Hari ketiga lokakarya UNICEF di Okinawa masih berlangsung. Setelah melalui berbagai kegiatan sejak hari pertama, kali ini setiap kelompok peserta mendapat kesempatan mempresentasikan UNICEF Report yang mereka susun berdasarkan salah satu isu kehidupan remaja di Jepang. Tim Konoha High School memilih kesehatan mental sebagai topik utama mereka.
Dari deretan kursi pendamping, Kakashi dan Yamato memperhatikan keempat murid mereka yang berdiri di atas panggung. Kamera milik Sasuke berada di tangan Kakashi sejak tadi pagi. Sesekali ia mengangkatnya untuk mengabadikan momen ketika salah satu dari mereka berbicara, lalu menurunkannya kembali saat harus benar-benar memperhatikan presentasi.
Sai sedang menjelaskan salah satu bagian laporan ketika Yamato sedikit membungkuk ke arah Kakashi.
"Kau lihat?" bisiknya. "Perkembangan mereka jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan."
"Yeah." Senyum kecil terlihat di wajah Kakashi. "Kita memang membantu mengevaluasi dan menunjukkan bagian yang harus mereka perbaiki. Tapi materi ini berkembang karena mereka sendiri. Cara mereka membagi peran juga jauh lebih baik dibanding hari pertama."
Yamato mengangguk sambil kembali memperhatikan panggung. Sai menutup bagiannya dengan tenang sebelum memberikan kesempatan kepada Sasuke untuk melanjutkan.
"Menurutmu mereka bisa masuk final?"
"Bisa."
Jawaban Kakashi datang begitu cepat sampai Yamato menoleh.
"Yakin sekali."
"Kalau dibandingkan dengan beberapa kelompok yang sudah tampil, mereka punya sesuatu yang menarik." Kakashi menurunkan kameranya ke pangkuan. "Mereka tidak melihat masalah dari sudut yang sama."
Yamato menunggu penjelasan berikutnya.
Kakashi memandang Naruto yang berdiri di sisi panggung. Anak itu sedang memeriksa catatan kecil di tangannya meski bagiannya sudah selesai beberapa menit lalu.
"Naruto tumbuh setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak masih bayi. Sai dibesarkan di panti asuhan dan pernah kehilangan kakaknya. Sakura tumbuh di tengah keluarga yang lengkap dan sangat dekat dengannya." Tatapan Kakashi kemudian beralih kepada Sasuke. "Mereka punya pengalaman hidup yang berbeda. Ketika membicarakan masalah seperti kesehatan mental, cara mereka melihat dukungan, kehilangan, keluarga, dan lingkungan otomatis berbeda."
Yamato ikut memandang Sasuke. Remaja berambut hitam itu kini berbicara di depan para juri dengan pembawaan yang tenang. Tidak banyak gerakan berlebihan. Suaranya pun tidak tinggi, tetapi setiap kalimat terdengar jelas dan tegas.
"Bagaimana dengan Sasuke?" tanya Yamato akhirnya.
Kakashi diam beberapa saat.
"Dia juga pernah kehilangan seseorang."
"Siapa?"
"Kakaknya. Uchiha Itachi."
Yamato mengingat nama itu. "Yang meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu?"
Kakashi mengangguk.
"Berarti sekarang dia tinggal bersama kedua orang tuanya?"
"Dengan ibunya."
Yamato kembali menoleh. "Orang tuanya berpisah?"
"Kau banyak bertanya, Tenzou."
Kakashi terkekeh kecil saat memanggil Yamato dengan nama lamanya. Yamato mendengus, tetapi tidak benar-benar merasa tersinggung.
"Aku hanya penasaran. Kau terdengar seperti mengetahui keluarga itu cukup lama."
"Aku memang mengenal Itachi."
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVING HIM WAS RED
Fiksi PenggemarKetika aku menyadari ada perasaan yang mulai masuk dan menjalar ke seluruh tubuh, aku merasakan semua hormon ini berkerja berlebihan. Pipiku bersemu merah, jantungku berdegup lebih cepat, perutku serasa dipenuhi kupu-kupu, dan di kepalaku berputar-p...
