au/twenty three

7K 745 25
                                        


Lisa pov.

"Sudah nangisnya?" Tanyaku sambil menyeka air mata Jennie.

"Hmph hmph eum" angguk Jennie masih sedikit sesenggukan.

Saat ini kami berada di dalam mobil ku, aku membawa Jennie ke sungai Han.

"Minum dulu" aku menyodorkan botol mineral pada Jennie.

Jennie mengangguk mengambil botol mineral dari tanganku.

"Terimakasih Lili" cicit Jennie setelah meminum airnya.

Aku mengangguk mengelus sayang kepalanya.

"Kemari" aku menepuk-nepuk pahaku bermaksud mempersilahkannya duduk di sana.

Langsung saja Jennie duduk di pangkuanku dan menenggelamkan wajahnya di leher ku.

"Maaf ya tadi aku terbawa emosi dan malah membentak mu. Nini mau memaafkan ku, kan?" Aku mengusap-usap punggungnya.

Jennie mengangguk.

"Tatap aku dan katakan dengan benar" aku menangkup pipinya.

Jennie menghela nafas.

"Nini memaafkan Lili asalkan jangan pernah lagi meninggikan suara pada Nini. Nini tidak suka" Jennie menatapku sendu.

Aku terenyuh.

"Iya Nini aku janji. Terimakasih sudah memaafkan ku" aku mencium lama keningnya.

"Eum" angguk Jennie.

"Kamu mau tau rahasia ku?" Aku menatap dalam mata kucing Jennie.

Matanya sangat indah.

"Mau Lili" Jennie menegakkan duduknya menatapku.

"Aku dan kedua orang tuaku tidak akur, Mommy dan Daddy tidak menganggap ku ada mereka hanya sibuk dengan pekerjaan dan kepentingan masing-masing. Mommy dan Daddy tidak saling mencinta mereka hanya di jodohkan dan lahir lah aku sebagai kecelakaan. Mommy gila kerja, sedangkan Daddy gila bermain wanita. Kkkhh lucu sekali bukan? Hidupku seperti lelucon Nini-yaa" mataku berkaca-kaca karena hatiku sedih sekali jika mengingat perilaku buruk Mommy dan Daddy.

Jennie melengkungkan bibirnya kebawah.

"Lili jangan nangis Nini sedih, don't.." Jennie menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

Aku menunduk.

"Rasanya sesak sekali Nini.." lirihku meletakkan keningku di pundaknya.

"Lili jangan pernah merasa sendiri hemm, ada Nini yang selalu di sisi Lili. Nini sayang Lili" Jennie menepuk-nepuk punggung ku.

Aku mengangguk lalu menyembunyikan wajahku di lehernya. Menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam dan itu berhasil membuatku tenang.

"Aku juga menyayangimu, Nini" balasku.

Chup

Aku memejamkan mata saat Jennie mencium lama pipiku.

"I love you Lili" mataku terbuka lebar dan aku segera duduk dengan benar.

"A-apa? Nini kamu.." aku menutup mulutku.

Jennie tersenyum manis lalu mengambil tanganku dan meletakkannya di atas dadanya.

"Nini sudah tau maksud jantung berdetak lebih kencang itu. Itu terjadi hanya saat Nini bersama Lili, Nini memacari tahunya dari internet dan sekarang Nini mengerti bahwa Nini sedang jatuh cinta pada Lili. Dan Lili juga sama kan? jantung Lili berdetak lebih kencang saat bersamaan Nini. Jadi Lili.. apakah kita sudah pacaran sekarang?" Jennie memberikan tatapan polosnya.

Jantungku berdetak lebih kencang sekarang, memang ini hanya karena mu Jennie.

"Nini, kamu tau apa artinya cinta?" Aku ingin memastikannya lebih dulu.

Jennie mengangguk dengan raut wajah lucu.

Gemas sekali.

"Apa?"

"Cinta itu seperti Eomma dan Appa, saling menyukai, menyayangi, dan melengkapi. Benar bukan, Lili?"

Aku tersenyum menganggukkan kepalaku.

"Ya anggap saja begitu" aku mengelus pipinya.

"Jadi.. kita pacaran kan Lili?" Jennie mengulum bibirnya menatapku dengan malu-malu.

"Aku belum menembak mu"

Jennie tampak terkejut.

"Lili mau menembak Nini? Lili jahat ingin membunuh Nini!" Pekik Jennie memukul dadaku.

Aigoo manusia polos ini salah paham.

"Bukan seperti itu maksudku Nini, maksudnya itu aku belum menjadikanmu sebagai kekasihku" kelasku menggenggam kedua tangan mungilnya.

"Benarkah?"

"Eum"

"Huh maaf Nini salah paham, Lili tidak kesakitan kan?" Jennie menatap dadaku yang di pukuli nya.

"Untungnya tidak Nini" aku menggeleng dan tersenyum agar dia tidak merasakan bersalah.

"Syukurlah" Jennie menghela nafas lega.

"Apa kamu mau jadi pacarku, Nini?" Tanyaku langsung.

Jennie tampa ragu menganggukkan kepalanya.

"Nini mau Lili" wajah Jennie tampak berseri-seri.

"Terimakasih" aku lega mencium punggung tangannya.

"Sama-sama Lili hihihi" Jennie menampilkan gummy smile nya.

"I love you" ungkap ku tulus.

Jennie tersenyum malu sampai pipinya memerah.

"I love you too" balas Jennie tersenyum lebar.

Setelah itu aku menyatukan kening kami.

"Kita saling belajar dalam memulai hubungan ini Nini, dan mari jadikan hubungan ini sampai jenjang pernikahan hemm" ku usap pipinya.

"Nini mau menikah dengan Lili xixixi" kata Jennie dengan suara lucu.

Aku terkekeh.

"Iya maka dari itu kita harus saling melengkapi oke"

"Oke Lili.."

•••

Tbc

18/06/24

Gini nih kalo bayi tau pacar-pacaran. Sabar menghadapi bayi Nini ya Lili.

Vote komen lanjut.

about us [Jenlisa]√Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang