guilty

42 1 0
                                        

"i still see universe in your eyes"

——————

"Hubungi saja ponselnya."

"Tidak aktif," William hanya menjawab singkat dan kemudian berlalu pergi.

Yolanda keheranan dengan sikap dingin William. Memang ia sudah tahu William dikenal cuek tapi laki-laki itu anti basa-basi juga. Tidakkah seharusnya ia mengucapkan terimakasih atau pamit?

"Tunggu!" panggil Yolanda saat William belum melangkah terlalu jauh dari posisinya. Lelaki itu berbalik.

"Coba periksa UKS."

"Ah, terimakasih."

Yolanda terdiam sejenak, mendecih dalam hati karena lelaki itu hanya berterimakasih jika mendapatkan informasi. Tapi ya, bagaimana lagi. Jika bukan karena Haura sudah Yolanda pijak kepala lelaki sok keren itu.

Tangan William membuka kenop pintu UKS. Ia langsung disambut oleh guru penjaga UKS yang tengah duduk menulis beberapa stok obat di dalam etalase yang khusus menyimpan obat. William sontak menunduk sopan menyapa guru tersebut. Bu Alif tersenyum ramah.

"William Sena kelas 2-2, ya? Butuh sesuatu?" tanya Bu Alfi.

"Tidak, bu. Saya hendak bertanya apakah ada siswa kelas 2-2 yang disini juga?"

"Tadi sepertinya ada satu orang, di ujung."

William menunduk berterimakasih, langsung menghampiri ranjang paling ujung dekat jendela, melewati beberapa ranjang yang ditiduri siswa yang sakit juga. William terdiam sejenak, jari-jarinya terangkat membuka tirai perlahan, mendapati Haura tengan tertidur lelap disana. Matanya menyisir nakas di samping ranjang. Ada obat salep, wadah berisi air yang William yakin itu es batu yang sudah mencair. Kompresan es batu itu masih bertengger di pipi sebelah kirinya. William duduk di kursi yang tersedia disana. Mengamati sejenak. Kulit kepala yang memerah itu juga sudah diolesi salep ternyata. Melihat luas area kulit kepalanya yang pitak cukup besar membuat William berpikir sebanyak apa rambut yang tercabut oleh ibu Anetta tadi?

Tidurnya begitu damai. Terlampau damai hingga terlihat seperti tidur panjang. Tapi tunggu, ia masih bernapas kan? Nadinya masih mengalir, kan? William memeriksa hidungnya, sedikit ragu karena hembusannya tidak begitu kuat. Ia beralih memeriksa nadi di leher gadis itu. Sedetik kemudian merasa lega. Haura masih hidup.

Apa William keterlaluan tadi? Ia mengerti kenapa Haura bersikap begitu dan penjelasan Haura kemarin sudah tercerna sempurna di dalam kepalanya bahkan menempel di otaknya sebagai memori penting. Jadi tidak bohong ketika William bilang ia paham sekrusial apa pentas drama ini. Tapi merendahkan diri tidak semerta-merta mengubah keputusan ibu Anetta, yang William sudah sangka sebelumnya tipe seperti apa ibu-ibu satu itu—angkuh, sombong, ingin menang sendiri dan suka merendahkan. Tipikal orang kaya baru. Hanya itu yang William benci dari Haura. Berpikir sok idealis ia bisa menjual cerita sedihnya pada orang seangkuh itu.

Haura juga tidak menghargai dirinya sendiri dengan mengemis seperti itu. Bodoh, Haura memang bodoh. William tidak menyesali telah berkata itu. Yang ia sesali adalah berkata bahwa ia akan bersikap acuh seperti dulu lagi, di saat William tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Janji William tengah malam kemarin bukan hanya angin semu yang lewat, ia benar-benar berusaha memperlakukan Haura sedikit berbeda, sedikit lebih peduli dan sedikit menghakimi.

William tersentak saat gadis itu tiba-tiba melakukan pergerakan, ia sontak bangkit menghindari area yang bisa dijangkau pandangan Haura. Kini William berdiri di balik tirai, mencoba mengatur degup jantungnya yang mendadak gelisah. Untung ia tidak tertangkap basah.

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang