25|Tahu Harus Berpijak

1.1K 201 38
                                        

Jisoo menangis. Ia merasa sedih mendengar kata-kata buruk yang Doyoung sampaikan pada suaminya. Jisoo saja sudah sesakit hati ini saat mendengarnya, apalagi Taehyung. Pria itu pasti sangat sedih.

Tadinya Jisoo datang berniat memamerkan masakan yang ia buat untuk Taehyung cicipi. Sampai di ruangan pria itu, sekretarisnya malah mengatakan bahwa Taehyung baru saja berangkat ke ruang rapat. Langkah terburu yang Jisoo usung untuk mengejar sang suami, terhenti di tempat saat melihat Taehyung tengah berbincang dengan Doyoung, dan sepertinya mereka sangat serius.

Awalnya Jisoo sudah mewanti-wanti akan terjadinya perkelahian di antara kedua orang tersebut, sehingga menarik langkahnya semakin dekat dengan gerakan pelan—mengemban niat agar tak disadari oleh Doyoung maupun Taehyung. Sebab di sebalik rasa khawatirnya, Jisoo juga mengemban perasaan penasaran yang menggunung. Selama ini keduanya hanya menunjukkan saling ketidaksukaan satu sama lain dengan cara yang aman. Sehingga saat melihat mereka berbicara dalam atensi yang tegang, Jisoo merasa tertarik untuk tahu apa nan sedang dibicarakan.

Sejak awal perkataan Doyoung sebenarnya sudah tidak termaafkan, namun Jisoo masih berupaya sabar dan mendengarnya baik-baik. Namun saat sepupunya itu semakin menjadi menghina Taehyung—bahkan menuduhnya dengan begitu keji, Jisoo merasa tak dapat diam lagi. Ia berteriak dan berjalan penuh emosi untuk memberi lelaki itu pelajaran.

Berani sekali. Berani sekali dia merendahkan suaminya seperti itu. Jisoo tidak menduga, bahwa sekarang Doyoung benar-benar orang yang berbeda. Bahkan hanya dalam sekejap waktu, sepupunya itu mampu membuat Jisoo menanamkan kemarahan yang besar.

"Jisoo, sudah. Jangan menangis lagi."

Jisoo menyingkirkan tangan yang menutupi wajahnya saat tadi menangis. Ia masih berusaha menahan segukan, ketika Taehyung berupaya membuatnya tenang dengan memberikan usapan di punggung. Dengan wajah cemberut, Jisoo menelusupkan dirinya untuk ruyup dalam pelukan lelaki itu.

"Taehyung... dia, kata-katanya begitu jahat. Bagaimana mungkin Doyoung mampu mengatakan hal sekejam itu?" Adunya, kemudian merengek lagi.

Sebenarnya perkataan Doyoung cukup membuat hati Taehyung sedikit sedih, namun kesedihan itu seakan hilang ketika melihat Jisoo bersikap seperti ini. Bukannya Taehyung suka melihat istrinya menangis, hanya saja perhatian manis yang wanita itu jabarkan padanya melalui tangisan itu nan membuat hati Taehyung menghangat.

Memberi usapan lembut di punggung Jisoo yang memeluknya, Taehyung juga menumpukan pipi di kepala wanita itu. "Tidak apa-apa. Itu bukan masalah besar. Aku bisa menghadapi semua hal, selama kau ada di sisiku. Untuk itu aku mohon, jangan pernah memintaku pergi lagi. Jangan tinggalkan aku, Jisoo."

Kepalanya menggeleng. Bagaimana mungkin Jisoo bisa meninggalkan laki-laki sebaik Taehyung?! Hanya orang bodoh yang akan melakukannya, dan Jisoo bukan salah seorang dari mereka.

"K-kenapa kau baik sekali? Harusnya tadi kau memukulnya!" Jisoo kembali ingat dengan kejadian tangannya yang melayang dua kali mengenai pipi Kim Doyoung. Tadi Jisoo benar-benar menumpukan seluruh amarah dan kekesalannya dalam tamparan itu. Sudah pasti pukulannya keras sekali. Jisoo menyesal? Tidak. Bahkan ia lebih ingin lagi jika tadi Taehyung juga melakukan hal serupa. Ucapan jahat Doyoung benar-benar sudah tidak termaafkan!

"Sebenarnya tadi sempat terbesit di otakku untuk memberinya sebuah pukulan yang keras. Hanya saja ada satu hal yang lebih menyakitkan untuk Doyoung terima sebagai balasan, dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup." Ujar Taehyung, sembari ibu jarinya masih menghapus keberadaan liquid bening di bawah pelupuk mata sang istri.

Jisoo yang merasa nyaman dan tertelan dalam ketertarikan akan ucapan Taehyung, tak mempermasalahkan tindakan laki-laki itu yang memindahkan Jisoo untuk duduk di atas pangkuannya. "Apa itu?"

Forever YoungCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang