"Ayo Hyunsoo, kau pasti bisa menembak lebih banyak! Mama bertaruh untuk Hyunsoo!"
Hyunsoo mengangguk cepat setelah diberi semangat oleh Mamanya. Anak kecil itu memfokuskan diri lebih banyak di permainan yang ia lakukan, berusaha mencari gelar pemenang, agar Mama bangga padanya.
Sementara Taehyung yang menjadi rival anaknya dalam bermain game, hanya menggeleng dan tersenyum. Tidak mempersalahkan dukungan penuh yang istrinya lakukan untuk putra mereka, karena malah itu yang membuat Taehyung bahagia. Ia tidak pernah melihat tawa putranya seriang ini. Perubahan sikap Jisoo adalah anugerah untuk mereka semua.
"Yeeey! Hyunsoo memang!" Hyunsoo memekik kencang, saat tahu-tahunya di layar komputer, dirinya lah yang dinyatakan sebagai pemenang. Kesenangan itu semakin menjadi-jadi, saat ia juga mendapat pelukan hangat dari Mama.
Jisoo merasa hangat saat berinteraksi dengan anak ini. Entah memang benar bahwa Hyunsoo adalah anaknya di masa depan atau bukan, yang pasti ia mampu merasakan adanya ikatan yang kuat di antara mereka. Jisoo yang tak kalah riang dari Hyunsoo, mendadak kikuk saat tahu-tahunya Taehyung bergabung dalam pelukan itu.
Secara perlahan Jisoo menggeser arah pandangnya untuk melirik pria tersebut, dan rasa gugupnya semakin bertambah-tambah saat melihat senyuman hangat yang Taehyung berikan.
Seharian ini nyaris hanya perasaan bahagia yang dapat keluarga kecil itu rasakan. Definisi keluarga utuh yang sempurna. Seandainya sejak awal kehangatan seperti ini sudah terbentang, pasti mereka telah bahagia sejak lama.
Tapi yasudahlah. Setiap orang mempunyai masa lalu. Entah bagian bahagia maupun sedih, semuanya sudah menjadi kenangan. Yang harus mereka lakukan kini hanyalah menjalani kehidupan dengan semestinya agar masa depan dapat digenggam bersama-sama. Semoga saja.
"Terima kasih."
Jisoo mengangguk untuk membalas ucapan itu. Ia kemudian menyusul langkah Taehyung yang berjalan menggendong Hyunsoo untuk masuk ke dalam rumah. Karena terlalu bersemangat yang membuatnya kelelahan, akhirnya Hyunsoo tertidur di perjalanan pulang, sampai Taehyung harus menggendongnya dan memindahkan anak laki-laki itu ke kamar.
Keakraban asing yang seharusnya normal dimiliki sebuah kelurga antara putra dan juga menantunya, tak lepas dari perhatian Choi Sooyoung. Melihat bagaimana Taehyung dan Jisoo bekerjasama untuk putra mereka, menyalurkan kebahagiaan tersendiri bagi ia yang melihat. Dalam hatinya, Sooyong selalu berdoa akan kebaikan bagi mereka semua.
"Mama, aku menyayangimu..."
Menyaksikan bagaimana Hyunsoo menggumam dalam tidurnya, lagi-lagi membuat hati Jisoo berdesir. Ia tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari kebahagiaan besar yang Hyunsoo rasakan karena dekat dengannya. Dalam benaknya Jisoo bertanya-tanya, tentang seperti apa Kim Jisoo——ibunya Hyunsoo mempelakukan anak tersebut. Bahkan sampai kegiatan sederhana seperti memegang tangan dan memeluk saja, mata Hyunsoo sudah berbinar seolah memperoleh keajaiban yang besar.
Setelah mengantar Hyunsoo ke kamarnya, giliran Taehyung dan Jisoo untuk keluar. Jisoo merenggangkan persediaannya saat merasa pegal di bagian sana. Oh, pasti sudah lama sekali ia tidak bergerak sebanyak hari ini.
"Kau baik-baik saja?"
Mendapati pertanyaan demikian dari Taehyung, Jisoo mengangguk. "Hanya sedikit pegal. Mungkin karena hari ini terlalu bersemangat." Jawabnya seraya memamerkan deretan gigi yang ia miliki.
"Kau ingin aku memijatmu?"
Eh? Memijat?
Tawaran semacam apa itu? Pipi Jisoo langsung merona di tempatnya berdiri. Tiba-tiba saja menjadi sulit untuk menelan ludah. Katakan sekali lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Young
RomanceSejak kecelakaan yang dialaminya Jisoo si gadis 17 tahun terjebak di tubuh wanita dewasa 32 tahun. Semuanya seolah tidak terkendali saat tahu-tahunya ia harus mengemban peran menjadi seorang ibu dan juga istri dari pria yang tidak ia kenali Publish:...
