Sudah memasuki jam makan siang, namun pintu ruangannya tak kunjung terbuka, menampilkan sosok Taehyung yang sejak tadi Jisoo tunggu-tunggu. Biasanya pria itu akan masuk, mengajaknya mengisi perut. Namun ini bahkan sudah melebihi dari menit biasanya.
Bibir Jisoo cemberut dengan air wajah yang ditekuk lucu. Wanita itu memainkan bulpoin yang ada di mejanya, seraya tak pernah berhenti memandangi pintu. Di mana pria tua itu sekarang?!
Selang beberapa menunggu dengan perasaan gelisah, Jisoo dapat mengukir keindahan di wajahnya dengan rona bahagia, ketika menyaksikan daun pintu yang terbelah untuk terbuka. Harap senangnya bahwa Taehyung akan datang seperti seorang pangeran yang menjemput pengantinnya, mendadak terkikis habis oleh realita, menyaksikan yang datang di sebalik pintu bukanlah sang suami—nan ia damba-dambakan, melainkan seseorang yang selalu membuat Jisoo waspada.
Kim Doyoung, tersenyum hangat ketika bersitatap dengannya. Meski mereka sudah berbaikan dan menyelesaikan masalah yang terjadi, tapi tetap saja Jisoo merasa ia harus menjaga jarak dari Doyoung. Sepupunya ini, meskipun tampak ramah dan elok, di dalam hatinya ada yang membuat Jisoo ragu, seakan ia mampu menelisik bahwa niat Doyoung tidaklah sebaik itu.
Huftt, Jisoo tidak ingin salah paham, namun berhati-hati adalah sikap yang wajib ia miliki. Pun, di kehidupannya yang sekarang, Jisoo benar-benar seperti kertas kosong yang tidak menyimpan memori apapun.
Seiring lamunan Jisoo, Doyoung melangkah semakin dekat. Pria itu melebarkan senyuman, dan beralih menyodongkan beberapa yang ia bawa di tangannya. "Selamat siang, Jisoo." Sapa Doyoung teramat ramah.
Mau tidak mau, Jisoo mengulas senyum untuk membalas. "Hai, Doyoung. Ada keperluan apa?" Meski mempertahankan sikap ramah, Jisoo tetap tidak ingin berbasa-basi terlalu banyak. Ia langsung bertanya pada inti persoalannya saja.
Kembali mengangkat paperbag yang berada di tangan, Doyoung menjawab pertanyaan itu dengan tenang. "Aku ingin mengantarkan ini. Hadiah ulang tahun untuk Hyunsoo. Sudah lama dibeli sebenarnya, hanya saja baru sempat memberikannya sekarang. Kau tahu, kita baru saja berbaikan."
Jisoo kontan merasa canggung untuk yang satu itu. Namun terpaksa harus tersenyum, yang lagi-lagi diperuntukkan untuk menghargai sikap ramah Kim Doyoung. Tangan Jisoo juga terulur untuk menerima kotak-kotak pemberian tersebut. "Terima kasih. Hyunsoo pasti akan senang."
"Jisoo——"
"Ah! Doyoung. Sebenarnya sudah masuk jam makan siang," demi apapun, Jisoo merasa tidak nyaman berlama-lama bercengkrama berdua dengan sepupunya, "Taehyung sudah mengubungiku untuk datang ke ruangannya. Aku merasa tidak enak, tapi ini kebetulan sekali."
Besebrangan dengan pikiran Jisoo bahwa Doyoung akan menampilkan raut wajah marah ataupun kecewa, kali ini pria itu bahkan tersenyum makin lebar. "Oh? Tentu Jisoo, tidak masalah." Tangannya beralih mengelus puncak kepala Jisoo. "kau harus tetap memperhatikan jam makanmu. Sehat itu harga yang mahal, aku juga tidak ingin sepupu kesayanganku ini sampai sakit."
Sontak saja Jisoo semakin kaku di tempatnya berdiri. Mati-matian mengepal tangan, agar tak bertindak lancang, yang dapat membuat Doyoung tersinggung. Setelah beberapa saat berselang, Jisoo mundur beberapa langkah, menjauhkan diri dari presensi Doyoung.
"Aku akan pergi sekarang." Tanpa mengucapkan apapun lagi, Jisoo berjalan mendahului pria itu untuk segera sampai di depan pintu ruangannya. Jisoo dapat bernapas lega, saat berhasil menghindari Kim Doyoung. Entahlah, rasanya sungguh tidak aman saat ia harus berlama-lama berinteraksi dengan pria tersebut.
Setelah menghela napas sebentar, Jisoo memutuskan untuk berjalan ke ruangan Taehyung. Presensi Doyoung terlalu memancarkan sinyal berbahaya, sehingga Jisoo merasa bahwa dirinya teramat membutuhkan radar suaminya saat ini juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Young
RomanceSejak kecelakaan yang dialaminya Jisoo si gadis 17 tahun terjebak di tubuh wanita dewasa 32 tahun. Semuanya seolah tidak terkendali saat tahu-tahunya ia harus mengemban peran menjadi seorang ibu dan juga istri dari pria yang tidak ia kenali Publish:...
