Dunia Peralihan

290 30 16
                                        

Ada retakan.

Kegelapan yang dia temui begitu membuka mata sesaat tadi dihiasi suara retakan besar seperti tembok es yang dihantam pedang besar.

Dunk tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia merasa kaku seperti patung kayu yang dipahat seniman fakultas sebelah. Matanya mungkin terbuka tiga detik yang lalu tetapi dia tidak bisa melihat apapun, sampai suara retakan terdengar dan dia mulai melihat ada retakan di atas sana.

Retakan itu membelah gelap seperti garis acak yang tegas. Terlihat perlahan tetapi sebenarnya terjadi dalam waktu yang singkat. Retakan itu semakin meluas, membentuk anak-anak retakan yang lebih kecil kemudian semakin menyebar, kemudian hancur seperti kaca. Suara benda pecah itu begitu keras, sampai-sampai memompa kembali darah dari jantung ke otaknya, juga mengirimkan signal ke seluruh tubuhnya.

Begitu kegelapan pecah, Dunk bisa melihat hamparan yang indah seperti sebuah karpet mahal dengan sulaman timbul. Warna hijau hingga biru, putih yang bersih, sulaman emas.

"Aku ...," Dunk mencoba bersuara tetapi rasanya sulit.

Dadanya sesak.

Dia tidak bisa memahami apa yang terjadi, tetapi untuk sebagian hal yang dia lihat, Dunk bisa menangkapnya dengan sangat baik. Seolah sebagian dari inderanya berfungsi, sebagian lagi justru masih tertidur.

Dia tidak sedang berbaring di suatu tempat, yang pecah tadi juga bukan sebuah lapisan yang berada di atas tubuhnya, tetapi di bawahnya. Sekarang, yang terhampar di sana adalah pemandangan sebuah daratan luas dan lautan samudera, juga pulau-pulau.

Dunk terikat oleh sesuatu, menghadap ke bawah dan tidak bisa bergerak. Sesuatu memerangkapnya, mendekap erat seperti sulur berbunga tetapi dingin. Butuh waktu sampai Dunk menyadari bahwa yang melilit tubuhnya di angkasa aneh itu adalah wujud ular kaisar Naga.

Kepalanya yang besar ada di belakang tubuh Dunk sehingga dia tidak bisa melihatnya, sementara bagian ekornya memaksa tubuh Dunk tetap diam di sana.

Air matanya menetes ketika melihat daratan yang hijau membentang itu. Pulau luas tempat di mana para peri hutan hidup, dengan kastil-kastil kayunya yang kecil, jamur-jamur dan bebungaan yang harum. Aroma yang seharusnya tidak dia ketahui, terhidu sejuk lewat ingatan yang menyusup tanpa pernah dia minta.

Dunk tidak memahami mengapa di harus menerima ingatan dan sebagian kesadaran dari peri hutan yang telah rela musnah untuk selamanya. Dunk tidak tahu mengapa dia yang tidak tahu apa-apa, hidup di dunia yang selayaknya rimba tanpa entitas peri justru harus terlibat dengan sosok kaisar naga.

Dia ingin berteriak.

Dia bukan selir agung ketujuh yang dia cintai. Dia sama sekali bukan berasal dari dunia itu.

"Tinggalah di sini bersamaku. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi, selir agung ketujuh." Suara berat kaisar agung terdengar.

Lilitan itu melonggar tetapi tidak mengubah apapun. Dunk tetap terikat di sana dan memandangi daratan yang indah, perlahan mereka turun secara bertahan seperti layang-layang yang tertiup angin sepoi.

"Aku bukan dia. Aku bukan selir agungmu," Dunk berucap pelan.

Lelehan air matanya jatuh. Mungkin akan menjadi hujan, mungkin hanya akan menghilang.

"Tidak, tidak. Kamu adalah selir agung ketujuh." Kaisar naga menolak, lalu memutar tubuhnya.

Kini kepalanya berada di hadapan Dunk, menutup panorama yang Dunk saksikan dan menggantinya dengan kepala ular besar.

Dunk takut tapi dia memandang lurus ke mata yang sebesar wajahnya.

"Kasihan sekali. Kamu benar-benar, kasihan sekali." tuturnya pelan.

7 Concubine (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang