32|Seberkas Memori Lama

1K 159 16
                                        

"Dia ayahku."

Benar, gambar yang terpajang di dinding itu adalah sosok nan sama dengan yang Jisoo kenal. Kim Seunghyun; ayahnya. Dia adalah ayahnya di masa lalu.

Ternyata, Jisoo sekarang benar-benar menjalani kehidupannya di masa depan. Sekebat pikiran senang ketika Taehyung mengajaknya berkunjung ke tempat ini—tempat yang ia tinggali bertahun-tahun, dan yang pria itu katakan adalah mansion ayahnya. Persis, lokasinya tidak berubah dari sepengetahuan Jisoo, serta bentuknya juga masih persis seperti dulu, sehingga Jisoo tidak akan ragu untuk mengenali.

Tapi, di sebalik perasaan senang, sekarang Jisoo sedikit murung ketika memikirkan kebenaran. Jadi itu artinya, sang ayah benar-benar sudah meninggal? Saat-saat pria itu pergi, Jisoo pun tak dapat menyimpan kenangan itu dalam memorinya.

"Nona Muda."

Jisoo menoleh saat mendengar ada seruan yang datang padanya. Ia pun sedikit melebarkan mata, dan menutup mulut saat melihat siapa sosok tersebut. "Kang Seulgi!" Dia adalah salah satu pelayannya dulu yang mempunyai rentang usia hampir sama dengan Jisoo, sehingga ia sangat dekat dengan gadis ini.

Seulgi menatap perempuan yang berdiri di depannya itu dengan binar berkaca-kaca. Terasa sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Jisoo—dihitung dari gadis ini menikah, bahkan setelah kematian Tuan Kim, Jisoo hampir tidak pernah lagi datang kemari. Belakangan ini Seulgi juga sempat mendengar berita kecelakaan wanita itu, yang membuatnya sangat sedih. Namun melihat Jisoo yang sudah kembali sehat, membuatnya merasa lega dan bahagia.

Ya Tuhan, satu lagi seseorang yang berasal dari masa lalunya semampu Jisoo tujuh belas tahun ingat, kembali bermunculan di depan matanya di zaman ini. Jisoo melesatkan pelukan suka cita terhadap wanita itu. Sekarang ia benar-benar percaya, bahwa kehidupan ini adalah miliknya.

"Taehyung, ini Seulgi! Temanku dulu."

Taehyung yang melihat binar bahagia sang istri, mencurahkan elusan di punggung wanita itu seraya mengangguk. "Iya, Jisoo. Aku senang kau mengingatnya."

Tentu saja. Selain kepada ketiga temannya, Seulgi jugalah salah satu kepercayaan Jisoo untuk mencurahkan risalah hati. Bahkan Jisoo sudah menganggap gadis tersebut seperti kakak perempuannya sendiri. Mana mungkin Jisoo bisa lupa.

"Nona Muda, aku memiliki sesuatu untukmu."

Mendengar perkataan Seulgi, alis Jisoo berkerut. "Sesuatu?"

Seulgi merogoh sesuatu di sebalik celemek pelayan yang ia gunakan. Mengeluarkan sebuah buku berukuran sedang bersampul coklat. Terlihat seperti benda usang yang sudah lama, namun dalam kondisi yang cukup baik. "Sebelum Bibi Park meninggal, beliau menitipkan ini untuk diberikan padamu. Katanya, ini adalah milik ayah anda, dan kau yang paling berhak menyimpannya."

Tangan Jisoo terulur untuk meraih dan mengambil buku yang Seulgi berikan. Merinci buku itu sekali lagi, dan membuka kaitan yang ada di sampul untuk melihat halaman pertama.

Putri Kecil Kesayanganku.

Itulah yang dapat Jisoo baca di sana. Serta di bawah narasi singkat itu juga terdapat selembar foto lama yang menempel. Foto Jisoo saat berusia empat atau lima tahun menggunakan hanbok hijau—kalau tidak salah saat merayakan chueseok, dimana saat itu ia masih berambut pendek dan memiliki wajah yang terlihat sangat polos.

Ternyata yang diserahkan Seulgi, sekaligus benda pusaka yang gadis itu simpan bertahun-tahun adalah buku catatan harian milik ayahnya. Jisoo tersenyum kecil, tidak begitu menyangka ayahnya akan memiliki buku seperti ini. Bahkan saat melihat dan membalik halaman, Jisoo melihat setiap bait memenuhi jendela buku.

Ayahnya sungguh romantis. Bahkan di penggalan yang dapat Jisoo baca, buku ini menceritakan tentangnya. Masa kecilnya, remajanya, bahkan Jisoo tersenyum getir saat melihat foto pernikahannya dan Taehyung yang terdapat di halaman tengah menuju akhir buku.

Forever YoungCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang