Dunk merasakan sesak parah setiap kali sesuatu yang tak bisa dia ketahui apa itu mempererat pelukannya. Tak ada rasa hangat, tapi panas menusuk seolah dia tengah dililit oleh lengan-lengan besar yang terbuat dari bara api.
"Seharusnya kamu tidak perlu mati. Bukankah lebih baik duduk diam dan menemaniku melihat bulan terbit, hm?"
Bisikan itu terdengar lagi, membuat Dunk ingin meronta tapi dia bahkan tak bisa menggerakkan ujung jarinya. Dia sedang bermimpi. Pikiran itu muncul dan membangun kesadarannya, membawanya dalam mode lucid dream. Seharusnya begitu. Seharusnya ketika dia sadar tengah bermimpi, dia bisa turut menyusun alur ceritanya, dia bisa memilih harus melakukan apa. Sialnya, Dunk sadar sepenuhnya bahwa tubuhnya dikuasai oleh sesuatu sementara dia tak bisa melawan balik.
"Peri-ku, aku sudah membangun taman terindah di dunia untukmu. Aku sudah mengumpulkan semua bunga yang pernah ada di taman yang akan menjadi tempatmu tinggal. Aku sudah mengundang semua kupu-kupu tapi kamu tidak mau menari, hm?" Bisikan itu meniupkan tanya.
Dunk tak mengerti mengapa mimpinya begitu panjang. Rasanya dia ingin bangun segera dan melupakannya. Air matanya sudah leleh, dia ketakutan, tapi tubuhnya yang gemetaran bahkan semakin diremukkan oleh kekuatan yang menghimpitnya tanpa melonggar.
Wajah Joong saat pertama kali dia membuka mata di hutan waktu itu terbayang, lalu wajah Pond yang seperti sudah selalu ada di dalam kepalanya sejak dulu. Dua nama itu sudah berada di ujung lidahnya, tapi Dunk masih merasa kesulitan untuk menyebutnya.
"Jangan memikirkan orang lain saat kamu bersamaku, Peri!!" Sebuah teriakan, lebih tepat disebut bentakan, menggelegar di dalam kepala Dunk, mendobrak matanya untuk terbuka.
kelopak dengan helai-helai indah bulu mata tertarik ke atas, membuat kedua matanya yang indah bisa menangkap sosok dengan wujud tak jelas. Dunk hanya bisa terkejut dan ketakutan melihat api berkobar di depan matanya, sosok dengan mata yang menyala sebesar telapak tangn dan lengan yang melingkari lehernya, memaksanya untuk tetap di tempat.
Sebuah cahaya terang membuat Dunk kesilauan, bergerak dari belakang sosok itu dan menebasnya. Api yang berkobar seketika padam, membebaskan Dunk dari cekalannya.
Sosok mengerikan yang diselimuti kobaran api berubah menjadi sosok Joong yang berdiri tenang dengan mata yang menatap lurus ke arah Dunk. Mimpi buruk itu pergi bersamaan dengan Dunk yang juga kehilangan seluruh energinya, membuatnya tak bisa bergerak selain hanya berkedip pelan.
Pemandangan sekitar berubah menjadi warna-warna yang indah. Pohon-pohon seolah muncul dari dalam tanah tanpa perlu hujan. Sulur-sulur dengan cepat merantai dahan-dahan, lalu bunga-bunga bermekaran dengan berbagai warna. Aroma setiap bunga terendus begitu nyata saat Joong menunduk dan mengelus pipi Dunk yang halus.
Tak ada suara yang terdengar. Dunk bisa melihat wajah Joong dari jarak yang sangat dekat, tapi dia tak bisa mendengar suara apapun. Tak ada suara latar belakang, suara napas, suara burung-burung yang berterbangan di sekitar. Dunk hanya bisa melihat semua pemandangan itu, menghirup aromanya yang begitu nyata, tapi selain itu dia tak bisa melakukan apapun. Tak bisa bergerak, tak bisa bersuara, tak bisa mendengar. Apa yang paling terasa nyata bagi inderanya adalah saat ujung-ujung jari Joong mengelus pipinya lalu mengusap bibirnya dari ujung ke ujung.
"...."
Joong menggerakkan bibirnya, mengatakan sesuatu. Sayangnya, Dunk tak bisa menangkap suara Joong. Dia masih ingat betapa dia tak menyukai cowok itu tapi dalam keadaanya sekarang, Dunk tak mampu mendorong pemilik wajah tegas itu untuk menjauh dari tubuhnya.
Berat badan Joong terasa saat dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Dunk perlahan.
"...." Joong mengatakan sesuatu yang tak bisa Dunk dengar lagi.
Kali ini, mata itu memancarkan binar teduh yang tak bisa Dunk terjemahkan.
Joong meletakkan jari kelingkingnya di atas bibir Dunk, menggunakannya sebagai tabir saat mengecup bibir itu.
Oh, dasar cowok mesum!
Dunk memaki Joong di dalam kepalanya. Bahkan di dalam mimpinya sekalipun, Joong bersikap sebegitu kurang ajar.
Mata Dunk bergerak bingung saat jemari Joong menelusuri tubuhnya. Mulai dari dagu lalu ke leher, bergerak terus turun sampai ke paha. Saat tangan lebar Joong meremas bagian dalam pahanya, Dunk berhasil meronta sampai merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Suhu dingin dari lantai balkon merayap naik begitu Dunk jatuh dari kursi santai. Telinganya dengan jelas mendengar suara benda jatuh, lalu mataya kembali melihat pemandangan yang normal.
Cahaya matahari belum terik, masih samar-samar jatuh di atas taman kecil yang dia rawat dengan begitu sopan.
"Sialan, Joong adalah mimpi burukku!" Dunk mengeluh sambil menyeret tubuhnya untuk kembali duduk di atas kursi.
Gawainya tak lagi berada di sekitar, Dunk tak bisa melihatnya. Tapi dia yakin belum terlambat untuk bersiap dan pergi ke kampus. Seperti yang Pond sebutkan saat menemukannya di pinggir sungai, dia punya presentasi kelompok pagi ini.
Tubuhnya terasa remuk. Dunk mengambil napas sejenak dan merasakan dadanya masih sesak.
Suara panggilan telepon terdengar dari dalam kamar, membuat Dunk menoleh dengan wajah heran. Pasalnya, dia yakin sekali semalam benda itu ada bersamanya di balkon, tapi sekarang sudah pindah ke atas nakas. Dengan perasaan bingung dan campur aduk, Dunk meninggalkan kamar dengan langkah tertatih.
Pond meneleponnya, mengingatkan bahwa hari ini Dunk akan punya presentasi kelompok dan sayangnya Pond tak bisa mampir untuk berangkat bersama.
"Sialan, Pond! Kenapa kamu tidak meneleponku lebih awal?" Dunk bertanya sambil mengangkat sebelah kakinya ke atas kasur.
Ada luka lebam yang melingkari betis sampai ke separuh pahanya. Dunk tak tahu bagaimana dia bisa mendapat lebam semacam itu. Semalam saat dia membersihkan diri, kedua kakinya masih baik-baik saja.
Pond dengan nada khawatir balik bertanya, ingin tahu mengapa suara Dunk terdengar bergetar dan serak. Tak ingin membuat Pond terus mengkhawatirkannya, Dunk memilih untuk menjawab bahwa dia baru saja bangun dan semalam bermimpi buruk karena terpengaruh cerita Joss. Dunk juga meminta Pond untuk tak usah khawatir karena dia bisa berangkat ke kampus sendiri lalu segera mengakhiri obrolan pagi mereka.
"Ada apa denganku?" Dunk bertanya-tanya.
Untuk memastikan kemungkinan adanya luka lain di tubuhnya, Dunk melepaskan setiap jenis kain yang melekat di tubuhnya lalu berdiri di depan cermin.
Seperti yang sudah ditakutkan, lebam di kakinya bukan satu-satunya luka yang bisa dia lihat. Ada lebam lain yang membiru di pundak dan lengan atasnya, juga bekas kemerahan di sebagian besar torsonya.
"Apa semalam aku bermimpi sambil berkelahi dengan anjing tetangga?" Dunk bertanya, tapi tak menemukan satupun alasan masuk akal untuk menenangkan diri.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
7 Concubine (END)
Fantasy(Warning: Boyslove, fantasi) Mimpi itu berulang, dan anehnya saat Dunk memposting apa yang dia lihat dalam mimpinya, dia menemukan bahwa ada orang lain yang juga mengalami mimpi yang sama persis. Setelah mimpi itu mulai muncul, perlahan dia merasaka...
