah itu. Phuwin hanya mengucapkan terima kasih atas tumpangan yang Pond berikan dan sekali lagi mengucapkan turut bersedih atas kematian ketua angkatan mereka. Setelah itu, Phuwin keluar dari mobil dan menyempatkan diri melempar senyuman kepada Dunk.
***
Dunk memotong daging di piringnya dengan setengah hati. Dia tahu tubuhnya butuh nutrisi, karena itulah dia tetap duduk dan menyantap makan malamnya setelah berdiam diri di dalam kamarnya nyaris seharian.
Setelah mengantarnya pulang, Pond kembali pergi. Dia memiliki kelas dan harus pergi ke kampus. Dunk sendiri tidak memiliki kelas yang harus dihadiri. Semua kelasnya dibatalkan karena kecelakaan yang menimpa si ketua angkatan. Sesuatu yang juga membuat Dunk sedikit mual saat menyantap daging dengan tingkat kematangan medium di piringnya.
"Dunk sayang, apakah kamu diet lagi? Mama lihat kamu sedikit lebih kurus dari sebelumnya, dan ... kamu bahkan belum makan sesuappun!" Mama menegur dengan tutur yang lembut, sangat anggun khas sosok yang dibesarkan dalam lingkungan terbaik.
Dunk mengangkat wajahnya, baru sadar dia tidak makan sendirian. Malam ini, bukan hanya orang tuanya, tetapi juga ada bibi dari pihak ibunya dan kekek-neneknya. Tiga sepupunya juga ada di sana, berakhir menatapnya dengan wajah penuh tanya.
Dia bahkan tidak sadar hanya memotong daging membentuk dadu kecil tanpa menyuap sama sekali, bahkan dia berdiam dalam kebisuan dan tidak turut menyertai perbincangan.
"Kamu pucat, Nak. Apakah kamu merasa tidak enak badan? Mau istirahat lagi?" Bibinya menatap dengan tatapan menyelidik.
Wanita itu terkadang berbicara tanpa filter, tetapi sejatinya dialah orang yang paling protektif pada Dunk.
"Tidak apa-apa, hanya sedang merasa ... begitulah," Dunk bingung.
Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa seorang makhluk yang bukan manusia, berwujud setengah naga telah menganggap dirinya sebagai peri hutan yang merupakan selir ketujuhnya, kini sedang rajin sekali mengawasi dan mencoba untuk mendekatinya.
Bisa-bisa, mereka menganggap Dunk sudah kehilangan kewarasan.
"Papa sudah dengar mengenai kecelakaan yang menimpa salah seorang temanmu itu. Ayahnya kebutulan adalah salah satu kenalan Papa juga. Apakah kamu merasa tidak enak karena hal itu?" tanya Papa, menebak saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 Concubine (END)
Fantasia(Warning: Boyslove, fantasi) Mimpi itu berulang, dan anehnya saat Dunk memposting apa yang dia lihat dalam mimpinya, dia menemukan bahwa ada orang lain yang juga mengalami mimpi yang sama persis. Setelah mimpi itu mulai muncul, perlahan dia merasaka...
