Sudut Pandang 185

388 39 3
                                        

Meski tidak menggunakan alat ukur standar, Dunk bisa memperkirakan tubuh yang beberapa tahun lebih muda darinya itu menjulang sampai sekitar seratus delapan pulun centimeter, hampir satu telapak tangan lebih pendek darinya.

Kemacetan terjadi terlihat begitu parah, sampai jalanan di depan kafe tempat mereka berada disesaki mobil. Motor bahkan tidak bisa bergerak lagi.

Keduanya menyaksikan pemandangan itu dari jendela kafe yang besar di lantai dua setelah sebelumnya Phuwin berpikir untuk pulang. Setelah melihat seperti apa kondisi jalanan, kemungkinan besar bukan hanya Dunk dan Joong, tetapi Phuwin dan dua bocah lain yang turut bersamanya juga harus terpaksa bertahan di sana, setidaknya sampai kemacetan itu sedikit terurai.

"Mungkin karena kecelakaan atau apa yang kita lihat tadi?" Pond sudah ikut berdiri, seperti sebuah gapura besar yang mengisi ruang di antara Phuwin dan Dunk sampai habis.

Dunk hanya mengangguk-angguk karena dia juga memiliki perkiraan yang sama, lain halnya dengan Phuwin yang terlihat mengerutkan kening sedikit sebelum membuat wajah bingung.

Pond mengangkat kedua tangannya, nyaris mencapai hiasan yang ada di atas jendela, lantas menggunakan tangan kanannya untuk merangkul Phuwin dan tangan kirinya dikalungkan di pundak Dunk. Phuwin terkejut sesaat, tetapi saat melihat Dunk yang santai saja diperlakukan demikian oleh Pond, dia mengatupkan kedua belah bibirnya, batal protes.

Dunk bersyukur sekali Phuwin tidak langsung bereaksi spontan dengan menampar Pond atau menuding model tampan itu melakukan tindak pelecehan.

"Di sana, sekitar satu setengah atau dua kilometer dari sini, tadi aku melihat mulai ada kerumunan. Kemungkinan besar baru saja terjadi kecelakaan lalu lintas!" Pond menarik tangan kirinya yang ada di pundak Dunk dan menggunakannya untuk menunjuk ke arah kejadian, bercerita pada Phuwin.

Dunk hanya bisa menahan senyumnya, menilai betapa lihainya Pond membuat sebuah kesempatan muncul di antara ketidakmungkinan. Dilihat dari reaksi awalnya saja, meski masih sangat muda Phuwin sepertinya memang tipikal yang sulit untuk ditakhlukkan.

"Kecelakaan? Tunggal?" tanyanya dengan suara yang memberi getaran rasa ingin tahu.

Ketika Phuwin mencoba melongok untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih luas, Pond turut menggerakkan kepalanya, membuatnya berada lebih dekat dengan Phuwin lantas menjelaskan bahwa kemungkinan besar memang sebuah kecelakaan tunggal karena tidak ada kendaraan yang terlihat terguling atau bertabrakan seperti biasanya.

Pond lantas menambahkan bahwa sangat mungkin terjadi kecelakaan yang diakibatkan oleh kondisi jalan, terutama karena belum lama hujan turun dan dilanjutkan gerimis. Kondisi tubuh yang lelah dan keramaian jalan juga bisa mempengaruhi seorang pengemudi.

Fourth dan Satang yang mendengar penjelasan Pond ikut tertarik, membuat keduanya segera mendekat lantas berdiri bersisian di sebelah Phuwin. Keduanya melihat Pond yang sudah menempeli Phuwin seperti seongok besi raksasa yang menempel pada magnet, juga melihat bagaimana tangan Pond seolah sedang menandai teritorinya tetapi keduanya sama sekali tidak berkomentar.

"Apakah rumah Kak Pond dan Kak Dunk jauh dari sini?" Fourth tiba-tiba bertanya.

"Rumahku sekitar lima kilometer saja dari sini, tetapi rumah Pond sedikit lebih jauh. Hanya saja, melihat kemacetan yang tidak bergerak sama sekali seperti ini, entah apakah kami bisa pulang atau tidak." Dunk menjawab tanpa terlihat terbebani kondisi.

"Kami tinggal lebih dekat, seumpama sudah terlalu malam dan kemacetan masih parah, jika berkenan kalian bisa bermalam!" Satang memberikan penawaran yang menarik.

Fourth mengangguk-angguk setuju, hanya Phuwin yang tidak memberikan tanggapan. Matanya sibuk menyisir jalanan, seolah memperhitungkan apakah dirinya bisa meninggalkan kafe itu malam ini.

7 Concubine (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang