Lisa pov.
Ceklek
Prang!
"Sialan! Jangan pernah kamu ikut campur dengan urusanku!"
"Brengsek! Setidaknya jangan di tempat umum jika sedang bermain wanita! Aku tidak sudi harga diriku diinjak-injak, mau di taruh di mana muka ku jika rekan bisnis ku mengetahui suami brengsek ku tukang selingkuh huh? Dan aku tidak sudi mencampuri urusan mu aku hanya menyelamatkan reputasi ku!"
Aku menatap kedua orang tuaku bergantian, mereka yang sadar dengan kehadiran ku kini menatapku dengan datar.
"Lanjutkan saja" aku berkata dingin lalu bergegas masuk kedalam kamar.
Selalu, kedua orang tuaku selalu bertengkar dan meributkan segala hal tanpa memperdulikan perasaan ku.
Aku sudah terbiasa, dari kecil aku sudah kebal kkkhh.
Orang tuaku tidak layak di sebut orang tua, mereka tidak pernah peduli padaku. Yang di pedulikan mereka hanya uang dan jabatan.
Orang tuaku tidak saling mencintai mereka menikah hanya karena perjodohan kuno orang tua mereka.
Aku bisa lahir karena kecelakaan, haha malang sekali nasibku.
Meskipun orang tuaku setiap hari bertengkar, mereka tidak berpisah karena takut kakek dan nenekku tidak akan mewariskan harta mereka jika keduanya memilih bercerai.
Itu sebabnya orang tuaku memilih bertahan meskipun dengan keadaan terpaksa.
Bukan karena diriku, melainkan karena harta warisan haha.
Sudahlah aku akan bertambah benci dan sakit hati jika terus mengingatnya.
Lebih baik aku sekarang mandi dan bersiap untuk menemui Jennie.
Setelah mandi aku memakai baju santai, aku menyisir rambutku lalu menyemprotkan parfum ke bajuku.
Kemudian aku mengambil topi dan kunci mobilku.
Keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat.
Orang tuaku sudah bubar, Mommy ku duduk di sofa sambil minum alkohol sedangkan Daddy, aku tidak tau dimana keberadaan pria bajingan itu.
"Mau kemana" langkahku terhenti mendebar suara datar Mommy.
"Apa peduli mu jika aku mau kemana?" Aku menatap Mommy datar.
"Jangan terus membuat ulah, reputasi ku bisa hancur karena mu"
Lihat hanya reputasi yang dia pentingkan.
"Maka jangan pernah lahir kan aku jika aku membuat reputasi mu hancur" setelah mengatakan itu aku pergi tanpa mendengarkan umpatannya yang akan membuat sakit hati.
"I hate my life! Fuck!" Aku memukul-mukul setir mobil ku.
Aku ingin membuat onar di jalanan tapi rasa rindu pada Jennie lebih menggebu-gebu sekarang.
Aku ingin menemui Jennie, aku membutuhkan pelukannya.
-
Di depan ruangan Jennie aku tidak langsung masuk, memilih mengintip dari jendela melihat ada orang atau tidak di dalam.
Hanya ada Jennie yang sedang tertidur, mungkin teman-teman nya sudah pulang dan orang tuanya? Tidak mungkin mereka meninggalkan Jennie sendirian kan.
Daripada bertanya-tanya sendiri mending aku masuk menemui Jennie.
Klek
Aku membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan Jennie yang sedang tertidur.
Aku menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
Jennie tersentak dan perlahan membuka matanya.
"Lili" Jennie melengkungkan bibirnya kebawah.
"Maaf aku pasti membangunkan mu" aku tidak enak hati.
Jennie menggeleng lalu merentangkan kedua tangannya.
"Mau peluk" manja Jennie.
Aku tersenyum segera memeluk Jennie.
Aah pelukan ini sangat nyaman, aku memejamkan mata menenangkan diri di dekapan hangat Jennie.
"I miss you" bisik ku.
"I miss you too" balas Jennie berbisik.
Aku berdehem belum mau melepaskan pelukan ku, ini sangat nyaman sungguh.
"Lili kemana saja, Nini menunggu kedatangan Lili sampai Nini ketiduran"
Aku melonggarkan pelukanku untuk menatap wajah imutnya.
"Aku dari rumah Nini, aku lama karena jalanan macet. Maaf membuat mu menunggu lama hemm" aku mengusap lembut pipinya.
Jennie mengerucutkan bibirnya lalu mengangguk dengan lucu.
"Wajah Lili tampak kelelahan, Lili baik-baik saja kan?" Jennie mengelus wajahku.
Aku tersenyum menggelengkan kepalaku, nyatanya aku memang sedang tidak baik-baik saja Nini, dan saat ini aku hanya membutuhkan mu.
"Aku baik-baik saja Nini. Oh iya di mana orang tua mu?" Aku mengubah topik pembicaraan.
"Eomma dan Appa mencari makan, Nini juga meminta mandu dan strawberry"
"Kenapa tidak mengatakannya padaku? Aku bisa membelinya untukmu Nini"
"Nini tidak terpikir untuk menyuruh Lili, tapi bagaimana jika besok kita makan berdua di kantin sekolah?"
Aku mengerutkan keningku.
"Nini, kamu masih sakit bagaimana kamu berpikir untuk masuk sekolah"
"Nini sudah sembuh, lihat wajah Nini tidak pucat lagi" Jennie menunjuk wajahnya yang memang sudah terlihat segar.
"Tidak pucat bukan berarti sudah sembuh Nini, kamu perlu istirahat yang cukup. Besok jangan masuk sekolah, istirahat setidaknya selama dua hari"
Jennie cemberut menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau, Nini mau sama Lili"
"Aku akan bersamamu oke, pulang sekolah aku akan menemui lagi"
"Tidak Lili, Nini ingin masuk sekolah, Nini akan bosan jika disini terus" rengek Jennie.
"Jangan keras kepala Nini ini demi kebaikan mu. Menurut atau aku tidak mau berteman denganmu"
"Issh mengancam terus kerjaannya" Jennie mendengus.
Aku mencolek gemas hidung kecilnya.
"Cepat sembuh dan aku akan mentraktir mu makan enak"
"Janji!" Jennie berbinar menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji" senyumku menautkan jari kami.
•••
Tbc
03/05/24
Lisa😢 untung ada si gemes Nini 😽🤏
Vote komen lanjut.
KAMU SEDANG MEMBACA
about us [Jenlisa]√
FanfictionLalisa Manoban, gadis misterius yang sering di anggap buruk oleh teman sekolahnya. Jennie Kim, gadis manja ceria yang penuh dengan semangat. hari-harinya selalu berakhir baik, orang-orang sangat menyukainya karena dia cantik lucu imut dan menggemask...
![about us [Jenlisa]√](https://img.wattpad.com/cover/366576248-64-k840216.jpg)